22 April 2024
Koalisi partai-partai

Koalisi partai-partai

76 / 100

Dimensi.id-Koalisi antar partai, membuat poros kekuatan besar agar bisa terus berjaya dalam puncak kekuasaan. Beberapa partai berkoalisi agar bisa menenangkan perebutan kekuasaan dalam pesta demokrasi yang menghamburkan uang rakyat, tapi hasilnya bukan rakyat yang menikmati tapi elit politik yang berbagi kue kekuasaan. Tidak perduli meskipun mereka berbeda pandangan bahkan bertentangan dengan idealisme partai, koalisi harus tetap dibangun untuk kemenangan kursi kekuasaan.

Lalu untuk siapa Koalisi itu dilakukan?

Benarkah kepentingan rakyat atau demi keutuhan negeri ini yang dijadikan pertimbangan utama untuk diperjuangkan. Mereka semangat membangaun citra, karena itulah politik dalam pandangan mereka, bukan untuk mengurusi rakyat. Ketika kekuasaan sudah diraihnya, urusan rakyat tidak lagi dianggap penting. Menduduki kursi kekuasaan dijadikan tujuan dan kepentingan kelompoknya lebih diutamakan.

Tidak ada teman sejati yang ada kepengtingan abadi menyatukan partai meskipun mereka memiliki pandangan yang bersebrangan. Bagaimana mungkin partai dengan ideologi yang bersebrangan bisa disatukan dalam satu koalisi. Ambisi untuk berkuasa yang mendorong mereka untuk berkoalisi. Tawar menawar posisi jabatan yang bisa didapat saat kemenangan bisa diraihnya. Demi rakyat dan keutuhan negeri ini menjadi lips service yang sering terucap tapi tidak untuk diperjuangan agar terwujud dalam kenyataan.

Money Politik

Rakyat cerdas tidak akan tertipu dengan money politik yang tidak seberapa dibanding nasib mereka lima tahun kedepan yang tidak jelas ditangan orang-orang culas yang hanya berfikir bagi-bagi kue kekuasaan. Berfikir pragmatia, meninggalkan idealisme yang harusnya diperjuangkan saat diberi amanah untuk berkuasa. Tapi itulah demokrasi yang berfikir hanya nilai manfaat sesaat dengan mengorbankan kebenaran hakiki. Berfikir manfaat apa yang bisa sidapat dalam koalisi untuk memenamgkan pesta demokrasi, yang ujung-ujung bagi-bagi kue kekuasaan.

Tanpa mempertahankan warna dan idealisme partai hanya akan menghasilkan koalisi rapuh. Kekuasaan sebagai tujuan utama, sehingga saat tujuan tercapai, bagi-bagi kue kekuasaan. Padahal demi rakyat dan keutuhan negeri sering terucap saat melakukan koalisi. Faktanya, mereka tahu sendiri semua itu hanya lips service yang tidak pernah terbukti.

Bagaimana bisa seorang pemimpin berfikir untuk rakyat dan negeri ini kalau dia tidak punya prinsip dan idealisme, tapi dia hanya petugas partai yang bekerja untuk partai yang mengusungnya. Rakyat tidak lagi dianggap penting padahal mereka yang sudah mengantarkan mereka untuk menggapai kursi kekuasaan. Itulah demokrasi menghasilkan para pemimpin yang pandai pencitraan untuk membungkus kebusukan yang mereka lakukan.

Tertipu Slogan Demokrasi

Jangan tertipu slogan demokrasi yang melakukan koalisi demi rekyat, dan demi keutuhan negeri karena semua itu hanya lips service yang tidak terbukti. Jangan pula tergiur oleh tebaran janji-janji manis yang ingin memperoleh simpati, padahal semua itu hanyalah pencitraan. Masihkah kita pertahankan sistem yang mendorong para elit politik menggunakan cara-cara kotor, tipu daya dan pencitraan hanya untuk melampiaskan hasrat mereka untuk terus berkuasa.

Baca Juga : Kedaulatan Milik Rakyat, Ide Utopis dalam Sistem Demokrasi

Sungguh berbeda para pemimpin dalam sistem Islam yang memiliki kesadaran yang tinggi untuk menggapai ridho Allah dalam setiap aktifitas politiknya. Pemimpin amanah yang berpihak pada rakyat sebagai tujuan politiknya. Kalaupun mau berkoalisi adalah untuk tujuan yang mulia membangun ukhuwah Islamiyah. Berkoalisi dalam satu warna untuk membela agama Allah yang lurus dan mulia. Berkoalisi agar kuat dalam memperjuangkan kejayaan Islam untuk mewujudkan Rahmat bagi seluruh alam.

Rakyat hidup aman dan sejahtera karena kehidupan Islami terwujud dalam kehidupan nyata. Bukan adzab yang pedih untuk suatu negeri, karena ajaran Islam ditinggalkan dan bahkan dikriminalkan. Bangga dengan aturan kesepakatan elit politik yang mengatasnamakan rakyat, padahal bukan untuk kepentingan rakyat. Tinggalkan demokrasi dan kembali pada Penerapan Islam secara kaffah dalam sistem khilafah agar perubahan hakiki ke arah yang lebih baik bisa terwujud untuk seluruh rakyat dan keutuhan negeri ini.

Penulis : Mochamad Efendi

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.