22 Februari 2024

Dimensi.id-Kebijakan pembebasan narapidana (NAPI) yang mendapatkan asimilasi karena pandemi virus corona beberapa pekan lalu, semakin nampak akibatnya. Pasalnya, banyak napi asimilasi yang berulah lagi. Namun, Menkum HAM Yasonna Laoly menilai tidak sepatutnya masyarakat menyalahkan napi asimilasi yang berulah karena memang kondisi ekonomi yang sedang lesu atau sulit. Menkum HAM menambahkan keadaan ekonomi yang sulit alaminya akan menimbulkan dampak kepada kejahatan.

“Ingat dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini, pasti ada dampak kepada kejahatan, tapi jangan kambinghitamkan semua pada napi asimilasi. Hitung saja presentasi Antara yang keluar dan yang mengulangi kembali” ujar Menkum HAM Yasonna Laoly.

Penjaminan hidup rakyat termasuk dalam hal ekonomi yang gagal wajar terjadi dalam kepemimpinan kapitalis atau kapitalisme. Sistem kapitalisme memandang tidak wajib memenuhi kebutuhan rakyat, rakyat hanya bagian dari “pelegalan” hukum atau aturan yang mereka buat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, selain itu tidak berada dalam ranah tanggungjawab mereka. Pemimpin di dalamnya hanya bersifat sebagai regulator atau pembuat hukum karenanya masyarakat didorong bahkan ditutut hidup mandiri.

Alhasil, masyarakat yang memiliki kemampuan yang berbeda – beda apalagi dikondisi pandemi ini, tidak semua mampu memenuhi kebutuhannya, meskipun hanya untuk sesuap nasi. Jika tindak kejahatan yang dilakukan karena memang sudah tidak memiliki pilihan lagi. Kerja apa yang dilakukan saat area dibatasi dan warga takut untuk keluar rumah? Ditambah bantuan yang tidak sepenuhnya merata.

Pemimpin dalam negeri harus benar – benar menyadari bahwa mereka adalah pengurus hidup segala urusan rakyat. Mereka yang bertanggungjawab penuh atas keberlangsungan hidup rakyatnya. Pemimpin dalam negeri harus mencampakkan sistem Kapitalis atau Kapitalisme yang memandang pemimpin hanya sebatas pembuat regulasi seperti gambaran di atas.

Sistem Kapitalis atau Kapitalisme tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang tulus mencintai rakyatnya karena rusaknya asas yang dimilikinya. Sistem Kapitalisme memandang bahwa hidup untuk bahagia, bahagianya adalah mendatangkan manfaat. Jadi wajar jika mengurusi rakyat dipandang tidak akan menghasilkan manfaat, tidak akan pernah mereka lakukan.

Oleh karena itu, hendaknya Pemimpin dalam negeri khususnya yang mengaku beragama Islam, harus kembali kepada tujuan hidupnya yakni beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman dalam surat adz Dzariyat ayat 56 yang artinya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Darinya ia akan menyadari bahwa jabatan atau kepemimpinan yang dimilikinya adalah amanah dari Allah. Ia juga akan menyadari bahwa segala sesuatu yang Ia lakukan atas kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Namun sayang, Pemimpin yang memiliki karakter tersebut memang akan sulit dan mustahil akan ada di dalam sistem Kapitalis atau Kapitalisme yang berasaskan manfaat. Pemimpin yang memiliki karakter tersebut akan lahir dari sistem yang benar yang akan membentuknya menjadi Pemimpin seperti itu. Jika sistem Kapitalisme telah gagal dalam membentuknya, begitu juga dengan Pemimpin yang lahir dari sistem Sosialisme-Komunisme, maka hanya sistem Islam jawaban satu – satunya. Sistem Islam yang berasakan akidah Islam yang diterapkan dalam institusi Khilafah Islamiyyah akan membentuk orang – orang di dalamnya termasuk Pemimpin yang takut kepada Allah.

Sebagaimana kisah Khalifah (Pemimpin Khilafah) Umar bin Khattab yang begitu takut ketika melihat rakyatnya kelaparan. Suatu hari Ia melihat ada anak – anak yang menangis sedang Ibunya memasak sesuatu di dalam kualinya. Lantas Umar bertanya kepada wanita tersebut apa yang terjadi kepada anak – anaknya dan apa yang sedang Ia masak. Wanita tersebut menjawab bahwa anak – anaknya kelaparan dan Ia hanya bisa memasak air untuk menghiburnya.

Melihat kondisi tersebut, segera Umar pergi untuk mengambil gandum dan memasakannya untuk wanita tersebut dan anak – anaknya. Umar melakukannya sendiri karena Ia sadar betul bahwa hal tersebut adalah tanggungjawabnya, maka jika tidak dilakukannya sendiri, bagaimana Ia akan menjawab pertanyaan Allah atas kepememimpinannya kelak? Masyaa Allah. Begitulah gambaran Pemimpin dalam sistem Islam yang diterapkan dalam institusi Khilafah dimana sangat kontras dengan Pemimpin hari ini yang memakai sistem selain sistem Islam. Wallahu a’lam.

Penulis : Dwi Arum (Mahasiswa dan Aktivis Dakwah Islam Kaffah)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.