28 Januari 2023
Generasi Emas

Pendahuluan

Dimensi.id-Sejarah umat mana pun senantiasa dimulai oleh kondisi generasi mudanya. Umat yang memiliki generasi muda lemah semangat dan tidak terbiasa bekerja keras, hanya tinggal menunggu waktu kehancuran dan kerendahan derajat. Umat yang memiliki generasi muda yang penuh semangat dan cita-cita, pantang menyerah menghadapi godaan, cobaan, maupun ujian, sedikit demi sedikit akan bangkit dan meraih kepemimpinan dan kemuliaan hidup.

Dalam sejarah dakwah Islam, pemuda memegang peranan penting. Para nabi dan rasul yang diutus Allah untuk menyampaikan ajaran agama, terpilih dari kalangan pemuda yang rata-rata berusia sekitar 40 tahun. Ibnu Abbas ra. berkata, “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja. Begitu juga tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan (hanya) dari kalangan pemuda saja.”

Pada setiap masa, generasi muda adalah aset peradaban. Tidak terkecuali pada masa RI (revolusi industri) 4.0 saat ini. Posisi pemuda sekarang makin strategis karena dunia sedang mendapat bonus demografi. Berdasarkan Laporan Population Division of the United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA), jumlah pemuda menurut perkiraan PBB terbaru tentang populasi dunia pada 2019 adalah 1,2 miliar orang antara usia 15—24 tahun, atau sekitar satu dari setiap enam orang di seluruh dunia. Jumlah ini diproyeksikan akan tumbuh sebesar 7% menjadi 1,3 miliar pada 2030.

Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, persentase penduduk usia produktif terhadap total populasi pada 2020 adalah sebesar 70,72%, sedangkan persentase penduduk usia nonproduktif tercatat sebesar 29,28% pada 2020. Demikian besarnya persentase penduduk usia produktif, bahkan puncak bonus demografi diperkirakan akan maju pada 2030.

Baca Juga Ibu Pertiwi Masih Bersusah Hati

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemuda adalah agen perubahan. Agent of change (agen perubahan) merupakan sosok penting yang membantu suatu proses perubahan baik dalam suatu perusahaan, organisasi, institusi, maupun masyarakat. Secara umum, agent of change merupakan sosok yang menginisiasi suatu perubahan atau bertindak sebagai katalis untuk sebuah proses perubahan. Selain itu, sosok agent of change juga mampu memperbaiki situasi atau berperan dalam pencarian solusi di tengah suatu kesulitan.

Pemuda juga orang-orang yang idealnya memiliki fisik prima, tenaga kuat, serta daya pikir yang luas. Mereka punya peran sebagai iron stock, yakni aset, cadangan, harapan, dan generasi penerus bangsa di masa depan.  Semua faktor ini menempatkan pemuda pada posisi tawar yang kuat untuk menentukan arah perubahan suatu negara, bahkan dunia.

 

Pemuda Dalam Jeratan Skenario Kapitalisme Global

Sayangnya pemuda hari ini banyak yang tersesat dari potensi sejatinya. Tak dimungkiri, paradigma pembangunan sekuler kapitalisme telah menjauhkan pemuda dari posisi strategisnya sebagai motor peradaban. Ini tampak dari rencana pembangunan dan kebijakan, terutama yang menyangkut kepemudaan dan generasi, yang nyatanya hanya fokus pada target pemberdayaan dalam konteks hitung-hitungan ekonomi, minus pertimbangan ideologi. Pemuda dihadapkan pada berbagai tantangan yang sejatinya mendorong mereka semakin masuk dalam jeratan skenario kapitalisme global. Diantara tantangan-tantangan itu adalah

  1. Arus sekulerisasi yang semakin masif

    khususnya melalui kurikulum pendidikan. Dari arah pemikiran, proses sekularisasi pendidikan dan liberalisasi informasi telah membuka jalan bagi menguatnya nilai-nilai kebebasan, seperti HAM, pluralisme, feminisme, dan kesetaraan gender. Internalisasi nilai-nilai kebebasan mendorong sikap hedonis dan jauh dari ketaatan pada nilai-nilai agama. Hasilnya, merebaklah seks bebas, kekerasan seksual, kriminalitas, hingga penyalahgunaan narkoba. Nilai-nilai kebebasan juga melahirkan suasana batin yang penuh kegalauan hingga memicu problem kejiwaan di kalangan pemuda

  2. Suasana materialis hedonis

    yang kental di kalangan pemuda. Saat ini, pengoptimalan potensi pemuda diperkuat untuk perekonomian negara dan peningkatan partisipasi kerja pemuda. Pemerintah mendorong pemuda menjadi wirausaha dengan diiringi peningkatan kualitas pemuda lewat pendidikan dan pelatihan.

