6 Desember 2022
kesehatan mental

Dimensi.id-10 Oktober ditetapkan sebagai hari kesehatan mental sedunia. Hal ini terkait dengan munculnya berbagai masalah kesehatan mental yang terjadi di seluruh negara di dunia.

Ilusi Hari Mental Sedunia

Dikutip dari WFMH Global, negara-negara berpenghasilan tinggi memiliki laporan bahwa lebih dari 75 persen penduduknya yang mengidap depresi tidak menerima perawatan yang memadai. Dengan angka yang sama pula, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak memberikan pengobatan sama sekali kepada pengidap gangguan mental.

WHO sendiri mengonfirmasi pandemi COVID-19 telah menciptakan krisis global untuk kesehatan mental, memicu tekanan jangka pendek dan jangka panjang, serta merusak kesehatan mental jutaan orang. detik.com

BPS melalui laman resminya menyampaikan bahwa terdapat 11,53 juta orang (5,53 persen) penduduk usia kerja yang terdampak COVID-19. Terdiri dari pengangguran karena COVID-19 (0,96 juta orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 (0,55 juta orang), sementara tidak bekerja karena COVID-19 (0,58 juta orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 (9,44 juta orang). Tuntutan biaya hidup yang semakin mahal dan nihilnya pemasukan membuat banyak orang yang terdampak pandemic secara finansial memilih bundir. Selain itu, tekanan sosial cukup menjadi factor seseorang mengalami depresi dan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stuart Leske, K. K, 2021 ditemukan angka bunuh diri pada 2015 meningkat 1,8 %, pada 2016 meningkat 2,86 % dan ketika pandemic periode Maret 2020 – Agustus 2020 meningkat (pada wanita) 23,9 %. Kenaikan angka bunuh diri disebabkan oleh suasana hati, koping stress dan kecemasan karena kehilangan pekerjaan, masalah keuangan dan putus hubungan.

Terakhir, pada Sabtu (8/10/2022) sore hari, seorang mahasiswa baru (maba) Fisipol UGM Yogyakarta ditemukan tewas bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari lantai 11 sebuah hotel. Menurut keterangan polisi yang melakukan olah TKP, ditemukan sebuah surat kesehatan dari Psikolog milik korban.

Mamun dan Griffiths dalam tulisannya menyebutkan bahwa sudah terbukti bahwa sekitar 90% kasus bunuh diri global disebabkan oleh individu dengan kondisi kesehatan mental seperti depresi (Mamun dan Griffiths, 2020).

Hal ini tidak sejalan dengan slogan Hari Kesehantan Mental Sedunia yang diperingati setiap tahunnya, namun fakta di lapangan menunjukkan tren positif angka depresi yang berujung bunuh diri.

Solusi Parsial Sistem Kapitalisme

Melalui kajian singkat Vol. III No. 20//II/Puslit/Oktober/2019 Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR-RI, DPR mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmennya dalam upaya pencegahan bunuh diri sebagaimana wujud komitmen Indonesia terhadap pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, sekaligus realisasi Undang-Undang No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, yaitu melalui:

1) Pengembangan program pencegahan bunuh diri yang efektif dengan sosialisasi yang massif.

2) Penguatan edukasi mengenai kesehatan mental bagi masyarakat; dan

3) Pemantauan secara berkala di tingkat nasional melalui data yang akurat dan terintegrasi. Keterkaitan antarsektor diperlukan, misalnya sektor kesehatan, pendidikan, budaya, sosial, agama, informasi. Peran serta masyarakat, mulai dari keluarga hingga lingkungan yang lebih luas lagi, untuk berpartisipasi dalam pemberian dukungan bagi orang-orang dengan masalah kesehatan mental juga sangat diperlukan.

