10 Desember 2023
60 / 100

Kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan. ” (HR. Ibnu Majah)

Kesehatan tubuh merupakan suatu nikmat yang besar. Meski jarang disadari, jika nikmat sehat dicabut atau hilang maka manusia akan kesulitan karena aktivitasnya terbatas bahkan sampai tidak bisa melakukan apapun. Itulah mengapa setiap kita harus memperhatikan kesehatan diri dan keluarga, ditambah masyarakat juga negara.

59 Tahun Hari Kesehatan Nasional 

Setiap tanggal 12 November bangsa Indonesia memperingati hari kesehatan nasional. Awalnya hari kesehatan ini diselenggarakan pada tahun 1964 dalam rangka merayakan keberhasilan Indonesia memberantas wabah malaria. Kini, sudah 59 Tahun Hari Kesehatan diperingati, tahun ini pemerintah mengusung tema, “Jadi Momentum Transformasi Kesehatan untuk Indonesia Maju.”

Tentu nikmat sehat harus kita jaga. Berbekal modal kesehatan, maka kita bisa optimal untuk mengejar cita, termasuk cita-cita negara menjadi Indonesia maju. Jika benar-benar serius ingin mewujudkan Indonesia maju maka negara harus mewujudkan SDM yang berkualitas.

Salah satunya adalah dengan menjaga kualitas kesehatan masyarakat. Berdasarkan standar WHO, setiap 1.000 penduduk disediakan satu orang dokter, maka Indonesia membutuhkan setidaknya 275.000 dokter dengan asumsi jumlah penduduk saat ini sekitar 275 juta jiwa. Faktanya, menurut data Kementerian Kesehatan yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2022, jumlah dokter di Indonesia mencapai 176.110 orang.

Ini berarti jumlah dokter di Indonesia masih kurang memadai apalagi jika kita melihat kondisi di daerah bahkan pedalaman. Tenaga medis dokter sangat sedikit dijumpai. Wajar jika jumlah dokter sulit bertambah mencapai standar WHO, seperti yang diketahui oleh umum bahwa biaya pendidikan kedokteran sangat mahal. Tidak menjangkau masyarakat secara keseluruhan. Sebagian besar yang menikmati bangku pendidikan kesehatan adalah mereka yang mumpuni kecerdasannya dan bisa membayar biaya pendidikan yang sampai ratusan juta itu.

Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki dua kemampuan tersebut? Bukankah harusnya semua orang bisa memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan? Ini seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Evaluasi Layanan Kesehatan Indonesia

Dengan mengusung tema Indonesia maju, maka langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah mengevaluasi layanan kesehatan negeri ini. Salah satu bagiannya adalah BPJS. Sebagaimana yang kita saksikan saat ini betapa pelayanan BPJS sangat acak kadut.

Kacamata bisnis dipakai dalam pelayanan BPJS kesehatan. Pelayanan yang diberikan akan sesuai dengan dana yang dibayarkan oleh masyarakat. Bahkan, seringkali pelayanan yang diberikan minimalis dan ala kadarnya. Inilah potret buram kapitalisme yang memakai kacamata bisnis bahkan saat melayani kesehatan rakyatnya. Profit oriented menjadi pegangan setiap kebijakan.

Apalah cita transformasi kesehatan untuk Indonesia Maju jika layanan kesehatan rakyat saja masih belum layak dan sulit dijangkau?

Jika negara benar-benar ingin melakukan transformasi kesehatan, maka sudah seharusnya bertujuan untuk menyelesaikan problem dasar kesehatan rakyat. Yakni terjaminnya kesehatan rakyat oleh negara. Baik itu infrastruktur yang memadai, layanan kesehatan gratis atau terjangkau, dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat sehingga takkan muncul masalah Stunting juga gizi buruk di tengah masyarakat.

Di zaman modern seperti ini, digitalisasi kesehatan memang penting tapi tidak segenting permasalahan di atas yang menempatkan nyawa dan kualitas generasi sebagai resikonya. Belum lagi masih banyak rakyat yang tidak bisa mengakses kesehatan secara digital seperti masyarakat pelosok atau masyarakat kota yang terbatas peralatan digitalnya. Tentunya lebih urgent pelayanan di puskesmas, klinik, atau rumah sakit yang jaraknya mudah dijangkau dari rumah rakyat dibandingkan konsultasi Online dengan dokter.

Inilah wajah penerapan kesehatan dalam sistem kapitalisme. Bagi mereka profit dan citra di hadapan yang lain lebih penting daripada menuntaskan problem dasar rakyat. Wajar jika sudah 59 Tahun diperingati tapi angka Stunting dan gizi buruk masih terus meningkat. Wajar juga jika jumlah dokter sulit bertambah.

Layanan Kesehatan dalam Islam

Islam diturunkan oleh Allah swt sebagai sistem kehidupan. Islam pernah diterapkan sebagai sistem kehidupan selama 13 abad sejak masa Rasul hingga runtuhnya Daulah Utsmani di Turki pada tahun 1924. Selama itu, Islam menerapkan layanan kesehatan sesuai syariat yang diturunkan oleh Allah.

Dalam Islam, Allah mewajibkan negara untuk menjamin pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, juga keamanan, pendidikan dan kesehatan setiap rakyatnya. Negara wajib memenuhinya tanpa kompensasi atau premi. Kesehatan menjadi salah satu kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi oleh negara.

Ada lima prinsip jaminan kesehatan dalam Islam. Pertama, negara wajib menjamin kesehatan rakyat. Dengan kata lain, negara bertanggungjawab memenuhi  kebutuhan kesehatan setiap rakyatnya tanpa biaya atau premi.

Kedua, Islam mengakui kesehatan sebagai kebutuhan pokok yang wajib diberikan pada rakyat. Maka, layanan yang diberikan oleh negara harus premium dan optimal. Ketiga, negara wajib memberikan pelayanan, ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang terjaminnya kesehatan rakyat. Termasuk gaji yang memadai bagi setiap tenaga kesehatan.

Layanan kesehatan ini harus sama baik di kota atau di pelosok desa. Rakyat harus dipermudah dalam mengakses pelayanan kesehatan ini tanpa terhalang kondisi geografis, jarak tempat pelayanan kesehatan, bebas biaya dan pelayanan kesehatan ini mengikuti kebutuhan medis rakyat dan selalu tersedia.

Keempat, semua pembiayaan sektor kesehatan bersumber dari pos-pos pendapatan negara, seperti hasil pengelolaan sumber daya alam, harta ganimah, fai, kharaj, jizyah, ‘usyur, dan pengelolaan harta milik negara lainnya.

Kelima, kendali mutu sistem kesehatan berpedoman pada tiga strategi, yakni administrasi yang sederhana, segera dalam pelaksanaan, dan dilaksanakan oleh individu yang kapabel.

Inilah komprehensifnya islam memberikan solusi bagi permasalahan kesehatan. Bukan hanya sekedar seremonial atau slogan belaka. Sejarah pun mencatat kegemilangan penerapannya termasuk dalam dunia kesehatan. Seperti kita ketahui, Qanun fi at tib yang dikarang oleh Ibnu Sina sampai saat ini masih dipakai oleh dunia kedokteran internasional dan disimpan oleh Barat.

Jika betul-betul ingin bertransformasi menjadi negeri yang maju, bukankah sudah saatnya kita kembali pada aturan yang akan memajukan juga memuliakan kita? Islam sebagai sistem kehidupan.

 

Wallahua’lam bish shawab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.