    Di sisi lain, kalangan muda juga mengharapkan bisa hidup kaya dan meraih gaji tinggi atau keuntungan finansial lainnya saat bekerja. Atmosfer kapitalistik memengaruhi kalangan muda untuk tetap berada dalam lingkaran target kapitalisme yang menjadikan mereka buruh. Sungguh, alangkah menyedihkan tatkala berbagai potensi generasi muda hanya dicurahkan untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah demi keuntungan korporasi, para kapitalis, dan oligarki.

  3. Menguatnya framing radikalisme dan kampanye moderasi beragama

    Moderasi beragama atau moderasi Islam ini pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah umat. Islam dinarasikan sesuai keinginan Barat. Ide ini menyerukan bahwa semua agama adalah sama, mengajak membangun Islam inklusif (bersifat terbuka), toleran terhadap ajaran agama lain, menyusupkan paham bahwa semua agama benar, serta menerima pluralisme, demokrasi, dan nilai Barat lainnya.

    Sekularisasi pendidikan melalui kurikulum yang menganut program moderasi beragama—pelan, tetapi pasti—telah membentuk paradigma berpikir yang salah di kalangan pemuda muslim terhadap agamanya sendiri. Mereka merasa asing dengan nilai-nilai Islam, sebaliknya memuji nilai-nilai Barat. Itulah yang terjadi sekarang. Para pemuda muslim tidak mampu membedakan siapa kawan dan siapa lawan. Penjajah Barat justru dianggap sebagai kawan dan panutan.

  4. Suasana berfikir apolitis yang menjadikan pemuda “alergi” dengan aktivitas politik(peduli umat).

    Para pemuda sengaja disibukkan dengan perkara-perkara dunia agar lupa tujuan hidup mereka yang sebenarnya sebagai seorang Muslim, yaitu peran mereka sebagai agen perubahan hakiki. Selain itu, melalui sistem pendidikan sekuler, paham dan ide kebebasan, pluralisme, moderasi, HAM, antiradikalisme terus disebarkan dan dibungkus begitu mempesona seolah menjadi hal yang perlu diperhatikan. Sistem kapitalisme-sekuler juga telah membutakan pemuda akan umat yang mendamba pemikiran kritis dari pemuda yang seharusnya berpihak pada umat.

  5. Serbuan informasi dan arus digitalisasi mentransformasi pemuda menjadi “robot pencetak uang”

    Bumi ini sedang berkembang ke arah digitalisasi dan berkonsentrasi pada dunia kerja (materi). Hal ini disebabkan oleh kepemimpinan dunia yang masih berlandaskan materialisme. Segala sesuatu dinilai baik apabila mendatangkan uang. Akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan remaja gen Z tidak ada semangat untuk menuntut ilmu.

    Boro-boro tergiur dengan pahala yang besar, terbayang dalam benak pun tidak. Ini karena, selama ini tujuan menuntut ilmu bukan mendapatkan pahala dan rida Allah, tetapi materi semata. Dengan demikian, saat ada profesi yang bisa menghasilkan materi berlimpah tanpa harus bersusah payah menuntut ilmu, itulah jalan yang mereka pilih. Jadilah mereka—dengan pendidikan seadanya—membuat konten YouTube yang unfaedah.

    Asal banyak yang menonton dan mendatangkan pundi-pundi uang, apa pun dilakukan. Lebih miris bila mereka pun menabrak rambu-rambu halal/haram. Apabila kondisi seperti ini dibiarkan, maka bonus demografi yang akan didapatkan hingga 2030 akan tersia-sia. Pada masa depan, kita akan kekurangan tenaga profesional yang sangat dibutuhkan masyarakat. Yang lebih berbahaya, hal ini menunjukkan potensi remaja muslim yang seharusnya menjadi pembangun peradaban emas telah dibajak menjadi sekadar korban dan objek para kapitalis.

Islam Mengarahkan Potensi Kepemimpinan Pemuda

Islam memandang pemuda muslim sebagai orang yang memikul tugas berat dan kewajiban besar terhadap diri, agama, dan umatnya. Suatu kewajiban yang akan menyingkap eksistensinya dan mengoptimalkan potensi dirinya. Syekh Al-Qaradhawi dalam Wajibu Syababul Muslimul Yaum (1988) menguraikan, ada empat amanah sebagai prioritas pemuda muslim bagi masa depan Islam, yakni (1) memahami Islam secara integral, (2) mengamalkan Islam, (3) mengajak orang lain berislam (berdakwah), dan (4) memiliki soliditas dan solidaritas.

