22 Februari 2024

Penulis : Ita Mumtaz

Melalui akun resmi twitternya, Jokowi menyerukan agar masyarakat bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan.

Istana kemudian segera memberi penjelasan. “Artinya jangan kita menyerah. Hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin. (Kompas.com, 8/5/2020)

Dari pernyataan yang ada, bisa disimpulkan jika presiden Jokowi nampak putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tidak lama setelah mengumumkan perang melawan virus, akhirnya memilih menyerah pasrah untuk berdamai.

Satu yang bisa disimpulkan, bahwa jalan yang dipilihnya adalah membiarkan rakyat sebagai tameng kemanusiaan. Berdamai dengan virus artinya membiarkan rakyat mandiri memenuhi kebutuhan hidup dalam kondisi nyawa terancam. Sementara tidak ada upaya serius untuk memobilisasi tes massal, pelacakan kontak dan fasilitas isolasi serta pengobatan terhadap mereka yang terinfeksi.

Meski ada penjelasan menarik dari pejabat tentang makna berdamai yang dimaksud Pak Presiden, publik tetap bisa menilai bahwa beliau teramat jauh dari sikap bijaksana dan cenderung plin-plan.

Pejabat pemerintah pun mengambil langkah senada. Menko Maritim Luhut Panjaitan berharap pada hari raya tempat hiburan seperti Ancol sudah dapat dibuka. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyarankan adanya pelonggaran aturan mudik lebaran. Menhub Budi Karya Sumadi mengumumkan pelonggaran berbagai moda transportasi publik. Pengumuman itu diartikan warga bisa menggunakan transportasi publik untuk mudik.

Meski pengumuman itu segera diluruskan oleh Kepala Gugus Tugas Covid-19, Doni Monardo dan staf anggota KSP Donny Gahrial Adian, bahwa mudik tetap dilarang.

Drama pejabat berjudul abai, gagap dan plin-plan telah dipertontonkan kepada jutaan rakyat Indonesia yang telah lama menanti uluran tangan serta kebijakan terbaik demi kemaslahatan umat.

Tapi nampaknya bukan kepentingan rakyat yang menjadi fokus perhatian penguasa di saat seperti ini. Sebab kepentingan ekonomi segelintir elit kapitalis telah berperan besar menaikkan penguasa ke panggung kekuasaan. Sekarang giliran mereka menunggu balas jasa rezim.

Dalam kapalitalisme, nafsu kerakusan para pemilik modal akan mengalahkan misi kemanusiaan. Nurani pemimpin pun turut tergilas roda-roda penghambaan kepada para kapital. Oleh karenanya, beroperasinya mesin-mesin industri serta berpacunya sektor perbankan dan bursa efek adalah hal terpenting yang harus dihidupkan demi menyelamatkan ekonomi Kapitalisme.

Beginilah fenomena kepemimpinan dalam ideologi Kapitalisme yang saat ini tengah menjadi landasan negara ini. Selalu ada kolaborasi antara penguasa dan pengusaha. Rakyat menjadi tumbal kekuasaan, hanya dibutuhkan suaranya demi melegitimasi kepemimpinan.

Layaknya Penggembala

Sangat jauh berbeda dengan paradigma kepemimpinan dalam Islam. Pemimpin dalam Islam layaknya penggembala bagi rakyat. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah dalam haditsnya.

“Imam (kepala negara) itu laksana penggembala, dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya.” (HR Al Bukhari)

Seorang penggembala layak bertanggung jawab agar hewan-hewan yang digembalakan terurus dengan baik. Mendapatkan cukup makan dan minum serta terjaga dari serangan binatang buas.

Tak bisa dibayangkan ada seorang penggembala yang abai terhadap hewan-hewan gembalaannya. Bahkan membiarkannya menjadi sasaran terkaman buasnya nafsu serakah kapitalisme. Entah bagaimana cara dia mempertanggungjawabkan amanahnya kelak pada pengadilan hakiki, di hadapan Sang Maha Raja.

Sungguh, kepemimpinan dalam Islam adalah konsep pemeliharaan urusan rakyat yang tidak hanya berdimensi dunia, tetapi juga akhirat. Seorang penguasa wajib tunduk kepada syariat Islam, bukan malah bertekuk lutut di bawah kapitalis. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.