6 Desember 2022

CNN memberitakan (22/08/2022) Cina tengah menghadapi rekor populasi yang makin berkurang karena angka kelahiran yang makin rendah. Pada 2021, Cina mencatat rekor angka kelahiran menjadi yang terendah sejak 1949.

Fenomena ini menjadikan beberapa ahli menganggap Negeri Tirai Bambu tengah menghadapi resesi seks. Resesi seks di Cina ramai jadi perbincangan usai sebuah laporan berjudul The Challenges of Law Birth rate in Cina rilis di Wiley pekan lalu.

Istilah “resesi seks” ini merujuk pada keengganan warga Cina untuk menikah dan angka kelahirannya yang rendah. Dalam laporan tersebut, pada 2021 jumlah populasi di Cina menurun secara signifikan. Banyak penduduk di Cina yang memutuskan hanya memiliki satu anak karena biaya membesarkan yang melejit, terutama di kota-kota besar. Salah satu pekerja industri di pusat kota Changsha, Li, mengaku tidak cukup punya biaya untuk membesarkan anak, bahkan untuk satu anak.

“Saya tak bisa punya anak lagi. Membesarkan satu anak seperti memasukkan uang Anda ke dalam mesin penghancur kertas. Tidak mungkin, saya bisa punya yang lain,” kata Li kepada Radio Free Asia, pada Januari lalu. Membesarkan anak-anak di Cina butuh banyak biaya.

Menurut warga Cina, setiap orang tua dari keluarga kelas menengah ke bawah harus mati-matian untuk membiayai pendidikan satu anak saja.

Mengapa terjadi? Apa solusinya?

Simak perspektif Bung Agung Wisnuwardana. Jangan lupa subscribe JUSTICE MONITOR.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.