29 Januari 2023

Dimensi.id-Saat kebenaran datang menghampiri hidup manusia sesuai dengan fitrohnya, memuaskan akal dan menentramkan hati apakah manusia langsung bisa menerima dengan sepenuh hati. Tidak selamanya kebenaran hakiki disambut dengan penuh suka cita, karena sering kebenaran tidak sesuai dengan keinginan hati. Bahkan tidak jarang perlu keberanian dengan resiko kehilangan nikmat dunia untuk membuat keputusan besar menerima kebenaran hakiki yang datang dari Yang Maha Benar.

Bukan kekuasaan ataupun jabatan tinggi hingga seseorang berani menerima kebenaran dan menolak kemungkaran. Bukan pula kekayaan yang melimpah sehingga seseorang berani untuk memutuskan yang benar. Bukan pula gelar pendidikan tinggi, Professor ataupun Doktor membuat seseorang berani membuat keputusan yang benar sesuai dengan keyakinannya. Sering banyak pertimbangan karena takut kehilangan nikmat dunia, seseorang membuat alasan pembenar atas keputusan yang salah yang berlawanan dengan apa yang diyakini benar.

Saat kebenaran Islam datang kepada seorang penguasa Romawi, raja Heraklius yang memiliki kekuasaan yang luar biasa saat itu, apakah dia langsung bisa memutuskan untuk menerima kebenaran Islam dengan kekuasaannya. Ternyata tidak semudah itu, meskipun dia mengetahui bahwa Islam itu benar namun dia tidak mampu menerimanya dengan kekuasaannya. Malah, dia merasa takut kehilangan kekuasaannya.

Dia lupa bahwa kekuasan yang dia dapatkan dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan sewaktu-waktu Kekuasaan itu bisa dicabut dan bahkan dia bisa terjatuh dalam kehinaan karena tidak mau menerima kebenaran hakiki. Meskipun mengetahui kebenaran Islam, tapi dia tidak mempunyai keberanian untuk memeluk Islam bahkan sampai pada akhir hayatnya. Ternyata kekuasaan dan jabatan tinggi tidak membuat seseorang berani untuk memutuskan sesuatu yang benar. Dengan kekuasaannya, harusnya seseorang mampu untuk membela kebenaran, tapi itu tidak dilakukan karena ketakutan kehilangan nikmat dunia yang semu dan menipu.

Berbeda dengan raja Najasyi penguasa negeri Habasyah yang tidak pernah menzalimi seorang pun yang ada di bawah kekuasaannya, dan dia mampu menyambut kebenaran Islam tanpa takut kehilangan pengaruhnya, karena dia menyadari bahwa kekuasan hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa dan sewaktu-waktu bisa diambilnya kembali.

Jadi tidak ada beban baginya untuk menerima kebenaran yang bersumber dari keyakinannya. Apalagi kekuasaan di dunia ada waktunya pasti berakhir dan dengan kehidupan akhirat yang tergantung dari keberanian kita dalam menyambut kebenaran dari Sang Pencipta hidup, alam semesta dan manusia

Karun yang memiliki harta melimpah ternyata juga tidak memiliki keberanian untuk menerima kebenaran Islam. Rezeki melimpah tidak membuat seseorang punya keberanian untuk menyambut kebenaran. Padahal, pada hakekatnya kita tidak memiliki apa-apa, kecuali apa yang sudah ditetapkan sebagai rezeki kita oleh Yang Maha Pemberi Rezeki.

Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberi rezeki pada siapa saja yang dikehendaki. Ternyata harta melimpah tidak selamanya baik bagi kita jika semua itu malah menjauhkan diri kita dari petunjukNya. Dari kisah Karun, ternyata memiliki harta melimpah tidak membuat dia memiliki keberanian untuk menerima kebenaran. Sifat tamak malah membuat kita jauh dari kebenaran. Dan sungguh rugi, apa yang kita punya tidak mampu mendekatkan diri pada Yang Maha Pemberi Rezeki.

Seorang Professor ataupun Doktor yang memiliki pendidikan tinggi yang harusnya mampu menemukan kebenaran hakiki, tapi tidak selamanya memiliki keberanian untuk meyambutnya dengan suka cita saat kebenaran hakiki menghampiri hidupnya. Tidak jarang , mencari alasan untuk menolak berislam kaffah meskipun jelas itu adalah perintah Allah. Aneh, jika seorang muslim yang mampu berfikir cerdas karena memiliki pendidikan tinggi menolak diatur dengan Islam secara kaffah.

Memang tidak selamanya kebenaran bisa diterima oleh kebanyakan orang yang ada disekitar kita, dan bahkan memegang teguh kebenaran cahaya Islam, diibaratkan memegang bara api yang panas, jika kita melepasnya cahayanya akan padam, namun tidak semua orang mampu memegangnya kecuali orang yang ikhlas karena ingin mencari ridho Allah.

Kita juga bisa belajar dari kisah burung pipit yang hidup pada zaman nabi Ibrahim. Burung pipit yang tidak memiliki akal seperti manusia saja memiliki keberanian untuk berpihak pada kebenaran meskipun dia menyadari tidak memiliki kemampuan untuk menyelematkan nabi Ibrahim dari kobaran Api. Dia punya keberanian dan tekad yang kuat untuk membela yang benar.

Tidak perduli paruh kecilnya hanya bisa membawa tetesan air yang tidak mungkin menurut akal manusia bisa memadamkan api yang sudah berkobar membesar. Tapi usaha maksimal dan keinginan kuat untuk membela yang benar adalah sesuatu yang harus diapresiasi dan bisa dicontoh. Keputusan yang diikuti dengan usaha maksimal dalam membela kebenaran yang datang pada hidup kita itulah yang terpenting, bukan hasil. Meskipun punya segalanya untuk membela kebenaran, tapi jika tidak mempunyai keberanian untuk apa segala kemampuan yang melekat pada diri kita.

Kekuasaan, jabatan, uang dan kecerdasan tidak ada gunanya, jika semuanya hanya membuat kita takut melangkah di jalan lurus. Meskipun menjadi raja dengan kekuasaannya yang luar biasa, untuk apa jika tidak memiliki keberanian untuk membela yang benar. Untuk apa kekayaan yang melimpah ruah, jika dalam hatinya selalu dihinggapi rasa was-was dan ketakutan kehilangan semuanya, padahal semua itu hanya titipan dan pasti akan diambil kembali oleh Pemiliknya, Ar-Razak, Yang Maha Pemberi Rezeki.

Lebih baik jadi orang biasa, tapi berani berpihak pada yang benar. Berani menyampaikan kebenaran yang bersumber dari keyakinan yang lurus dan mulia, adalah nikmat tertinggi dalam hidup yang harus terus kita jaga.

Sungguh menyenangkan jika hati dan pemikiran mampu menyatu dalam satu gerak dan langkah untuk menggapai ridho Allah. Menjalani hidup sesuai dengan syariatNya adalah orang-orang yang telah diberi nikmat di dunia, terlebih nanti di akhirat yang akan segera menjadi fakta yang harus kita jalani setelah dunia yang fana ini menjadi cerita.

Penulis : Mochamad Efendi

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.