22 Februari 2024

Dimensi.id-Sudah dua bulan negeri kita menghadapi penyebaran wabah Corona atau Covid-19. Tak hanya negeri ini, tapi hampir di belahan dunia sedang menghadapi hal sama.  Penyebaran virus Corona yang semula berasal dari wilayah Wuhan-China, telah membuat kita semua menghadapi wabah ini. Sehingga goncangan ekonomi tak terelakan lagi harus dihadapi semua negera yang mengalami wabah ini, termasuk Indonesia.

Sebelum datangnya wabah ini, kondisi ekonomi rakyat Indonesia sudah merosot. Adanya penyebaran wabah ini, kondisi rakyat semakin tercekik. Karena efek dari penyebaran virus ini, mengharuskan kita untuk tidak banyak berinteraksi dengan orang dan beraktivitas di luar. Sehingga mengharuskan kita berada di rumah saja, agar penyebarannya bisa terputus.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, penambahan orang miskin di Indonesia diprediksi sekitar 3,78 juta orang akan naik hingga 5,2 juta orang. Penambahan jumlah kemiskinan ini tidak lain efek dari wabah membawa pada adanya kemiskinan baru yang terjadi di tengah masyarakat. (www.tirto.id)

Karena tak bisa dipungkiri, semenjak adanya aturan Pembatasan Sosial (sosial distancing), sampai sekarang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak masyarakat yang tak lagi mendapatkan penghasilan. Karena mereka terpaksa tidak bekerja demi menghindari penyebaran wabah ini. Sehingga hal ini berdampak pada kondisi ekonomi mereka.

Seperti di Kabupaten Bandung sendiri, menurut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Nina Setiana, warga miskin baru di Kabupaten Bandung sekitar 4.000-6.000 KK per Desa. (www.pikiran-rakyat.com

Bertambahnya kemiskinan saat pandemi menunjukkan ketidaksiapan negara dalam menghadapi kondisi kritis seperti saat ini. Hal ini bisa kita lihat dari kebijakan-kebijakan yang terkesan ‘plin-plan’ dan tidak bersinergi antara pusat dan daerah. Saat daerah sudah bertindak cepat, tapi pusat lebih terlihat lambat dalam menentukan kebijakan yang akan diambilnya.

Alasannya, karena untuk menyelamatkan perekonomian. Tapi, sayang penyelamatan ekonomi ini bukan penyelamatan ekonomi yang menyentuh pada masyarakat. Seperti penyiapan kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat selama pandemi ini. Pemerintah malah sibuk dengan program kartu pra kerja, yang isinya pelatihan-pelatihan online yang sebenarnya bisa diakses rakyat secara gratis di situs-situs internet.

Pemerintah lebih rela menggelontorkan dana sebesar RP. 5,6 Triliun untuk pelatihan online ini, dibanding digunakan untuk memberikan bantuan langsung kepada rakyat yang lebih membutuhkan kebutuhan pokok daripada pelatihan-pelatihan. Karena itulah sejatinya yang saat ini dibutuhkan rakyat bukan pelatihan-pelatihan. Karena adanya wabah  mengharuskan mereka meninggalkan pekerjaan sehingga penghasilan mereka hilang, dan ini berdampak pada pemenuhan kebutuhan pokok mereka terhambat.

Polemik saat pandemi ini, sejatinya menyadarkan kita akan kegagalan secara sistemik yang terjadi di negeri ini dan negeri-negeri lainnya. Pasalnya mereka yang ada dalam kekuasaan, hanya lebih mementingkan para cukong-cukong dibandingkan dengan kepentingan rakyatnya. Seperti yang dilakukan oleh salah satu pejabat negeri ini, saat seorang kepala daerah memutuskan untuk melarang pengoperasian KRL, demi memutus penyebaran Covid -19 ini, tapi justru ia menentang hal ini. Ketika ditanya apa alasannya menolak, jawaban yang ia utarakan menunjukkan hanya untuk kepentingan pribadi dan segilintir orang, bukan untuk kepentingan umum.

Hal ini wajar terjadi, karena penerapan sistem kapitalisme yang diemban negeri ini hanya akan mementingkan mereka para pemilik modal dibanding rakyatnya. Rakyat dijadikan sapi perah dan tumbal mereka.

Islam dalam Menghadapi Pandemi

 Islam sebagai rahmat bagi alam dan seisinya, telah Allah berikan untuk kita sebagai pedoman hidup dan solusi untuk setiap permasalahan. Islam datang untuk menuntun kita agar mampu menghadapi setiap permasalahan, termasuk di dalamnya masalah wabah yang saat ini melanda hampir di seluruh dunia.

