6 Desember 2022

Dimensi.id-Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jatim AKBP. Hendra Eko Troyulianto mengatakan, telah terjadi penggerebekan di sebuah ruko di komplek pertokoan Gempol Nine, Kabupaten Pasuruan , karena tempat usaha itu disinyalir terlibat perdagangan orang (human trafficking). Penggrebekan berlangsung Senin 14 November 2022 lalu. Dan diamankan sebanyak sebanyak 8 perempuan diamankan, 3 di antaranya anak di bawah umur, serta 1 orang penjaga ruko (wartabromo.com,20/11/2022).

Hendra mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, para korban tersebut dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Setelah dilakukan pengembangan di kawasan Tretes, Prigen. Petugas mengamankan DGP dan RNA, pasangan suami istri bersama 11 korban lain. Satu di antaranya di bawah umur.

Sekulerisme kapitalisme Halal Jadikan Manusia Sebagai Komoditas

Kasus perdagangan manusia (trafickking) selalu berulang, bukan hanya di Indonesia melainkan juga di dunia. Trafickking terjadi ketika manusia tidak menghormati manusia lainnya, dan dikuasai nafsu serakah mendapatkan keuntungan materi. Jangankan menjual manusia, menjual diri sendiri juga jamak dilakukan sebagai bentuk kebebasan atas kepemilikan tubuh. My body my authority begitu menurut para pengembannya.

HAM sebagai produk hukum internasional semakin menyudutkan posisi perempuan menjadi pihak yang tertindas. Muncullah gerakan feminisme yang memperjuangkan hak perempuan yang sesungguhnya karena dianggap telah direnggut oleh sistem budaya patriaki. Dan kaum perempuan menjadi termarjinalkan.

Namun, adakah yang berusaha merenungkan mengapa trafickking marak terjadi? Padahal mayoritas penduduk negeri ini memeluk Islam, yang jelas mengharamkan penjualan manusia. Sebab perbudakanpun sejak Islam datang telah dihapus.

Namun karena sejak Islam sebagai ideologi sebuah negara telah diruntuhkan, maka yang bercokol di benak kaum Muslim adalah sistem Sekulerisme kapitalisme. Dimana asas atau standarnya adalah kebebasan mutlak yang berasal dari Jawa nafsu manusia. Hingga terjadIlah pemahaman dalam benak seseorang bahw dunia menjadi tujuan, halal dan haram diabaikan.

Inilah dampak cara pandang kehidupan sekulerisme kapitalisme yang diterapkan saat ini. Dimana pengembangnya adalah negara maju salah satunya Amerika. Dunia maju mencengkeram negara berkembang. Hanya demi keleluasaan akses mereka terhadap perekonomian. Kelebihan produksi yang menjadi persoalan mereka , maka disinilah mereka butuh pasar untuk bisa dijual.

Saat menjual produk inilah bercampurlah cara pandang mereka terhadap kehidupan, yakni bebas tanpa batas terutama tanpa aturan agama yang disebut sekuler. Mereka bisa menjual alat masak, pakaian, makanan hingga pemuas nafsu, termasuk jika pemuas nafsu itu berupa manusia. Inilah perbudakan modern yang sesungguhnya sejak Islam datang susah dihapuskan. Dan pemimpin negeri ini memuluskan akal bulus para kapitalis ini dengan mengesahakan UU untuk menjadi landasan mereka bertindak.

Terkait peristiwa trafickking ini terbukti pemerintah hanya mementingkan diri sendiri dan bukan rakyatnya. Pagelaran G20 dimana Indonesia menjadi tuan rumah sekaligus pemenang Presidensi G20 belum menunjukan mencapai kepuasan bahkan kesejahteraan rakyat. Namun sudah nampak penambahan utang di sana-sini dengan alasan proyek dan sebagainya.

Satu hal yang pasti, tidak sampainya gagasan komunike para pemimpin negara G20 kepada kesejahteraan rakyat menambah deretan panjang mengapa banyak tindak kriminal salah satunya tindakan jual beli manusia ini. Kaum perempuan dan anak dalam sistem kapitalisme memang menjadi yang paling rentan, sebab mereka dianggap faktor produksi atau komoditas. Penghargaan kepada mereka tak lebih kepada barang yang memiliki nilai jual. Semakin baik mereka menghasilkan uang maka nilainya semakin tinggi, jelas bertentangan dengan Islam yang memandang perempuan sebagai kehormatan, berikut anak adalah generasi penerus yang menyangga tegaknya peradaban. Pandangan yang salah inilah yang menjadi pangkal persoalan. Seolah menjadi benang rumit tak terurai, sebab pengemban kapitalisme tak memiliki solusi hakiki. Mereka bergerak berdasar instruksi dan kepentingan pribadi. Mirip dengan hewan yang hanya mengandalkan insting untuk memenuhi standar bisa hidup. Padahal, bagi Muslim hidup lebih dari sekadar bisa makan dan minum.

Telah dijelaskan dalam QS.Adz Dzariyat: 56, Allah berfirman Dia menciptakan manusia dan jin semata-mata agar mereka beribadah kepada-Nya. Allah menciptakan manusia bukan hanya untuk sekedar tidur, bekerja, makan maupun minum melainkan untuk melengkapi bumi ini dan beribadah kepada-Nya

Sayangnya , negara pun abai akan jaminan kesejahteraan rakyatnya, sehingga rakyat yang didera kemiskinan mudah tergiur iming-iming mendapatkan harta dengan cara yang mudah dan tidak menyadari bahayanya, sebagaimana tidak menyadari terjadinya pelanggaran hukum syara. Meski sudah ada regulasi , traficking tetap saja terjadi. Ini menunjukkan bahwa regulasi tidaklah solusi mendasar sebab sekulerisme kapitalisme belum dibuang dan para pemimpin negeri ini enggan menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Adakah jaminan tidak akan terus berulang kasus demi kasus trafickking? Sebab, semakin berat beban hidup, dan makin tak sejahtera rakyat tak ada lagi cara untuk bertahan hidup kecuali menggunakan hukum rimba. Siapa kuat dia menang.  Sungguh tidak memanusiakan manusia, pantas saja peradaban yang terwujud juga rusak. Wallahu a’lam bish showab. [DMS].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.