28 Januari 2023

Dimensi.id-Baru juga tersiar kabar membina rumah tangga, Venna Melinda melaporkan suaminya, Ferry Irawan, ke polisi atas kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Asal muasal kekerasan itu dari cekcok keduanya di sebuah kamar hotel di kota Kediri, Jawa Timur.

Dan, berita yang berhari-hari muncul di beranda Google , tersangka pembunuhan dengan mutilasi, M Ecky Listiantho, yang ternyata korbannya adalah mantan aktifis WALHI. Terbongkarnya kasus tersebut dari jejak digital cuitan aktivis lingkungan hidup dan mantan Direktur Eksekutif Walhi Indonesia, Chalid Muhammad pada 16 November 2019 yang berbunyi, “Kawan kami mantan aktivis walhi dinyatakan hilang oleh keluarga sejak juni 2019. Bantu sebar ya, siapa tau ada yg pernah melihat atau mengetahui. #saveanggel #oranghilang,”.

Polda Metro Jaya telah menyatakan wanita korban mutilasi di Bekasi bernama Angela Hindriati Wahyuningsih. Dia dibunuh pada November 2021. Diduga kuat karena persoalan asmara, hal ini sesuai pengakuan tersangka M Ecky Listiantho saat diperiksa polisi. Korban dibunuh dengan cara dicekik saat keduanya bertengkar pada November 2021. Dua minggu setelah dibunuh, tersangka memutilasi tubuh korban menggunakan gergaji listrik. Potongan tubu korban dimasukkan ke dalam dua kontainer plastik.

Tak berhenti di situ, seorang anak perempuan di kota Binjai, berusia 12 tahun hamil 8 bulan diduga akibat kekerasan seksual, dia “ beruntung” dikunjungi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga. Menteri PPPA pun mendorong pihak Pemerintah Daerah untuk memastikan pemenuhan hak atas pendidikan korban. Pasalnya, tidak hanya diusir oleh warga desa tempat ia tinggal di Kabupaten Langkat, korban pun dikeluarkan dari sekolah setelah diketahui hamil.

Perempuan dan Anak Rentan Tak Aman di Sistem Kapitalis Demokrasi

Peristiwa di atas tentu saja hanya mewakili dari sekian ribu kasus yang terjadi dan belum terungkap. Apalagi terselesaikan secara adil. Namun satu dari banyaknya peristiwa itu menunjukkan adanya ancaman bahaya pada perempuan, dan anak termasuk anak perempuan. Bahkan perbuatan yang sangat keji pun menimpa anak perempuan. Rasa aman belum bisa dinikmati 100 % meski transportasi sudah ada yang khusus perempuan, gedung perkantoran dilengkapi ruang memberi ASI, keterisian wakil rakyat di parlemen sudah lebih dari 30%.

Pun organisasi keamanan dunia, PBB telah memiliki badan sendiri yang fokus pada perempuan, UN women dan angka kekerasan kepada perempuan dan anak perempuan setiap tahunnya semakin bertambah. Hal itu menunjukkan mandulnya sistem hukum yang ada, yang tak mampu memunculkan efek pencegah tindak kejahatan. Hal ini bisa dipahami karena regulasi yang ada lahir dari pemikiran manusia yang lemah. Ditambah lagi dengan rusaknya kepribadian manusia akibat penerapan sistem sekuler.

Sekuler artinya menghilangkan peran agama dalam memutuskan perkara manusia. Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam, namun faktanya Islam tak pernah dijadikan pedoman, justru ketika ada sekelompok orang yang peduli kepada bangsa dan negara ini dengan menawarkan kembali kepada syari’at, sistem pengaturan dari Allah dilabeli teroris, garis keras. Walhasil, kerusakan demi kerusakan terjadi. Dan sangat vital jika kemudian perempuan dan anak perempuan yang menjadi korban.

Demokrasi sebagai sistem politik yang diadopsi hari ini kian memperparah keadaan, dengan jargon dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, samasekali tidak menyentuh akar persoalan mengapa kekerasan terus terjadi. Pemimpin yang dipilih tak bisa diharapkan, ketika tampuk kekuasaan sudah di tangan mereka, mereka lupa dengan janji saat kampanye. Mereka secara praktis adalah penerus sistem dan aturan pemimpin sebelumnya.

Biaya politik yang tinggi turut memutilasi peran pemimpin dengan politik balas budi, sudah menjadi rahasia umum jika para pemimpin baru telah mengantongi sejumlah kesepakatam “ balik modal” baik dengan kebijakan yang mempermudah akses para pengusaha mendapatkan keuntungannya lagi.

Setiap lima tahun sekali otomatis, rakyat terus menelan ludah pahit, karena perhatian pemimpin kian jauh. Dalam kapitalisme perempuan dan anak perempuan sama dengan laki-laki yaitu harus berdaya ekonomi, pendidikan tinggi harus selalu dikaitkan dengan pekerjaan yang bagus dan gaji yang tinggi. Ketika perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga maka seolah tak ada value.

Islam Meninggikan dan Memuliakan Perempuan

Perempuan dan anak hanya akan aman dalam naungan syariat Islam, yang memiliki aturan yang menyeluruh yang mampu menimbulkan efek jera dan juga mekanisme terbaik karena berasal dari Dzat Yang Menciptakan manusia. Dengan seperangkat aturan yang diwajibkan kepada perempuan, mulai dari menutup aurat, izin wali atau suami, larangan menjadi penguasa, hingga mendapatkan waris setengah bagian dari laki-laki bukan berarti perempuan adalah bagian subordinat dari pria.

Namun justru menjadikan perempuan aman, sesuai dengan penciptaan yang dimaksudkan. Yaitu menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, dimana tanggung jawab lahirnya generasi cemerlang ada padanya. Dengan dukungan suami, keluarga, masyarakat dan negara. Seumur hidupnya perempuan tidak diwajibkan mencari nafkah. Bila suami, wali atau kerabatnya tak lagi sanggup memberinya nafkah maka kewajiban beralih kepada negara. Negara hadir sebagai pengurus rakyat, mempermudah rakyat untuk beribadah, sehingga kebutuhan pokok rakyat seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan rakyat samasekali tidak terbebani, melainkan ada di tangan negara.

Rasulullah bersabda ,”Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Hadits tersebut menyatakan bahwa kaum Muslim (manusia) berserikat dalam air, padang rumput, dan api. Dan bahwa ketiganya tidak boleh dimiliki oleh individu. Dari sinilah negara memiliki wewenang untuk mengatur dan mengelola kemudian mengembalikannya kepada rakyat dalam bentuk jaminan secara total terhadap enam kebutuhan pokok rakyat di atas. Rakyat sejahtera, maka tingkat kriminalitas akan lenyap. Ini akan menjadi ilusi jika kaum Muslim belum menyadari pentingnya kembali kepada Islam Kaffah. Wallahu a’lam bish showab. [DMS].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.