Islam mewajibkan Negara, yang di dalamnya merupakan tugas seorang pemimpin sebagai pusat kekuasaan untuk mengurusi setiap urusan dan kebutuhan rakyatnya. Bagaimana aturan Islam dalam mengurusi setiap urusan rakyat? Hal ini dapat kita lihat dari penerapan yang dilakukan oleh para khalifah pengganti kepemimpinan Rasulullah dalam urusan umat.

Sebagai contohnya, kepimpinan Khalifah Umar bin Khaththab ra, yang memberikan contoh nyata bagaimana  seorang pemimpin mengurusi rakyatnya, terlebih saat pandemi atau musibah melanda. Banyak kisah yang menggambarkan kepada kita bagaimana Umar bertindak cepat dan tepat dalam menangani pandemi yang melanda negaranya saat itu.

Tepatnya pada bulan Rabiul Awwal tahun kedelapan hijriyah. Saat sang Amirul Mukminin itu berencana melakukan kunjungan  ke Syam. Namun sebelum memasuki Syam, beliau bertemu dengan Gubernur Syam Abu Ubaidah yang menginformasikan kepada beliau, bahwa di Syam tengah dilanda sebuah wabah penyakit. Sempat terjadi perdebatan apakah beliau melanjutkan kunjungan ini atau mengurungkan dan kembali ke Madinah. Tapi akhirinya Umar memilih kembali ke Madinah dan mengurungkan kunjungannya ke Syam.

Hal ini beliau lakukan karena tak lain kesesuaian dengan sabda Rasulullah SAW, “Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.”

Wabah di Syam dapat mereda setelah Amr bin Ash yang menjabat sebagai Gubernur Syam menggantikan Abu Ubaidah yang meninggal karena wabah ini. Amr bin Ash melakukan isolasi, orang yang sakit dan sehat dipisahkan. Melarang orang berinteraksi satu sama lain agar penyebaran wabah ini terhenti. Sehingga perlahan-lahan wabah ini hilang.

Selain itu, Umar juga menunjukkan kepada kita bagaimana seorang pemimpin ketika rakyatnya mengalami kesulitan akibat pandemi atau musibah melanda. Sebagai pemimpin beliau mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengatasi kesulitan rakyatnya. Salah satunya beliau menyurati para pemimpin daerah yang tidak dilanda wabah untuk mengirimkan bantuan untuk wilayah yang sedang mengalami wabah dan sedang di isolasi.

Semua ini ada dalam pengawasan dan kontrol beliau sebagai pemimpin pusat yang harus memastikan kebutuhan pokok ini dapat sampai pada rakyatnya tanpa memandang apakah dia kaya atau miskin. Karena saat wabah melanda semuanya akan terkena dampaknya. Bahkan untuk memastikan pemenuhan kebutuhan ini sampai pada rakyat, Umar sering terjun lansung dalam mengantarkan kebutuhan ini. Beliau tidak hanya berkoar-koar dalam pidato, tapi terjun langsung ke tengah masyarakat untuk memastikan kebutuhan rakyatnya terpenuhi.

Tak hanya dalam menentukan kebijakan yang lebih mementingkan rakyat, beliau juga memberi contoh bagaimana sikap seorang pemimpin saat rakyatnya dilanda kesulitan. Saat kekeringan melanda Madinah dan sekitarnya, sehingga kelaparan terjadi di mana-mana. Beliau memutuskan untuk tidak memakan makanan yang enak dan lezat, tetapi beliau hanya akan memakan roti kering saja dan minyak samin. Makanan yang dikonsumsi oleh rakyatnya yang kelaparan pada saat itu.

Beliau tidak mau memakan makanan yang enak, sedangkan rakyatnya hanya memakan roti kering dan minyak samin itu. Bahkan Umar pernah marah besar karena ada seseorang yang membawakan hati unta sembelihan untuknya. Umar bertanya apakah rakyatku memakan ini, jawaban orang itu rakyatnya tidak memakan ini, karena ini khusus untuk Umar. Mendengar hal ini Umar marah dan meminta makanan itu dibawa kembali dan meminta orang itu untuk membagikan kepada rakyat.

Begitu indah dan mulianya sosok Umar bin Khaththab dalam menjalankan kepemimpinannya. Hal ini, tak lepas dari Islam yang menjadi tuntunan hidup diterapkan saat itu. aturan Islam telah melahirkan sosok pemimpin yang mencintai rakyatnya seperti Umar.

Sungguh, kita pasti mendambakan pemimpin Umar. Terlebih saat kondisi seperti saat ini, kita membutuhkan pemimpin yang menjadi pelindung bagi rakyatnya. Namun, hal ini hanya akan terwujud ketika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai sebuah Negara. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat lakukan. Wallahu’alam bi ash showab.

Penulis : Sri Nurhayati, S.Pd.I (Pengisi Keputrian SMAT Krida Nusantara)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.