6 Desember 2022

Dimensi.id-Kepemimpinan transformasional disepakati menjadi model kepemimpinan yang dibutuhkan hari ini. Hanya saja, menurut konsultan dan trainer kepemimpinan Islam Ir. Karebet Wijaya Kusuma, M.A. yang diperlukan adalah yang mampu memberikan perubahan dari peradaban fasad (rusak) menuju peradaban yang membawa keselamatan di dunia dan akhirat, yakni dengan kepemimpinan Islam.

Hal ini disampaikannya dalam Maulid Leadership Forum 1444 H yang diselenggarakan secara virtual, Sabtu (08/10/2022).

Pak Karebet, begitu biasa ia dipanggil, menjelaskan, ada dua kata kunci dalam kepemimpinan, yaitu amanah dan visioner. “Amanah karena kepemimpinan pasti mengelola sesuatu, sumber daya fisik, dan sebagainya. Sebaliknya, lawan amanah adalah khianat. Visioner karena pertanggungjawaban seorang pemimpin tidak hanya di dunia, tetapi melampaui hingga akhirat,” ujarnya.

Jika menyelami kondisi dunia hari ini, lanjutnya, para ahli bersepakat tentang fenomena VUCA yang menyebabkan gangguan di tengah kehidupan yang intinya menimbulkan kompleks problem. “Ada empat hal. Pertama, volatile atau bergejolak. Kedua, uncertainty atau ketidakpastian, seperti konflik di dunia, perang Rusia-Ukraina, dan seterusnya,” ucapnya.

Ketiga, lanjutnya, complexity. “Jadi adanya volatile, uncertainty, dan ambiguity menimbulkan complexity. Politik tidak bisa dipisahkan dari ekonomi, ekonomi tidak bisa dipisahkan dengan faktor lain, dan seterusnya. Terlebih dengan dua tahun pandemi, kita makin menghadapi situasi yang kompleks. Sedangkan, yang keempat, ambiguity atau ketidakjelasan,” terangnya.

Trend Skill

Dengan kompleksitas permasalah tersebut, ia mencatat dari 2009 hingga 2020, ada tiga aspek penting trend skill yang diperlukan, yaitu kompleksitas problem solving, critical thinking, dan creativity.

“Oleh karena itu, diperlukanlah kepemimpinan transformasional yang membawa perubahan mendasar dan besar dalam kehidupan pengikutnya karena memiliki pemikiran metanoia (dari bahasa Yunani, meta= perubahan, noia= pemikiran),” ungkapnya.

Ia mendeskripsikan, yang dimaksud pemikiran metanoia adalah way of life atau world view, sebuah pandangan hidup yang bisa mengubah seseorang dalam menjalani kehidupannya. “Ini adalah syarat pertama dalam kepemimpinan transformasional. Pertanyaannya, apakah way of life itu ada yang benar dan yang tidak? Jawabannya ya. Kalau menggunakan way of life yang benar, maka akan benar. Namun, jika way of life-nya tidak benar, maka dipastikan tidak benar,” paparnya.

Pemimpin Transformasional

Pak Karebet memerinci ada empat karakter pemimpin trasformasional. “Pertama idealized influence (pengaruh ideal). Jika seorang pemimpin memiliki way of life yang benar, maka pasti akan memberi pengaruh yang ideal, bahkan jika pemimpin tersebut sudah tiada. Kedua inspirational motivation (motivasi yang menginspirasi). Ketiga, intelectual stimulation (daya dorong intelektual), dan individual consideration (konsiderasi individual),” urainya.

Kemudian ia menjelaskan tentang idealized influence. “Dengan way of life yang benar maka, ia akan membuat pengikutnya mengagumi, menghormati, dan memercayainya. Dengan kata lain, pemimpin adalah teladan,” terangnya.

Untuk inspirational motivation, Pak Karebet menguraikan, pemimpin memiliki mimpi besar yang menghasilkan energi besar, dapat menggugah spirit tim melalui penumbuhan antusiasme dan optimisme, serta menginspirasi pengikutnya untuk melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan. “Seperti yang digambarkan Muhammad al-Fatih yang diabadikan di Museum 1453, achieving the impossible atau meraih hal yang tidak mungkin,” tuturnya.

Berikutnya, ia menjelaskan, intelectual stimulation. “Pemimpin dapat menumbuhkan ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalah yang dihadapi, memberikan motivasi untuk mencari pendekatan baru dalam melaksanakan tugasnya, mau mendengarkan dengan perhatian penuh, dan memperhatikan kebutuhan pengikutnya. Akibatnya, semua akan belajar bersama,” bebernya.

Rasulullah Pemimpin Teladan

Ia melontarkan pertanyaan, apakah Rasulullah adalah pemimpin dengan karakter tersebut? “Allah menegaskan dalam QS Al-Ahzab ayat 21 bahwa telah ada dalam diri Rasulullah itu uswah hasanah, teladan yang baik. Kita pun merasakan, walaupun Rasulullah sudah tidak ada, tetapi teladan yang baik itu bisa dirasakan,” cetusnya.

