6 Desember 2022
Seruan R20

Dimensi.id-R20 atau Religion of Twenty 2022 adalah forum para pemimpin agama-agama dan sekte-sekte dengan peserta utama dari negara-negara anggota G20 dengan memanfaatkan posisi presidensi Indonesia tahun ini. Meski demikian, R20 juga mengundang para pemimpin agama dari negara lain di luar G20 sehingga total ada 32 negara. Jumlah peserta mencapai 464 undangan dan sebanyak 170 di antaranya dari luar negeri yang berasal dari lima benua.

R20 yang diselenggarakan pada 2—3 November lalu mengambil tagline “Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solusions: an International Movement for Shared Moral and Spiritual Values”. Problem yang diangkat di antaranya kemiskinan, kesenjangan global, polarisasi sosial, politik, bangkit dari keterpurukan pandemi Covid-19, dan perang Rusia-Ukrania yang mengancam krisis energi dan pangan global.

Bagaimana sebuah kegiatan yang merupakan bagian dalam sistem kapitalisme global? tetiba menarik agama untuk turut menyelesaikan solusi persoalan dunia.

Sebagaimana sudah dipahami, kapitalisme merupakan ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan. Artinya, agama benar-benar dipinggirkan dari ranah kehidupan. Tidak boleh bicara politik, pendidikan, sosial, hukum, dan yang lainnya atas nama agama. Tidak boleh menganalisa persoalan dengan sudut pandang agama.

R20 menjadi aliansi baru yang menyatukan dunia beradab melawan terorisme, tidak lain dengan mendudukkan semua agama dan sekte di dunia ini sama yang pada hakikatnya adalah cara licik “membonsai” Islam. Islam tidak boleh tampak, apalagi memimpin. Keberadaan R20, tidak lebih demi menyelamatkan keberlangsungan ekonomi kapitalisme dunia.

Seruan R20 yang menyatakan bahwa “agama adalah sumber solusi, bukan masalah”, sebenarnya kontradiktif dengan kebijakan pemerintah sendiri, yakni proyek deradikalisasi. Realitasnya, agama menjadi narasi kebencian dalam memerangi terorisme dan radikalisme. Apa indikasinya?

Pertama, narasi radikalisme lebih banyak menyasar kelompok-kelompok Islam yang ingin menerapkan syariat Islam kafah dalam tatanan bernegara dan bermasyarakat. Sebagai contoh, pemuda good looking, belajar Islam, menjadi aktivis dakwah, dan religius, dicurigai sebagai bibit radikal.

Kedua, sejak lama Islam sudah mengajarkan arti dan makna toleransi terhadap nonmuslim. Namun, umat Islam kerap menjadi pihak tertuduh menyebarkan kebencian, intoleran, dan antikeberagaman terhadap nonmuslim.

Ketiga, narasi intoleran, antikeberagaman, anti-Pancasila, maupun anti-NKRI, selalu muncul dan bersanding dengan isu terorisme dan radikalisme.

Islam, Solusi Masalah Global

Menyerukan Islam sebagai solusi global memang bagus, tetapi tidak dengan paradigma Barat. Ketika Islam diformulasikan menurut sudut pandang sekularisme, nilai-nilai Barat akan turut tercantum dalam solusi tersebut. Misalnya, memerangi radikalisme dengan moderasi beragama, yaitu menjadi muslim moderat yang tidak menolak pemikiran-pemikiran dan pandangan hidup Barat.

Padahal, Islam adalah agama sempurna dan merupakan ideologi yang memiliki fikrah (pemikiran/ide dasar) dan tarekat (thariqah atau metode) dalam menerapkan fikrah. Saat ini, Islam tidak memiliki kekuatan karena umat Islam belum menjadikannya sebagai pandangan hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan dan dipandang selayaknya agama lain yang mengatur ibadah ritual semata.

Selain itu, dalam menyelesaikan permasalahan hidup manusia, Islam memiliki konsep beserta segala penerapannya. Bukankah syariat Islam turun sebagai rahmat bagi semesta alam? Itu artinya, penerapan aturan Islam akan membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Rahmat Islam ini tidak akan terasa jika tidak menjadikan Islam sebagai ideologi. Islam adalah satu-satunya ideologi sahih yang layak diterapkan sebagai sistem kehidupan. Ideologi Islam mampu menjawab seluruh problem masalah dunia, menjelaskan aturan syariat secara terperinci dalam mengurai persoalan, serta mengatur kehidupan mulai sejak bangun tidur hingga membangun negara yang berlandaskan Islam (Khilafah).

Islamlah satu-satunya harapan bagi umat Islam dunia. Apa pun masalahnya, Islam punya solusinya. Oleh karenanya, umat Islam harus mempelajari dan memahami Islam secara utuh dan menyeluruh agar tidak salah paham terhadap Islam dan tidak memiliki paham salah yang bertentangan dengan ideologi Islam.

Waallahu’alam

Penulis : Evi Ummu Zalfa

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.