22 Februari 2024

Dimensi.id-#stayathome adalah salah satu tagar yang trending belakangan ini. Bukan tanpa sebab #stayathome ini menjadi trending, pasalnya virus covid-19 yang semakin mengganas di berbagai belahan dunia dan hal ini sungguh mengkhawatirkan. Anjuran untuk #stayathome ini diberlakukan guna untuk memutuskan mata rantai penyebaran covid-19.

Tak terkecuali di Indonesia, terhitung sudah ribuan jiwa yang terinfeksi virus mematikan ini. Tak sedikit korban yang merenggang nyawa karenanya, dan ada beberapa diantaranya berhasil sembuh. Meski begitu angka kematian akibat virus covid-19 lebih mendominasi. Kesedihan ada dimana-mana, ketakutan meraja, rasa was-was terhadap setiap orang pun meninggi, kemudian terlahirlah perasaan panik ditengah-tengah masyarakat.

Perasaan panik ini pun memunculkan beragam respon atau tindakkan dari masyarakat. Dari panik bullying hingga yang baru-baru ini menjadi viral yaitu jenazah pasien covid-19 yang ditolak oleh masyarakat setempat untuk dimakamkan di wilayah mereka. Padahal, korban adalah masyarakat dari daerah tersebut.

Kurangnya sosialisasi yang didapatkan oleh masyarakat adalah salah satu sebab pemicu perilaku penolakan ini. Masyarakat dihantui perasaan ketakutan dan kekhawatiran berlebih, namun sayangnya tidak mendapatkan penjelasan apapun, sehingga mengambil tindakan sendiri yang menurut mereka benar. Disinilah peran negara menjadi penting.

Sebuah negara bukanlah hanya merupakan sebuah wadah atau wilayah luas dan di atasnya terdapat sekumpulan orang dengan menduduki posisi sebagai rakyat dan penguasa, memiliki teritorial, SDA (sumber daya alam), dan lain-lain. Tetapi, sebuah negara adalah sebuah bingkai yang akan mencerminkan kekuatan dari negara tersebut. Bagaimana para penguasa yang duduk di kursi kepemimpinan menjalankan roda pemerintahan dan memimpin rakyatnya. Dan apakah rakyat yang hidup di dalam negara tersebut dalam keadaan sejahtera? Atau malah sebaliknya? Wajah negara tersebut akan terbentuk dengan berjalannya roda pemerintahan.

Di Indonesia sendiri, covid-19 telah berhasil membuka topeng dari wajah Indonesia itu sendiri. Dimana negara yang digadang-gadang memiliki kekayaan alam -tambang batu bara, tambang emas, tambang nikel, minyak bumi, gas, kekayaan bawah laut, tanah yang subur, rempah-rempah, dll-. Tetapi sayangnya, Indonesia tidak mampu melakukan lockdown dengan alasan akan mengganggu perekonomian, Kompas.com (02/04/2020). Masuk akal? Sama sekali tidak. Karena, pada kenyataannya diberlakukannya lockdown ataupun tidak perekonomian akan tegap terganggu.

Ditambah saat ini Indonesia mendapatkan bonus demografi, dimana usia produktif saat ini lebih mendominasi. Maka, seharusnya inovasi dan kreativitas dalam membuat kemajuan dalam setiap lini kehidupan akan lebih baik dn berkembang. Tetapi sayangnya, para pemilik usia produktif ini tidak dibina untuk menjadi seorang pemimpin tetapi seorang pekerja. Dimana, mereka ini disiapkan untuk menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan besar.

Sekilas memang terdengar menakjubkan, tetapi, dengan adanya MEA yang mempermudah investor asing untuk menanam dan membangun kerajaan bisnisnya di Indonesia, membuat para pemuda usia produktif ini memiliki lebih banyak pesaing. Dan didukung dengan binaan pekerja, maka para pemuda usi produktif Indonesia akan berpikir sebatas mencari pekerjaan bukan menciptkan lapangan pekerjaan. Sehruanya negara mampu menciptakan penerus generasi bermental pemimpin bukan bermental pekerja.

