6 Desember 2022
R20

Dimensi.id-Moderasi beragama sebagai solusi? Tipu daya menyesatkan

Para pemimpin agama di dunia menggelar Forum Internasional Religion 20 (R20) pada 2-3 November 2022, di Nusa Dua, Bali. Mereka menyerukan agama sebagai sumber solusi global.

Forum pertemuan tokoh-tokoh agama dunia ini diprakarsai oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan diketuai secara bersama dengan Sekjen Liga Muslim Dunia, Dr. Mohammad Al-Issa dari Arab Saudi.

Semua sepakat jika agama bukanlah sumber konflik sebagaimana yang banyak digaungkan seiring dengan narasi radikalisme. Harapan besar telah digantungkan agar agama hadir sebagai solusi global atas persoalan yang melanda dunia. Jadilah forum ini sebagai penguatan peran agama demi kehidupan harmonis warga negara di seluruh dunia. Terdengar indah memang.

Radikalisme semakin masif diaruskan.

Namun anehnya propaganda tentang terorisme dan radikalisme masih menjadi arus utama proyek Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Kepala BNPT RI Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan bahwa BNPT saat ini berupaya mencegah virus intoleran, terorisme, dan radikalisme dengan wawasan kebangsaan, moderasi ajaran-ajaran agama dan penguatan budaya Nusantara.

Ternyata semuanya berujung pada penguatan moderasi beragama, budaya nusantara, dan wawasan kebangsaan. Dalihnya untuk memerangi radikalisme, padahal sejatinya demi memuluskan target penjajahan mereka melalui tangan-tangan umat Islam sendiri.

Narasi yang menyudutkan Islam terus saja digencarkan, berkedok kontraterorisme dan deradikalisasi. Sepintas, apa yang digaungkan adalah kebaikan dan kebenaran, yaitu melawan teroris dan radikalis.

Hanya saja jika didetili siapa yang dimaksud teroris dan radikalis, pasti tidak ditujukan kepada orang orang kafir yang menyiksa kaum muslim di negeri muslim minoritas. Termasuk pemimpin Bharatiya Janata Party (BJP), partai radikal India yang  menzalimi umat muslim India, yang juga turut menjadi peserta R20. Tidak pula ditujukan kepada para pemberontak Papua yang telah membunuh manusia-manusia tak bersalah.

Justru mereka menuduh muslim yang taat menjalankan syariat-Nya sebagai teroris. Masih ingat pejabat yang mengatakan bahwa biasanya benih tetoris itu ada di masjid, penghafal Al-quran, pandai berbahasa Arab, bahkan sampai menggambarkan ciri fisik, yaitu good looking.

Sebab memang proyek kontraterorisme dan deradikalisasi adalah agenda besar musuh Islam yang tidak menginginkan muslim berpegang teguh pada agamanya. Karena hegemoninya akan terancam jika umat Islam, terutama generasi mudanya menjadikan akidah Islam sebagai spirit untuk bangkit.

Sejatinya target mereka adalah menjauhkan umat ini dari pengamalan ajaran Islam yang benar. Pemahaman Islam didistorsi, umat dipaksa mengikuti maunya mereka. Tanpa sadar muslim digiring untuk berislam sesuai kepentingan mereka. Maka tak heran jika kemudian terlontar dari lisan Menag bahwa Agama Islam ini bukan dari Indonesia. Islam dari tanah Arab, masuk ke Indonesia dari Arab. Sehingga harus menghargai budaya yang ada di Indonesia.

Islam ala Barat yang menggerus kesahihan syariat islam kaffah

Demikianlah jika memahami Islam sesuai dengan arahan Barat. Justru akan menghinakan agama yang diturunkan oleh Sang Pencipta dan memperlemah perannya dalam kehidupan.

Padahal Islam tidak butuh didikte oleh Barat untuk bersikap toleran, santun, saling menghormati, menyayangi, karena semuanya telah dicontohkan secara real oleh Rasulullah Saw, sang uswatun hasanah.

Segala tuduhan pada Islam ini sangatlah kontradiktif dengan seruan R20 yang menyatakan bahwa agama adalah solusi global. Sebab apa yang dilontarkan para pejabat negara selama ini justru melemahkan peran agama Islam yang merupakan Ideologi sempurna dan paripurna. Umat Islam dikekang sedemikian agar tidak membawa ajaran Islam yang agung ke ranah politik.

Padahal Islam tidak hanya mengatur urusan ruhiyah atau ubudiyah saja, tapi juga siyasiyah atau politik. Dari akidah Islam terpancar aturan-aturan yang mampu menyelesaikan segala problem kehidupan dan keumatan. Mulai dari masalah ekonomi, sosial budaya, pergaulan, pemerintahan, peradilan, pendidikan dan semua hal yang dihadapi umat manusia.

Telah terbukti Islam pernah berjaya menaungi dua pertiga dunia. Semua kegemilangannya terukir indah dalam tinta emas sejarah. Wallahu’alam bishshawwab.[Dms]

Penulis : Sabrina Nusaiba

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.