20 Februari 2024

Dimensi.id-Api kebencian terhadap Islam rupanya tak pernah padam, terus menyerang bahkan di tengah pandemi global. Ide mereka pun rasanya tak ada matinya, lagi dan lagi selalu mendiskreditkan umat Islam dalam berbagai situasi dan moment.

Dalam wabah Corona yang menyerang dunia,muslim dituduh sebagai sumber sebaran wabah Corona di India. Seruan itu menyeruak dan turut menciptakan gelombang Islamofobia, setelah kelompok jamaah tablig menggelar acara di ibu kota India, Delhi.

Jamaah Tablig merupakan kelompok Islam puritan yang lahir di India dan menyebar luas ke berbagai negara, termasuk di Indonesia. Di Pakistan, sebanyak 20.000 anggota Jemaah Tablig dikarantina paksa. Lebih dari 600 anggota dinyatakan positif mengidap corona. (detik.com, 13/4/2020).

Sejak pertemuan akbar itu, gelombang Islamofobia sempat menyergap India. Beragam tagar turut mewarnai perundungan yang mengarah pada gelombang Islamofobia. Diantaranya tagar #CoronaJihad, #BioJihad, atau #MuslimMeaningTerrorist yang digunakan untuk menyebar teori konspirasi bahwa umat Islam sengaja menggunakan virus corona sebagai senjata melawan India. Sebuah kuil sikh dikabarkan menghimbau warganya lewat pengeras suara agar tidak membeli susu dari petani muslim, lantaran sudah terapar virus Corona.

Apa yang dilakukan kaum ekstremis nonmuslim sungguh tak manusiawi. Saat dunia berupaya melawan virus corona, mereka justru memanfaatkannya untuk menggelorakan kembali kebencian terhadap kaum muslim. Saat semua orang berlomba mencari obat dan vaksin untuk mengatasi wabah, mereka sibuk menebar Islamofobia.

Coronafobia telah menjangkiti kaum pembenci Islam. Saking takutnya dari virus tak terlihat ini, mereka berasumsi liar. Padahal virus ini bermula dari pola hidup abnormal yang memakan sebarang hewan. Lalu mereka menuding kerumunan ibadah di masjid dan bulan Ramadhan. Memang selalu muncul kasus-kasus Islamophobia yang dilakukan oleh kelompok yang terorganisir, bahkan menjadi bahan kampanye para politisi.

Ini menjadi bukti kerusakan masyarakat sekuler dan kegagalan sistem kehidupan kapitalisnya, menciptakan integrasi atau keharmonisan masyarakat. Kapitalis adalah sistem yang menjadikan kedaulatan ditangan rakyat, melalui sistem perwakilannya pada faktanya dalam sistem kapitalis baik dalam segala aspek bukanlah menomor satukan rakyat, tapi orang-orang yang memiliki modal lah, yang pandai melakukan pencitraan, juga para pendosa dari kalangan kafirin  pembenci Islam yang menjadi penguasa dalam segala aspek. Itulah sebabnya dalam kehidupan, mereka selalu menyerang Islam.

Islamofobia adalah penyakit lama kaum pembenci Islam. Segala strategi dilakukan hanya untuk menyematkan Islam sebagai sumber masalah. Beraneka cara dibuat untuk membusukkan Islam dan kaum muslim. Termasuk dalam.kasus Corona ini, mereka para pembenci Islam menjadikan bawah ini sebagai salah satu senjata untuk menyerang Islam. Sayangnya, cara mereka gagal. Islam, makin diserang, makin diperhatikan. Islam, makin dicitraburukkan, makin mendapat tempat di hati umat.

Di kala pandemi, Allah justru menunjukkan buruknya sistem kehidupan yang dipimpin kapitalisme. Apa yang menimpa muslim di Amerika, Inggris, dan India merupakan bukti sekularisme gagal memberi keharmonisan di masyarakat.

Masih saja ada golongan Islamofobia, ekstremis kanan, dan para pendukungnya yang serampangan beropini tanpa nalar sehat. Produksi massal Islamofobia sejak peristiwa 9/11 silam masih saja mendarah daging dalam pemikiran mereka.

Dicekoki dengan beragam isu yang menghantarkan ketakutan berlebihan pada Islam. Entah dengan isu radikal, fundamental, teroris, khilafah, dan istilah syariat lainnya.

Maka dari itu, hendaknya setiap muslim perkuat iman untuk menghalau wabah Islamofobia. Perkuat pula imun untuk bertahan di tengah wabah global covid-19. Semoga Allah hilangkan kedua wabah ini dari muka bumi.

Berganti dengan fajar kehidupan baru yang akan tiba tidak lama lagi. Yaitu fajar kemenangan Islam dengan tegaknya Khilafah.

Wallaahu a’lam bishshowaab.[ia]

Penulis : Rina Tresna Sari, S.Pd.I (Pendidik Generasi Khoiru Ummah dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.