7 Desember 2022
dua pelajaran tragedi kanjuruhan

Dimensi.id-Menang dan kalah dalam pertandingan adalah hal biasa, karena dalam pertandingan pasti ada yang menang dan kalah. Ketika menjadi pemenang jangan jumawa, tapi yang kalah jangan berkecil hati dan terbawa emosi. Para pemain insyaallah sudah bisa bersikap sportif, namun sering supporter yang tidak bisa mengendalikan diri.

Seperti apa yang terjadi pada tragedi di Stadion Kanjuruhan. Setelah usai laga Arema vs Persebaya FC, yang berakhir 2-3 untuk kekalahan Singo Edan, suporter tuan rumah yang kecewa kemudian memasuki lapangan untuk memprotes pemain.

Mengambil Pelajaran

Tragedi yang memakan korban sampai ratusan harusnya dijadikan pelajaran agar tidak terulang kembali di kemudian hari. Merasa kecewa atas kekalahan tim kesayangan itu hal biasa, namun tidak usah diluapkan dengan kemarahan turun ke lapangan yang menjadi pemicu awal supporter Singo Edan mungkin terprovokasi melakukan tindak kekerasan. Kekalahan harus bisa diterima dengan lapang dada meskipun ada kekecewaan didalam hati saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

Namun disayangkan aksi suporter, menurut kesaksian beberapa suporter, ditanggapi aparat dengan brutal. Pendukung yang memasuki lapangan dipukul mundur, dengan puncaknya ditembaki gas air mata. Gas air mata itu yang membuat kepanikan pecah sampai ke tribune. Asap pedas dan menyesakkan membuat penonton berebut keluar stadion. Di tengah suasana panik itu, banyak yang akhirnya terinjak-injak dan kehabisan nafas. (https://sport-detik-com.)

Bijaklah Petugas Keamanan!

Petugas keamanan harusnya bersikap bijak untuk melindungi masyarakat dari petaka dan bahaya yang lebih besar. Petugas tidak boleh panik karena mereka sudah terlatih untuk menangani masalah ditengah masyarakat. Kekerasan atau tindakan yang membahayakan masyarakat dalam penanganan kerusuhan yang terjadi harus dihindari. Penanganan Keamanan harus ditujukan untuk melindungi dan mengamankan masyarakat bukan malah menjadikan mereka sebagai lawan yang harus dihabisi.

Sebagai contoh menggunakan gas air mata di stadion yang tertutup sangatlah berbahaya, tidak hanya bagi mereka pelaku kerusuhan, bahkan anak-anak dan perempuan yang tidak terlibat kerusuhan bisa menjadi korban. Iritasi, sesak nafas membuat seseorang akan berebut mencari jalan keluar.

Mereka panik dan berhamburan untuk keluar bukan karena takut dengan kerusuhan yang terjadi di lapangan oleh mereka yang tidak mampu mengendalikan emosi, tapi lebih pada efek dari penggunakan gas air mata yang membuat iritasi pada kulit dan mata serta sesak napas sehingga memaksa mereka untuk berebut mendapatkan jalan keluar.

Baca Juga : Tragedi Kanjuruhan, Selamatkan Generasi Masa Depan

Apalagi jika menurut saksi mata gas air mata juga ditujukan pada penonton yang ada pada tribune yang sama sekali bukan pelaku kerusuhan. Sungguh, ada keganjilan dalam penanganan keamanan yang terjadi pada pertandingan di Kanjuruhan, Kepanjen Malang.

Bukan untuk saling mencari kesalahan, namun perlu dievaluasi atas tragedi yang sudah terjadi, apa lagi sudah memakan korban jiwa yang begitu besar. Pelarangan penggunaan gas air mata dan senjata api tertulis dalam Pasal 19 b. “No firearms or ‘crowd control gas’ shall be carried or used (senjata api atau ‘gas pengendali massa’ tidak boleh dibawa atau digunakan),” begitu bunyi aturan FIFA. Tentunya sebuah aturan dibuat untuk dipatuhi karena mempertimbangkan berbagai aspek yang mungkin akan mengakibatkan hal buruk jika dilanggar.

Dalam aturan FIFA terkait pengamanan dan keamanan stadion (FIFA Stadium Saferty dan Security Regulations), penggunaan gas air mata nyatanya tidak diperbolehkan. Tapi kenapa pengamanan di pertanding sepak bola di Kanjuruhan Malang menggunakan gas air mata. Dan seolah semua sudah disiapkan. Tembakan gas air mata dilontarkan guna mengurai massa yang turun ke lapangan.

Dan bahkan tidak hanya itu menurut saksi gas air mata juga ditembakkan ke penonton yang ada di tribun. Lontaran gas air mata tersebut harus dibayar mahal. Suporter mengalami sesak napas dan tak sedikit dari mereka jatuh pingsan. Lebih buruk lagi, gas air mata tersebut memakan korban ratusan. Miris, petugas pengamanan yang harusnya memahami aturan itu malah melanggarnya.

Dua pelajaran yang bisa diambil dari kejadiaan ini adalah

Pelajaran Pertama

Pihak supporter tidak boleh emosi meskipun tim kesayangannya tidak bisa memenuhi harapan mereka. Kalah menang hal biasa dalam pertandingan dan semua harus disikapi dengan bijak. Semangat membela tim kesayangan yang berlebihan dengan meninggalkan sikap sportif dalam pertandingan akan memicu emosi yang mengarah tindakan kekerasan. Begitu pula semangat nasionalisme yang berlebihan bisa menjadi penyebab retaknya hubungan persaudaran dalam satu ikatan akidah yang bisa memecah belah umat.

Pelajaran Kedua

Petugas keamanan harus lebih mengedepankan pendekatan persuasif dari pada kekerasan dengan senjata. Petugas pengamanan tidak boleh panik karena mereka orang-orang yang terlatih sehingga secara professional bisa memberi rasa aman dan menjaga masyarakat dari berbagai ancaman dan tindak kekerasan. Kemudian, aturan dibuat untuk dipatuhi bukan dilanggar.

Bagi siapapun yang melanggar termasuk petugas keamanan harus diberi sanksi tegas agar dijadikan peringatan sehingga dikemudian hari, petugas keamanan akan lebih berhati-hati dalam menangani kasus kerusuhan agar tidak menelan banyak korban jiwa yang sia-sia. [Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.