Islam telah mengajarkan para pemuda untuk menundukkan tantangan hari ini, diantara solusi Islam itu adalah

  1. Untuk meluruskan kesesatan pemikiran akibat sekulerisme, pemuda harus dipahamkan tentang aqidah islam secara benar sekaligus paham bahwa Islam adalah ‘way of life”. Jika pemuda mampu memecahkan tiga pertanyaan mendasar dari mana manusia berasal, apa tujuan hidup di dunia, dan hendak kemana setelah kehidupan ini, niscaya tidak akan ada manusia yang berbuat dengan mengandalkan perasaan saja. Dan niscaya dalam berbuat mereka memiliki tujuan yang jelas dan pasti.Mereka pun akan menjadi sosok pemuda tangguh yang dapat menjadi pembangun peradaban. Mengapa? Sebab pemuda menjalani hidup dengan prinsip yang khas. Pemuda tidak akan mudah terombang-ambing menjalani hidup.
  2. Terkait hedonisme, Islam mengajarkan umatnya khususnya generasi pemuda untuk menguatkan identitas keIslaman pada dirinya,memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami, zuhud terhadap dunia dan menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada syariat Allah SWT. Terkisah Mush’ab bin ‘Umair sebelum masuk Islam, berasal dari keluarga yang terpandang di kota Makkah. Mush’ab bin Umair adalah seorang remaja yang tampan, biasa hidup parlente/mewah, dan menarik perhatian para gadis kota Makkah.Selain itu, ia memiliki kecerdasan yang luar biasa dan tutur kata yang sangat baik. Ketika berita tentang Rasulullah saw. menjadi buah bibir penduduk jazirah Arab, Mush’ab pun penasaran dengan ajaran yang dibawa Rasulullah hingga akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Sungguh, dari kisah Mush’ab bin Umair kita belajar bahwa gaya parlente produk pemahaman dari luar Islam tidak ada artinya jika dibandingkan perjuangan membela agama Allah. Oleh karena itu, pemuda muslim harus bangkit, kembali kepada jati diri hakiki selaku makhluk Allah yang mengemban misi dakwah dan amar makruf nahi mungkar di muka bumi.
  3. Paham moderasi beragama sudah sangat meresahkan umat Islam. Paham ini menjauhkan umat dari ajaran Islam kafah. Jika paham ini “mewabah” di kalangan pemuda, dampaknya sangat membahayakan. Oleh karena itu, para pemuda hendaknya melakukan beberapa hal.Pertama, menghunjamkan keimanan Islam pada dirinya. Islam adalah agama paripurna, mengatur segala perkara dunia dan akhirat, bukan sekadar spiritual. Tidak ada agama serta sistem kehidupan yang terbaik kecuali Islam. Allah Swt. berfirman, “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85).

    Kedua, para pemuda semestinya mengkaji Islam sebagai ideologi, bukan sekadar ilmu pengetahuan. Wajib bagi mereka terikat dengan syariat Islam. Pemuda muslim harus menilai baik-buruk, serta benar-salah berdasarkan ajaran Islam. Ketiga, senantiasa memiliki sikap yang berpihak pada Islam, bukan netral apalagi oportunis demi mendapatkan keuntungan duniawi. Mereka harus teguh pada Islam sebagai ideologinya. Keempat, para pemuda pun harus terlibat dalam dakwah menegakkan syariat dan Khilafah. Kemuliaan Islam hanya dapat terwujud dengan tegaknya Khilafah.

    Contohlah keteguhan para Pemuda Kahfi hingga mereka layak mendapat pertolongan dari Allah Swt. Dengan demikian, ikrar yang seharusnya para pemuda sampaikan ialah ikrar untuk teguh memegang ajaran Islam kafah, bukan berikrar menjalankan paham moderasi yang datangnya dari Barat. Pemuda harus memilih Islam sebagai ideologi dan meninggalkan paham moderasi, serta bangga menjadi duta Islam penegak Khilafah Islamiah.