Badai Covid-19 yang kian hari semakin mengkhawatirkan pun memperparah keadaan. Dimana terlihat betapa bergantung nya dan todak berdayanya Indonesia saat ini. Meski jumlah pasien sembuh telah melebihi angka kematian, namun mata rantai virus ini belumlah habis. Selama lingkaran rantai ini masih membelenggu tubuh Indonesia, maka situasi saat ini akan tetp bertahan, bahkan memungkinkan bertambah buruk.

Dimana dapat terlihat dari nilai tukar rupiah yang semakin meroket, harga jual barang yang menjadi mahal, para napi dibebaskan dan membuat ulah kembali, koruptor kelas kakap dibebaskan, janji yang tidak terpenuhi, dll. Bahkan yang berada di garda terdepan dalam penanganan badai Covid-19 adalah para dokter dan perawat, bukanya pemerintah. Bahkan pemerintah seolah berlepas tangan dalam hal ini dan membiarkan para tenaga medis menghadapi badai ini sendiri.

Badai Covid-19 belumlah usai. Perjalanan untuk menemukan pintu keluar dari badai ini akan sangat memakan waktu yang panjang jika, tidak ada tindakkan tegas dari pemerintah pusat. Lockdown daerah yang dilakukan para gubernur adalah usaha sia-sia jika, tidak mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Solusi tuntas atas permasalahan wabah ini tidak akan ada, jika para penguasa negeri ini tidak kompak dalam pengambilan kebijakan.

Kematian adalah mutlak bagi tiap-tiap yang nernyawa,Allah Swt.,berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).

Namun bukan berarti kita berdiam diri dan melihat satu persatu orang tumbang hingga wabah ini berakhir. Seharusnya sebagai seorang muslim kita paham dengan qadha Allah Swt., bahwasanya wabah ini merupakan ketetapan Allah Swt., dan kita sebagai hamba-Nya yang beriman haruslah sabar dan ikhlas menghadapi ujian ini.

Namun, sabar bukanlah berarti pasrah, namun sabar dalah hal ini adalah tetap melakukan upaya-upaya yang mampu menghapuskan wabah ini. Adanya kaidah kausalitas (sebab-akibat) juga harus menjadi sebuah pemahaman. Bahwasanya wabah ini disebabkan oleh sesuatu dan dapat disebutkan oleh sesuatu pula. Maka, kita sebagai hamba Allah Swt., yang berimana tidaklah pantas berputus asa terhadap Rahmat-Nya.

Bukankah Ekuador dapat memberikan kita pelajaran penting? Bukankah Italia pun telah memperlihatkan kita pelajaran penting? Bahkan dalam pidatonya presiden Ghana Akufo Addo mengatakan, “Kami tahu bagaimana kembali hidupkan perekonomian, yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan kembali orang meninggal”.

Demikian, yang dibutuhkan rakyat Indonesia saat ini adalah ketegasan pemimpin negeri ini dalam mengambil kebijakan yang tepat. Solusi tuntas atas adalah kebutuhan negeri ini.

Timbulnya berbagai masalah lain saat ini adalah buah dari salah langkah pemerintah dalam menetapkan kebijakan. Dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan adalah buah dari sistem yang ada saat ini. Dan sistem saat ini adalah buah dari ideologi rusak yang sedang mencengkram kuat Indonesia, yakni kapitalisme.

Maka, dalam penuntasan atas segala permasalahan yang adalah penuntasan dari akar. Layaknya sebuah pohon tidak akan mati ketika hanya menebang sebahagianya saja, tetapi pohon akan benar-benar mati dan berhenti tumbuh ketika akat pohon tersebut dicabut.[ia]

Penulis : Siti Hartinah Ode, SH. (The Voice of Muslimah Papua Barat)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.