6 Desember 2022
Generasi Muda Islam

Dimensi.id-Generasi muda adalah pemimpin masa depan, harapan bangsa, harapan agama, dipundak merekalah keberlangsungan sebuah negara. Tapi dunia remaja sedang tidak baik-baik saja bukan lagi rambu-rambu kuning tapi mungkin sudah merah. Beberapa waktu lalu viral surat cinta bocah ingusan yang isinya mengumbar rayuan dengan bahasa yang vulgar, anak seusia itu bagaimana bisa syahwat nya sudah meledak-ledak.

Setiap hari, berita penuh dengan fakta pilu kondisi remaja saat ini, tawuran,  kekerasan, perundungan.  Jika kita mengimput di google dengan kata kunci ‘bullying’ kita akan disuguhi berbagai kasus bullying bahkan sampai menimbulkan korban.

Kasus pelecehan seksual, aborsi, perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, narkoba bahkan remaja bukan lagi hanya pengguna tapi pengedar, dikutip dari (kompas, 02/11/2022) terjadi penyelundupan 112 kg ganja yang dilakukan oleh 3 remaja berusia (17, 18 dan 19 tahun) dari Sumatera Utara ke Jakarta.

Bahkan pada tingkat gangguan mental sampai bunuh diri mengkungkung remaja,  penelitian The Conversation, University of Queensland, dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Amerika Serikat, 12/10/2022) menunjukkan bahwa 1 dari 20 remaja (5,5%) di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental. Artinya apa, sekitar 2,45 juta remaja di seluruh Indonesia termasuk dalam kelompok orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Inilah potret generasi harapan bangsa, Khawatir? Jelas, Ngeri? Pasti. Generasi minus simpati dan empati, minus akhlak dan adab, mudah insecure tapi hilang rasa malu, senang mencela, sering galau, budak cinta, gampang putus asa, haus eksistensi.

Kalau bahas remaja saat ini yang nampak hanya hal-hal negatif dibandingkan positif, meski tidak bisa kita pungkiri masih ada remaja yang berprilaku baik bahkan berprestasi tapi mereka menjadi kelompok minoritas. Apa sebenernya yang terjadi?

Permasalah berpangkal pada tatanan kehidupan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan), sistem sekulerisme melahirkan berbagai ide yang rusak dan merusak, seperti human rights kebebasan orientasi, kebebasan bertingkah laku, ekspresi seksual. Ide-ide ini yang akhirnya  membentuk gaya hidup remaja yang serba bebas, bebas melakukan apapun yang mereka mau sehingga wajar mereka sulit untuk diatur.

Inilah kondisi negara dalam sistem sekulerisme, negara gagal total dalam menjaga generasi, negara menjauhkan generasi dari nilai-nilai agama, bisa kita lihat pada sistem pendidikan saat ini yang mengatur bahwa pelajaran agama waktunya sangat sedikit, seragam muslimah dipersoalkan, hingga anak rohis di sekolah dianggap sebagai bibit terorisme. Sedangkan stimulus yang membuat syahwat bangkit justru difasilitasi.  Remaja yang pergi ke Mesjid lebih di waspadai dari pada pergi ke konser, dan ini sudah pada persoalan sistemik.

Oleh karena itu, generasi muda harus segera diselamatkan dengan sistem yang mampu mendidik, membina dan menjaga mereka sesuai fitrah manusia. Dan tidak ada sistem yang mampu melakukan pembinaan sampai pada tahap pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan firtahnya selain Islam.

Islam menyadari betul bahwa generasi muda adalah aset peradaban, jadi sudah semestinya memperhatikan perilakunya. Sehingga penting sekali untuk menjaga dan memelihara mereka, perilaku adalah buah pemikiran dan pemahaman yang ada pada diri individu. Maka jika seorang muslim yang tidak memiliki perilaku takwa, tentu pemikiran dan pemahamannya juga tidak berisi ketakwaan.

Dalam sistem pemerintahan Islam, negara akan menerapkan sistem sosial berdasarkan syariat Islam sehingga negara tidak akan ada celah bagi tumbuh suburnya pergaulan bebas apalagi sampai  memfasilitasinya. Negara juga mampu mengontrol penuh peredaran informasi melalui media, negara wajib memastikan sehatnya sirkulasi informasi yang beredar di tengah masyarakat dan akan menindak tegas jika ada yang melanggarnya.

Islam menjadikan hukum-hukum Islam sebagai satu-satunya rujukan manusia dalam bertingkah laku. Oleh karenanya, Islam tidak membiarkan manusia bebas mengekspresikan dirinya. Islam juga memandang bahwa tujuan hidup manusia tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah dan sumber kebahagiaannya adalah meraih gelar takwa dengan mencapai RidhoNya. Jadi masih menganggap bahwa kita baik-baik saja dalam sistem sekulerisme? Wallahu’alam bi asywab

Penulis : Indi Lestari, A.md

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.