  4. Pencerdasan politik remaja muslim hanya bisa terealisasi dalam pembinaan Islam yang intensif, baik oleh keluarga maupun jemaah dakwah. Tidak dengan sekali dua kali edukasi politik apalagi hanya menjelaskan cara memilih pemimpin saja. Dengan pembinaan politik Islam kepada remaja, maka mereka akan paham bagaimana seharusnya kehidupan masyarakat termasuk dirinya diurusi atau dipelihara oleh negara. Dan ketika remaja menemukan adanya ketidaksesuaian dengan Islam, remaja muslim pun akan berani bersuara menyampaikan pendapatnya.Baik kepada temannya yang tidak paham politik Islam maupun kepada para pemimpin yang tidak melaksanakan syariat Islam. Keberanian menyampaikan Islam yang haq adalah wujud dakwah remaja dan merupakan kewajiban dari Allah Swt. atas setiap mukalaf. Jika kepemimpinan politik Islam belum terwujud, remaja pun harus ikut serta memperjuangkannya bersama dengan jemaah dakwah yang tujuan aktivitasnya memang untuk merealisasikan kehidupan Islam bagi seluruh umat manusia.
  5. Islam mengatur bagaimana memanfaatkan teknologi & digitalisasi. Dengan mengenal alam dan mengembangkannya, termasuk perkembangan teknologi, Islam telah memberikan hak bagi manusia untuk terus bereksperimen dan menemukan sesuatu yang baru. Seluruh kemajuan itu akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, hak itu tidaklah bebas. Allah Swt. memberikan rambu-rambu syariat agar manusia tidak kebablasan.Allah Swt. menjelaskan bahwa kewajiban manusia di dunia adalah beribadah, bukan sekadar mencari kenikmatan materi. Allah Swt. berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Adzariyat: 56). Dari sini, dapat kita luruskan bahwa seharusnya sebagai muslim yang taat, kita tidak boleh sekadar mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Namun, kita perlu menyertakan syariat Allah Swt. dalam setiap lini kehidupan, termasuk ketika memanfaatkan teknologi digital. Bekerja dan memanfaatkan teknologinya boleh, tetapi harus sesuai dengan syariat Allah. Tidak boleh sekadar berpangku pada kepentingan ekonomi, melainkan harus mengedepankan rida Ilahi. Oleh karenanya, seyogianya tujuan pendidikan negeri ini tidak sebatas mencetak generasi siap kerja miskin agama, melainkan mencetak generasi kepribadian Islam (pola pikir dan sikap islami). Dengan begitu, ketika mereka lulus, di mana pun mereka bekerja, mereka akan selalu mengedepankan standar halal dan haram. Selain itu, mereka akan memberikan sumbangsihnya untuk umat, bukan untuk korporasi.

Khatimah

Jika tantangan generasi muda muslim mampu dihadapi insya Allah akan terwujud generasi pemimpin yang lahir dari suasana kehiduan Islami dan suasana pembinaan yang ideologis. Sebab karakter pemimpin tidak hadir dengan sendirinya. Orang tua dan keluarga harus berupaya membentuknya dengan pembinaan yang akan membentuk pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam. Generasi muslim akan berproses menumbuhkan mental pemimpin pada dirinya. Islam kafah harus dilakukan oleh keluarga muslim.

Termasuk penanaman visi kepada anak-anak mereka. Selanjutnya adalah keteladanan dari orang tua dan orang dewasa di sekitarnya. Ini karena kaum muda sekarang akan lebih paham ketika ia melihat dan menyaksikan sendiri seperti apa sosok pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab itu. Sosok yang peduli, empati, mengutamakan orang lain dan suka membantu sesama, hadir di tengah-tengah mereka.

Kepemimpinan pemuda juga akan terasah manakala mereka tergabung dalam aktivitas dakwah secara kolektif (dakwah jamaah). Pemuda terlibat aktif dalam dakwah melanjutkan kehidupan Islam. Caranya dengan mengkaji Islam secara intensif, memahami hukum-hukumnya, serta aktif menyerukan tegaknya syariah dalam Khilafah. Kaum muda hendaknya bergabung dalam barisan dakwah agar aktivitasnya terorganisir, terarah dan tepat sasaran. Di sini pun ia mampu melejitkan potensi dirinya, baik dari penguasaan tsaqaafah dan kepribadiannya.

Bergabungnya pemuda dalam partai politik ideologis merupakan pemenuhan kewajiban dari Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): Hendaklah (wajib) ada segolongan umat yang menyerukan kebaikan (Islam) serta memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran.  Mereka itulah orang-orang yang beruntung (TQS al-Imran [3] 104).

Kini, sudah saatnya kaum muda menyadari bahwa mereka adalah penyangga dan pembangun peradaban Islam yang mulia, memiliki tanggung jawab yang sama untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat menuju peradaban mulia, dengan berjuang menegakkan Khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan berbasis Islam, akidah, dan aturan kehidupan inilah yang harus dipahami oleh remaja muslim sebagai calon pemimpin masa depan. Kepemimpinan yang mampu mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kepemimpinan seperti ini telah dicontohkan manusia mulia Rasulullah saw. Kemudian dilanjutkan kekhalifahan Islam hingga keruntuhan Khilafah Turki Utsmani pada 1924. Di tangan generasi muda muslimlah estafet perjuangan bergulir untuk mengembalikan kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafah Islamiah kedua yang tegak seperti Daulah Islam pertama di Madinah. Dan akhirnya, hanya dengan Khilafah akan terwujud generasi pemimpin penakluk kota Roma. Insyaallah.Wallahu A’lam Bisshowab.

REFERENSI

  1. https://muslimahnews.net/2022/10/21/13136/
  2. https://muslimahnews.net/2022/11/01/13671/
  3. https://muslimahnews.net/2022/10/22/13173/
  4. https://muslimahnews.net/2022/10/10/12646/

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.