Solusi diatas belum menyentuh akar masalah yang menjadi faktor utama menjamurnya fenomena depresi dan bunuh diri. Kita bisa membuat permisalan, seseorang kehilangan pekerjaan akibat pandemi, satu sisi ia punya tanggungan biaya hidup keluarga (istri dan anak-anaknya). Apakah cukup orang tersebut diberikan sosialisasi masif? Efektifkah dengan penguatan edukasi tentang Kesehatan mental? Cukupkah dengan solusi pemantauan berkala di tingkat nasional dan dukungan orang sekitar?

Tentu ini solusi sekunder yang sama sekali belum atau bahkan tidak efektif menyelesaikan akar masalah. Orang dengan masalah tersebut sebagaimana dalam contoh membutuhkan solusi berupa pekerjaan, yang dengannya ia bisa membiayai kehidupan keluarganya. Solusi primernya adalah dengan memberikan lapangan pekerjaan, disamping solusi sekunder melalui program sosialisasi dan edukasi kesehatan mental.

Solusi diatas juga menunjukkan bahwa pemerintah belum serius dalam menyelesaikan problem Kesehatan mental dan bunuh diri di masyarakat. Pemerintah terlihat setengah hati dalam melayani rakyat. Sederhana saja dari kasus di atas, orang sekitar seperti keluarga, masrarakat dan LSM hanya memberikan bantuan sementara, sedangkan ia butuh bantuan yang lebih dari itu. Butuh peran negara yang mampu membuat kebijakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan jaminan atau biaya hidup yang terjangkau.

Kita tidak bisa serta merta menyalahkan korban bunuh diri karena himpitan dan tekanan hidup. Jika pendidikan, kesehatan, keamanan, pekerjaan dan biaya hidup mahal dan tidak mudah diakses oleh rakyat, kemana lagi rakyat akan hidup? Peluang untuk hidup sudah tidak ada sehingga bunuh diri menjadi alternatif terbaik daripada mati pelan-pelan merasakan sakitnya menahan lapar dan perkataan jahat orang lain.

 

Kapitalisme Membentuk Pribadi Rentan Depresi dan Bunuh Diri

Menjamurnya fenomena yang saling berkelindan; gangguan kesehatan mental/depresi dan bunuh diri merupakan dampak dari penerapan sistem kehidupan kapitalisme. Kapitalisme telah menjauhkan manusia dari fitrahnya. Manusia Allah ciptakan di muka bumi sebagai khalifah (pemimpin/pengatur) untuk memakmurkan dan menjaga bumi dari kerusakan.

Status manusia sebagai khalifah beresonansi dengan status manusia sebagai hamba Allah (QS. Az Zariyat : 56). Artinya dalam mengatur bumi, manusia wajib mengikuti peraturan yang telah Allah tetapkan baginya. Sehingga segala sesuatunya harus berdasarkan hukum-hukum Allah agar tercipta keteraturan hidup.

Dalam sistem kapitalisme, kedua fitrah tersebut nihil dalam kehidupan. Kapitalisme menjadikan hawa nafsu sebagai orientasi dan materi sebagai sumber kebahagiaan untuk memuaskan hawa nafsu tersebut. Manusia produk sistem kapitalisme akan menghalalkan berbagai cara memperoleh materi untuk memenuhi hawa nafsunya. Dalam kehidupan individu, manusia tidak akan peduli dengan cara apa dia hidup.

Asal hawa nawa nafsunya terpenuhi dan materi sebagai standar kebahagiaan diperoleh, maka itu sudah cukup baik baginya. Namun jika keduanya belum bisa terpenuhi, maka itu akan menjadi masalah baginya. Masalah inilah yang akan bergeser menjadi gangguan kesehatan mental (mental illness) dan depresi. Jika sudah demikian maka menjadi peluang besar untuk melakukan bunuh diri. Individu dalam sistem ini bermental miskin, pesimistis dan jauh dari pemahaman islam.

Dalam kehidupan masyarakat, kapitalis berhasil mencetak masyarakat yang apatis, tidak memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain. Masing-masing dari mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing dan enggan memikirkan masalah orang lain.