Selain itu, ia mengutip K.H. Hasyim Ashari dalam Irsyad al-Mukmin ila Sirah Sayyid al-Mursalin yang mengatakan dengan kepemimpinan Rasulullah, “Lalu hilanglah perbedaan-perbedaan kebangsaan, kesukuan, bahasa, mazhab, dan nasionalisme yang selama ini menjadi penyebab permusuhan, kebencian, dan kezaliman. Masyarakat pun—atas nikmat Allah—menjadi bersaudara.”

Bahkan, ia menyampaikan, peneliti independen sekaligus profesor di Universitas Chicago Amerika Jules Masserman pernah melakukan penelitian dengan memberikan tiga syarat pemimpin terbaik dunia. “Pertama, dalam diri pemimpin harus ada proses pembentukan kepemimpinan yang baik. Kedua, pemimpin tersebut menaungi kesatuan masyarakat yang terdiri dari keyakinan berbeda. Ketiga, mampu mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang manusia dapat hidup di dalamnya dengan aman dan tenteram,” katanya.

Secara jujur, ujarnya, Jules menyimpulkan bahwa pemimpin teragung sepanjang sejarah adalah Muhammad yang telah memenuhi tiga syarat tersebut. “Pernyataan ini dimuat di Majalah Time, Who Were History’s Great Leaders edisi 15 Juli 1974,” ujarnya.

Pak Karebet mengatakan, “Apa rahasianya? Way of life. Cara untuk mendapatkannya adalah dengan memunculkan pertanyaan darimana aku berasal, untuk apa aku hidup, dan akan ke mana aku setelah mati? Dengan kesadaran penuh akan didapati bahwa manusia diciptakan oleh Allah, hidup untuk beribadah kepada Allah, yakni menerapkan aturan Allah, dan akan kembali kepada Allah. Inilah yang dilakukan Rasulullah dalam kepemimpinan transformasional dengan world view-nya adalah Islam. ,” jelasnya.

Kapitalisme dan Komunisme

Pak Karebet mengutarakan, hari ini dunia menggunakan world view kapitalisme sekularisme. “Menurut Rostow, paradigmanya adalah agama mesti dihapus karena penghalang bagi pembangunan. Asasnya manfaat dengan tujuan menghalalkan segala cara (machievelistik), seperti suap, manipulasi, kickback (tendangan balik), curang, temasuk kebijakan zalim. Mereka yang tidak setuju, tidak bisa ikut “maju” dan menjadi residu pembangunan,” urainya.

Akan tetapi, imbuhnya, ternyata jika kapitalisme sekularisme ini diterapkan akan menyebabkan residu, seperti kriminal, gelandangan, pengemis, perilaku seks menyimpang (PSK, pezina, homo, lesbi, dan lainnya), dan akhirnya gila. “Kapitalisme menjadi sistem yang mendukung terjadinya hal tersebut,” cetusnya.

Memang, paparnya, dalam Yahudi Menggenggam Dunia (1991) disebutkan dalam rangka menguasai sumberdaya dunia, untuk mencapai tujuan harus mengandalkan sejumlah hal, yaitu minuman keras, obat-obatan terlarang, kebejatan moral dan seks, suap, dan mencampakkan hati nurani kemanusiaan.

“Sedangkan komunisme, dalam buku yang sama, dikatakan komunisme sudah berdiri sejak 1773 dirintis sejumlah pemilik modal internasional dengan tujuan meletakkan dasar berdirinya pemerintahan berideologi atheisme. Lenin berkata, ‘Ideologi kami, yaitu komunisme bukanlah suatu paham ideologis yang sebenarnya, tetapi alat mencapai tujuan.’ Tujuannya adalah menguasai sumberdaya dunia. Jadi, baik kapitalisme maupun sosialisme hasilnya sama-sama residu pembangunan,” tegasnya.

Padahal, ia mengingatkan, Allah telah berfirman dalam QS Ar-Rum: 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Islam

Pak Karebet menyimpulkan, kepemimpinan transformasional dengan way of life sekularisme dan sosialisme hasilnya hanya satu, yaitu maksiat. “Di akhirat akan membawa dosa dan di dunia menghasilkan kerusakan (fasad). Sebaliknya dengan Islam akan membawa ketaatan yang membawa pahala dan menghantarkan ke surga. Di akhirat akan bahagia, di dunia juga selamat dan bahagia,” ungkapnya.

Dengan demikian, ia menegaskan, kepemimpinan transformasional yang perlu diterapkan dunia saat ini adalah dengan way of life Islam. “Transformasi yang dimaksud adalah hijrah, bukan sekadar individunya, tetapi peradabannya,” tandasnya. [Dms]

Sumber artikel : https://muslimahnews.net/2022/10/08/12554/

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.