7 Desember 2022

Dimensi.id-Ustazah sekaligus intelektual muslimah Ir. Reta Fajriah menyampaikan, “pabriknya” para pemimpin adalah ibu.

Mashna’ atau pabrik dari para pemimpin adalah ibu. Penggodokan awal bagi mereka adalah di rumah,” tuturnya dalam Maulid Leadership Forum 1444 H, Sabtu (08/10/2022).

Menurut Ustazah Reta, ini sesuai dengan hadis Rasulullah yang menyebutkan bahwa perempuan adalah pemimpin di dalam rumah suaminya.

“Sebagai hamba Allah yang mencontoh Rasulullah, maka dari hadis tersebut ada dua peran perempuan, yakni sebagai ummu dan rabbatul bayt. Sebagai ummu, ia menjalankan fungsi reproduksi dan edukasi sesuai fungsi yang dilekatkan Allah kepadanya. Oleh karena itu, setiap orang menjalani proses dilahirkan oleh ibunya dan dididik hingga balig,” jelasnya.

Kemudian ia mengisahkan tentang pahlawan Islam, Salahuddin al-Ayubi, yang bisa menjadi inspirasi.

“Kedua orang tuanya sejak sebelum mereka menikah memiliki visi untuk melahirkan generasi yang akan membebaskan kembali Baitulmaqdis. Keduanya berdoa agar memiliki pasangan yang nantinya akan melahirkan anak-anak yang akan menjadi pembebas Baitulmaqdis, ternyata Allah pertemukan keduanya dan mereka menikah. Setelah menikah, mereka fokus mendidik anaknya sesuai visinya tersebut dan Allah mudahkan anaknya, Salahudin al-Ayubi, menjadi pembebas Baitulmaqdis,” urainya.

Visi Kepemimpinan

Oleh sebab itu, ujar Ustazah Reta, seorang muslimah dalam hal mencontoh kepemimpinan, maka ketika ingin mempersiapkan generasi pemimpin dan pejuang agama Allah, ibunya pun harus memiliki visi kepemimpinan yang kuat.

“Ini karena mendidik adalah mentransfer hal-hal yang dipahami orang tuanya, khususnya ibunya. Ibunya bukan hanya memberikan teori, tetapi juga secara nyata memberi contoh hal-hal yang ia lakukan sebagai pejuang agama Allah yang ia jiwai dalam hidupnya,” paparnya.

Hanya saja, Utazah Reta menyesalkan, kalangan kaum feminis menyebut Islam mengekang perempuan karena menjadikan peran perempuan adalah ummun wa robbatul bayt.

“Hal ini memang dihembuskan kalangan feminis yang memiliki maksud tertentu. Sebenarnya mereka paham betul bahwa masa depan bangsa dan generasi sangat tergantung bagaimana para pemimpinnya itu dididik,” ulasnya.

Ia mengungkapkan, ketika seorang perempuan dikurangi porsi mendidik anaknya, sebagaimana standar kapitalisme bahwa perempuan itu dikatakan produktif ketika bisa menyumbang Gross National Product, maka semestinya sebagai muslimah tidak ikut-ikutan menggunakan standar ini.

“Padahal, itu akan menyebabkan anak-anaknya kurang mendapat pendidikan. Terlebih pada kondisi saat ini, sangat berat mendidik anak-anak agar tidak terbawa arus liberalisasi, sekularisme, dan di rumah juga tidak aman. Walaupun sebenarnya tempat paling aman itu di rumah, yakni berada di dekat ibunya yang dengan kasih sayangnya akan concern mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak saleh dan salihah,” bebernya.

Apalagi, imbuhnya, dengan visi kepemimpinan yang kuat dari sang ibu, akan ada target-target pendidikan bagi anaknya hingga mencapai balig.

“Pada saat balig, anak sudah terkena taklif hukum sehingga dengan pendidikan dari ibunya, ia sudah paham mana yang wajib dan yang haram. Namun, pertanyaannya bagaimana jika itu belum sampai ke anaknya? Padahal, ibunya menjadi inti atau yang utama, dan nantinya akan dihisab, dimintai pertanggungjawaban oleh Allah,” tukasnya.

Kasih Sayang dan Pendidikan

Untuk itu, Ustazah Reta mengimbau para muslimah, harus benar-benar disadari bahwa kita adalah mashna’ atau pabriknya pemimpin melalui sentuhan kasih sayang dan pendidikan.

“Ibu adalah madrasatul ula yang mendidik anak-anaknya sejak awal untuk pembentukan karakternya. Sedangkan, jika anak sudah bersekolah, maka sekolah hanya mengembangkan dan menambah pengetahuan yang akan memperluas pola pikirnya,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, dalam mendidik, ibu juga perlu ilmu dan proses yang terus didalami. “Kesadaran ini hendaknya tidak bagi yang sudah tercerahkan saja, tetapi bagi banyak lagi yang lain yang belum paham,” ungkapnya.

Apalagi, ia mengingatkan, jika berbicara generasi, kita tidak hanya ummu bagi anak kita, tetapi kita adalah ummu ajyal (ibu generasi).

“Ini adalah tugas kita semua. Termasuk yang tidak kalah penting adalah support dari pendamping ibu, yaitu ayah,” tutupnya

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.