Dalam kehidupan  bernegara pun demikian. Penguasa hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Negara hanya menjadi regulator bahkan komprador. Kekayaan negara tidak dimaksimalkan untuk kepentingan rakyat, namun untuk kepentingan segelintir orang. Sehingga tercipta kehidupan yang serba sulit seperti biaya mahal kesehatan, pendidikan, keamanan dan minimnya lapangan pekerjaan. Penguasa tidak peduli dengan kondisi ini, karena baginya perutnya kenyang dan kepentingannya aman.

 

Islam Solusi Komprehensif

Islam menggariskan manusia sebagai pemakmur bumi dan hamba Allah. Manusia tidak akan merusak alam, apalagi dirinya sendiri dengan cara bunuh diri. Islam akan memberikan cara pandang yang benar bagi manusia dalam memandang dirinya sebagai manusia, kehidupan dan alam semesta. Manusia hidup identik dengan masalah (ujian), sebagaimana disebutkan di beberapa ayat dalam Al Qur’an. Namun pemahaman (pola pikir) Islam seseorang akan memberikan petunjuk seseorang tersebut dalam menghadapi masalah sesuai perintah syariat.

Dalam Islam, bunuh diri adalah perkara maksiat dan dosa besar, sehingga mustahil bagi seorang muslim melakukannya. Individu berkepribadian Islam yang kokoh akan terlatih dengan mental kaya (syukur) dan sabar tatkala mendapat ujian. Islam mengajarkan manusia tentang domain kehidupan dengan porsi yang tepat yakni domain ikhitiar dan tawakkal. Muslim akan melakukan upaya (ikhtiar) dalam daerah yang bisa ia lakukan dan menyerahkan (tawakkal) sepenuhnya kepada Allah ta’ala dalam perkara yang bukan menjadi kuasanya sebagaimana rezeki, jodoh dan mati. Islam menjadikan ridlo Allah sebagai orientasi hidup dan ketaatan kepadaNya sebagai standar hidup, bukan hawa nafsu dan materi sebagaimana sistem kapitalisme.

Selain itu, islam membentuk masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi. Islam men-syariatkan ummatnya untuk senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (amar makruf nahiy munkar) serta gemar tolong menolong dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Masyarakat seperti ini akan saling menguatkan dalam kebenaran dan ketaatan, sehingga setiap salah seorang dari mereka mengalami ujian maka yang lain akan saling merangkul bukan bersikap acuh tak acuh.

Islam juga mengatur negara untuk mewujudkan kesejahteraan komunal. Penguasa dalam Islam adalah sebagai ra’in (pengatur/pelayan) masyarakat yang tidak lepas dari syariat. Seorang pemimpin harus memastikan masyarakatnya hidup dengan aman tanpa terdzolimi. Penguasa melalui negara akan memaksimalkan keakayaan sumber daya alam demi terpenuhinya hajat masyarakat. Negara menjamin kesehatan, pedidikan dan keamanan secara cuma – cuma. Negara juga menyediakan lapangan pekerjaan yang luas bagi kaum laki-laki yang sudah baligh dan memiliki tanggungan nafkah.

Jika sudah demikian, maka masyarakat akan merasa aman, sejahtera dan bahagia serta tidak dihantui dengan tekanan dan tuntutan hidup. Sangat mustahil ditemukan fenomena depresi dan bunuh diri dalam sistem kehidupan islam.  Keteraturan hidup seperti inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah sebagai Sang Pencipta Kehidupan melalui syairat Islam. Menjadi sebuah aksioma yakni terjadinya kerusakan tatanan kehidupan ketika hidup ini diatur dengan sistem kapitalisme, bukan syariat Islam. Dengan demikian, kembali kepada aturan islam adalah jalan satu-satunya dan jawaban solutif atas problematika kehidupan yang terjadi saat ini, terlebih terkait kesehatan mental dan bunuh diri.

Wallahualam. [Dms]

1 thought on “Ambiguitas Hari Kesehatan Mental Sedunia

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.