20 Februari 2024
Depresi
69 / 100

Dimensi.id-Beberapa waktu lalu seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) tewas jatuh dari lantai 11 hotel di Jalan Colombo, Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman, Sabtu (8/10/2022).

Korban diduga tewas bunuh diri akibat depresi setelah ditemukannya surat keterangan psikolog dari rumah sakit mengenai kondisi korban.

Kapolsek Bulaksumur, Kompol Sumanto mengatakan ditemukan tas milik korban mahasiswa berinisial TSR (18) dan mendapatkan data bahwa korban adalah mahasiswa Fisipol UGM.

Di dalam tas korban ditemukan satu surat keterangan psikolog dari rumah sakit, saat ini masih didalami polisi terkait surat tersebut.

Dari fakta tersebut bisa kita simpulkan bahwa masalah kesehatan mental tidak hanya berpengaruh pada orang dewasa tetapi juga menjadi ancaman bagi anak-anak dan remaja.

Psikolog Anak RS Charitas Palembang, Devi Delia, M.Psi., Psikolog menjelaskan, kondisi depresi merupakan suatu kondisi serius yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan juga perilaku individu secara negatif.

Jika pada situasi normal, kesedihan seseorang bisa dikatakan hanya sementara, namun pada kondisi depresi, kesedihan yang dialami seseorang bersifat persisten dan menetap, pada akhirnya dapat mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari individu tersebut.

Jika ditelusuri  penyebab hal ini  mereka itu terpengaruh oleh situasi di keluarganya yang tidak harmonis, pernah mendapatkan kekerasan, pelecehan, boleh jadi karena sebab fisik, kekurangan gizi, faktor lingkungan, stigma atau label negatif yang tidak benar di masyarakat, dan lainnya.

Sistem kehidupan sekuler dan kapitalis yang memengaruhi kondisi manusia saat ini. Bukan hanya menggerus keimanan muslim, tetapi juga menjauhkan muslim dari aturan Islam dan mendekatkan dengan permasalahan yang berkepanjangan. Salah satunya masalah yang kerap terjadi pada masyarakat ialah gangguan kejiwaan atau disebut juga dengan mental illness.

Mental illness terjadi ketika berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan menjadi beban pikiran seseorang. Beban tersebut tidak bisa diurai kemudian bertumpuk dan menjadi masalah bagi jiwa dan mental.

Sebagian besar masyarakat saat ini tidak merasa aman, faktor kemiskinan, tubuh yang sakit, kelaparan, ketidakharmonisan dalam rumah tangga, trauma pengasuhan masa kecil, kehilangan orang yang dicintai dan banyak lagi lainnya.

Inilah mengapa agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan manusia. Agama adalah fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Firman Allah Taala, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS Al-Ra’ad: 28)

Pemahaman agama dapat membantu manusia untuk mengobati jiwa dan mencegah dari ganguan kejiwaan. Rasul saw. juga mengingatkan kita, “Tidak ada salahnya seseorang memiliki kekayaan asalkan dia tetap bertakwa. Akan tetapi, bagi orang yang bertakwa, kesehatan lebih baik daripada kekayaan. Selain itu, hati yang bahagia (thibin nafs) adalah bagian dari (kenikmatan) surga.”

Menjaga Kesehatan Mental

Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah ideologi rusak dan merusak saat ini? Banyak hal yang harus kita lakukan, di antaranya:

1. Senantiasa mengukuhkan iman.

Keimanan dan keyakinan yang akan menjadikan kita senantiasa optimis dalam kehidupan, punya harapan besar, bersabar dalam menghadapi musibah dan rintangan serta tak mudah menyerah kepada keadaan. Terus berupaya dan berusaha keras ketika menghadapi berbagai rintangan, yakin bahwa Allah akan selalu bersamanya, menolongnya, serta memberikan jalan keluar terbaik ketika menghadapi masalah apa pun.

 2. Selalu bersyukur atas segala nikmat.

Jika kita perhatikan, kurang bersyukur bisa menjadi salah satu penyebab memburuknya kesehatan mental . Sikap membandingkan diri dengan orang lain merupakan salah satu tanda kurang bersyukur. Membandingkan soal rezeki, kepandaian, pekerjaan dll. Kita memang perlu mawas dengan kekurangan diri, tetapi bukan urusan dunia, juga jangan sampai lupa bersyukur.

Sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain membuat hidup terasa selalu kurang. Akhirnya menjadi tekanan pada pikiran dan berujung stres dan depresi, inilah yang mengakibatkan memburuknya kesehatan mental.

3. Senantisa mengingat Allah.

Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa orang yang senantiasa mengingat Allah, maka hatinya akan tenang dan tenteram. Firman Allah yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS ar-Rad: 28)

4. Mempemperbanyak amalan sunah.

Hendaknya selalu meningkatkan takarub kepada Allah, di antaranya dengan memperbanyak amalan sunah dan amal kebaikan lainnya.

Selanjutnya kita barengi juga dengan memperbanyak sedekah dan berzikir kepada Allah serta menahan diri dari berbagai hal-hal yang mengundang amarah. Hal penting lainnya yang harus kita lakukan adalah banyak berdoa kepada Allah agar Allah berkenan memberikan kesehatan, kemudahan, kelapangan, dan kelancaran serta keberkahan bagi kita dalam menjalankan semua amal kebaikan.

5. Bergaul dan berkumpul dengan orang-orang saleh.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar pertemanan yang baik berpengaruh baik pada kesehatan mental maupun fisik seseorang. Sebaliknya, pertemanan yang buruk berpengaruh buruk pula pada kondisi mental dan fisik.

Dalam Islam, seorang muslim diperintahkan untuk menjaga pertemanan dengan baik, tentu saja bukan dengan sembarang orang. Bukan juga sembarang pertemanan yang bisa membuat tertawa, tetapi pertemanan yang menguatkan ketakwaan.

Teman yang bertakwa bukan sekadar menciptakan suasana bahagia, tetapi juga menciptakan energi positif untuk selalu giat beribadah, beramal saleh, dan berdakwah.

Penulis : Eka Sefti

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.