6 Desember 2022
depresi

Dimensi.id-Generasi rapuh, tidak memiliki karakter kuat sehingga saat diterpa oleh masalah hidup memutuskan untuk bunuh diri. Merasa depresi, lelah, putus asa, dan sakit hati yang luar biasa, karena tidak memiliki pegangan agama. Miris, mahasiswa UGM yang memiliki kemampuan dan intelektual diatas rata-rata, namun tidak mampu mengendalikan diri, sehingga sampai pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

Seorang pria mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisial TSR (18) diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai 11 Hotel Porta, Bulaksumur, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (8/10) sore. Fakta Bunuh diri, akankah jadi tren baru anak muda di indonesia. Kenapa semua ini bisa terjadi?

Pendidikan Keluarga yang Mengedepankan Materi yang Membuat Jiwa Mudah Depresi
Kesuksesan dalam sistem kapitalisme dinilai dari materi yang bisa dimiliki. Mobil mewah dan rumah megah sebagai simbol kesuksesan yang membuat kedua orang tua dalam keluarga harus membanting tulang untuk memenuhi tuntutan gaya hidup hedonisme, sehingga anak sering kurang mendapatkan perhatian.

Waktu bersama keluarga hampir tidak ada. Walaupun kebutuhan materi bisa tercukupi, kehangatan keluarga menghilang dan anak seolah harus hidup dalam keluarga sendiri tanpa dukungan. Orang tua bangga saat anak mampu menunjukkan nilai akademik yang memuaskan di sekolah, namun tidak perduli dengan pendidikan agama mereka.

Baca Juga : Ambiguitas Hari Kesehatan Mental Sedunia

Orang tua tidak perduli apakah anaknya mengerjakan kewajiban sebagai seorang muslim ataupun tidak. Mereka juga tidak disuruh mengaji agar pemahaman keislaman mereka bertambah.

Fakta pelaku yang anak generasi 2000 yang dimana mereka sangat minim pendidikan Islam. Orang tua rela mengeluarkan biaya besar agar sang anak memiliki kemampuan akademik yang unggul dan menjadi juara di sekolahannya, namun lupa dengan pendidikan agamanya. Menjadi impian orang tua dan sang anak saat lulus dari sekolah menengah atas bisa diterima di perguruan tinggi favorit seperti halnya UGM.

Namun, orang tua lupa untuk membekali mereka dengan pendidikan agama agar terbentuk sosok remaja muslim yang memiliki Kepribadian Islam. Karakter khas seorang muslim akan mampu membentengi anak dari berbagai pengaruh buruk serta memberikan kemampuan untuk menyelesaikan masalah mereka dengan solusi Islam meskipun orang tua tidak harus selalu berada didekat mereka.

Tapi faktanya, saat ini banyak dari mereka tumbuh dari keluarga yang tidak perduli dengan pendidikan agama untuk anak-anak mereka. Lebih dari itu, banyak orang tua yang sibuk bekerja sehingga tidak memperhatikan pendidikan anak. Yang lebih parah lagi, banyak anak korban perceraian, sehinnga anak terlantar jauh dari bimbingan orang tua.

Sistem yang buruk Menciptakan Lingkungan Buruk pada diri Anak

Sistem yang buruk akan memberikan pengaruh buruk pada diri anak yang dalam proses mencari jati diri. Anak akan mudah meniru lingkungan yang buruk jika mereka tidak disiapkan dari keluarga yang menanamkan nilai agama yang kuat dalam dirinya.

Anak yang tidak memiliki kepribadian Islam yang kuat akan mudah goyah dan mudah dibentuk oleh lingkungan yang buruk. Jiwa yang rapuh akan sulit menghadapi persoalan hidup yang melingkupi dirinya. Merasa tertekan dan depresi, tidak mampu mengendalikan diri hingga membuatnya bunuh diri. Sementara, penanganan kejiwaan dari psikolog tidak bisa memberikan solusi tuntas untuk masalah yang dihadapi anak. Penanganan sekuler dengan meninggalkan Islam tidak akan mampu menyelesaikan masalah sampai akarnya.

Pemikiran sekuler hanya membentuk pemhaman seorang anak dengan kepribadian ganda. Mereka terlihat manis di rumah tapi ternyata menyimpan masalah dan bermasalah diluar rumah atau saat tidak bersama orang tua. Sistem sekuler hanya menghasilkan generasi lemah, tidak memiliki karakter, karena bukan Islam yang dijadikan landasan berfikir yang bersumber dari keyakinan yang lurus dan mulia.

Saat tertepa masalah generasi yang lemah akan cenderung menjadikan bunuh diri sebagai jalan keluar, karena mereka merasa depresi tanpa ada jalan keluar yang membuat hidupnya tenang. Berbeda saat mereka menjadikan Islam sebagai landasan berfikir dan Islam dijadikan solusi untuk keluar dari masalah yang membelit hidup.

Generasi muslim berkepeibadian Islam akan kuat menghadapi berbagai masalah karena mereka menjadikan sholat dan sabar sebagai solusi Islami dan terus ikhtiar mencari jalan keluar. Kemudahan hidup dalam berikhtiar mereka dapatkan karena jiwanya bersih dengan terus mendekatkan diri pada Sang Pemilik hidup Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sistem pendidikan Sekuler Menciptakan Jiwa yang Rapuh

Sistem pendidikan Sekuler hanya menghasilkan generasi rapuh yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Baper dan mudah merasa depresi saat dihadapkan pada masalah yang berat. Lari dari kenyataan dan memilih bunuh diri karena imannya yang lemah dan tidak punya karakter kuat dalam menghadapi kehidupan.

Islam yang merupakan solusi fundamental ditinggalkan diganti dengan karakter moderasi yang tidak jelas dan mengakar pada keyakinan yang benar. Agama hanya diberikan sebagai pengetahuan sehingga tidak sampai menyentuh keyakinan yang mendalam dan mengkristal dalam pemahaman.

Mereka yang militan dalam beragama diwaspadai dan diframming buruk sebagai bibit radikalisme, dan bahkan terorisme meskipun mereka tidak melakukan tindak kekerasan. Bahkan mereka yang militan dan mempunyai kepribadian Islam mampu untuk bertahan dari berbagai pengaruh buruk dari lingkungan yang butuk dan bahkan memberi warna kebaikan dengan Islam.

Sistem pendidikan Sekuler harus dirubah dengan memberikan pendidikan Islam yang akan membentuk peserta didik tidak hanya memiliki tsaqofah Islam yang benar dan mendalam tapi mereka memiliki pola sikap dan pemikiran yang Islami. Kepribadian Islam yang mantab akan menjadi benteng bagi anak agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.

Dengan kepribadian Islam anak juga akan mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dia hadapi dalam hidup. Karakter kuat dan Kepribadian unggul hanya bisa dibentuk dalam diri anak yang beriman dan bertaqwa, bukan pada diri anak yang hanya berfikir pragmatis dan sekuler yang dihasilkan oleh sistem pendidikan sekuler dan sistem yang sekuler. [Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.