29 Januari 2023
Kepemimpinan Islam

Dimensi.id-Pemimpin dengan kesederhanaannya terbukti disukai banyak orang, bukan yang bergaya hidup mewah. Kesederhanaan identik dengan pemimpin yang amanah dan perduli untuk mengurusi urusan rakyatnya. Tapi sayang jika semua yang ditampakkan adalah pencitraan karena berharap dapat suara dari rakyat untuk mendapatkan kursi kekuasaan.

Tidak disangka saat kekuasaan dalam genggaman, baru nampak wajah aslinya yang tega dengan rakyatnya. Kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat dan ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat. Gaya hidup sederhana terbukti hanya pencitraan, karena nampak setelah menjabat keluarganya nampak bergaya hidup mewah dengan barang-barang branded dengan harga fantastis yang tidak mungkin terjangkau oleh rakyat biasa

Dulu sederhana dengan outfit dapat terjangkau rakyat biasa. Suka blusukan dan makan dipinggir jalan, jajanan rakyat kebanyakan. Itulah kesan yang dimunculkan sebelum menjadi orang nomor satu di negeri yang rakyatnya menyukai pemimpin dengan kesederhanaannya. Pemimpin yang merakyat dengan harapan mampu memahami keinginan rakyatnya dan membela kepentingan mereka. Ternyata, semua itu hanya pencitraan, baru ketahuan setelah menjabat dan berkuasa.

Kebaikan yang ditampakan ternyata pencitraan, ingin terlihat baik dihadapan manusia, bukan dari keinginan hati dan keyakinan untuk melakukan kebaikan untuk menggapai ridho Allah SWT. Begitu mudahnya berubah saat tujuannya tercapai, baru nampak wajah aslinya yang ternyata raja tega, pembohong dan suka mendedam pada siapa saja yang pernah menyakiti hatinya. Dengan kekuasaannya, dia bisa berbuat apa saja, mengkriminalkan orang yang dibenci, menangkap dan memenjarakan tanpa proses hukum, bahkan bila pelu membunuhnya.

Sebuah gambaran pemimpin dalam sistem demokrasi yang suka mengumbar janji politik yang palsu, tidak untuk ditepati tapi hanya ingin mendapatkan simpati. Rakyat tertipu dengan gaya kepemimpinan yang nampak merakyat tapi semua itu hanya untuk mengelabui rakyat. Sifat rakus dan tamak terlihat setelah menjabat. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang sering disebut KKN menjadi gaya kepemimpinannya yang hanya menguntungkan keluarga dan kelompoknya saja.

Kita sungguh rindu kepemimpinan dalam Islam. Pemimpin yang jujur apa adanya, tidak suka melakukan pencitraan. Pemimpin yang mau mengurusi rakyatnya, bukan yang menyengsarakan mereka. Pemimpin amanah yang takut kepada Allah SWT dengan kesadaran hubungan dengan Nya. Pemimpin ideal yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh mereka. Tentunya, pemimpin ideal seperti ini hanya ada dalam sistem Islam.

Baca Juga : Ibu Pertiwi Masih Bersusah Hati

Pemimpin yang tidak pernah menginginkan dan meminta jabatan. Seperti apa yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, saat beliau diumumkan menjadi khalifah. Semua orang senang kecuali Umar sendiri. “Umar naik mimbar lantas berkata, ‘Wahai manusia, Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.

Sesungguhnya jabatan ini diberikan tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dan saya tidak pernah memintanya.”Umar bin Abdul Aziz meminta rakyat untuk memilih khalifah terbaik versi mereka. Namun, kecakapan dan keadilan Umar bin Abzul Aziz membuat umat Islam yang ada di masjid menolak untuk mencabut baiat. Umar kemudian duduk dan menangis, “alangkah besarnya ujian Allah kepadaku.”

Alkisah, di era kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz Khalifah Dinasti Umayyah mengutus seorang petugas pengumpul zakat, Yahya bin Said untuk memungut zakat ke Afrika. ‘’Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun,’’ ujar Yahya.

Pada era itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan. Semua rakyatnya hidup berkecukupan. ‘’Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya,’’ kisah Yahya bin Said. Kemakmuran umat, ketika itu, tak hanya terjadi di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah kekuasaan Islam, seperti Irak dan Basrah.

Gambaran seorang pemimpin dalam sistem Islam seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang memiliki berbagai karakter mulia yang membuatnya layak menjadi pimpinan pilihan. Ia orang yang wara’, sederhana, egaliter, tawadhu, telaten dan sabar, adil, dan yang terpenting pembela kaum dhuafa. Semua karakter yang dipunyai bukanlah pencitraan, hanya untuk kekuasaan.

Bahkan beliau tidak pernah menginginkan dan meminta kekuasaan itu, karena Rasullulah mengingatkan kita untuk tidak meminta jabatan jika kita ingin ditolong Allah selama kita menjabat. Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan karena permintaan maka tanggung jawabnya akan dibebankan kepadamu. Namun jika kamu diangkat tanpa permintaan, maka kamu akan diberi pertolongan.” (HR Muslim).

Kita juga mengenal sosok pemimpin dalam sistem Islam lainnya yang sangat perduli dengan rakyatnya. Seperti Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang tak sengaja bertemu dengan keluarga miskin yang memasak batu karena tak punya bahan makanan. Beliau bahkan tidak ragu untuk membawanya sendiri sekarung gandum, dan tidak mau dibantu karena takut kepada Allah SWT.

Belau melakukannya ikhlas, bukan karena ingin dapat pujian, semua dilakukan karena ingin menggapai ridho Nya. Sangat berbeda dengan pemimpin saat ini yang melakukan blusukan hanya karena pencitraan untuk mencari dukungan dalam meraih kursi kekuasaan. Semua kebaikan yang ditampakkan pemimpin dalam sistem demokrasi tidak tulus, tapi ingin dilihat manusia dan mendapatkan simpati dan pujuan dari mereka.

Sangat jelas pemimpin dalam sistem Islam sangat amanah dan mempunyai tujuan dalam berpolitik untuk mengurusi urusan umat sehingga segala daya upaya dilakukan untuk memberikan apa yang dibutuhkan umat. Tapi sangat berbeda pemimpin dalam sistem demokrasi yang berpolitik untuk menggapai kekuasaan. Segala cara dilakukan untuk mendapatkan tujuannya, termasuk jika harus berbohong, menebar janji manis dan melakukan pencitraan.

Rakyat ditinggalkan saat kekuasaan dalam genggaman. Lalu apakah kita masih bisa berharap dari pemimpin dalam sistem demokrasi. Tentunya tidak, kita harus memperjuangkan diterapkannya sistem Islam agar bisa terwujud pemimpin ideal seperti yang kita harapkan untuk membawa gerbong perubahan hakiki dengan Islam ke arah yang lebih baik[Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.