6 Desember 2022

Dimensi.id-Sederet hal-hal janggal ditemui dalam pengungkapan tragedi Kanjuruhan yang hingga saat ini disebut menelan korban jiwa hingga 131 orang.

Tragedi Kanjuruhan menjadi sorotan. Tak hanya di dalam negeri, insiden di markas Arema FC itu juga dipantau media asing. Sejak berita meluas, terdapat beberapa perkara yang menuai tanda tanya dari netizen seperti penggunaan gas air mata dalam menghalau massa yang masuk ke lapangan pertandingan.

Berikut lima poin ganjil atau janggal dalam tragedi Kanjuruhan:

1. Gas Air Mata

Gas air mata adalah barang terlarang di dalam stadion. Aturan soal gas air mata diatur FIFA. Sementara dalam salah satu pasal regulasi keamanan dan keselamatan di stadion, PSSI menyebut senjata api atau ‘senjata pengurai massa’ tidak boleh dibawa atau digunakan.

Penonton yang selamat merasakan mata perih dan kesulitan bernapas. Begitu pula dengan pelatih Arema FC Javier Roca.

Penggunaan gas air mata juga diakui Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afianta. Jenderal bintang dua itu menjelaskan polisi menembakkan gas air mata karena para pendukung Arema tak puas dan turun ke lapangan. Polisi menganggap aksi mereka membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial. Senada dengan Nico, Menkopolhukam Mahfud MD juga menyebut penggunaan gas air mata diarahkan ke penonton.

Gas air mata pernah pula digunakan untuk melerai massa di stadion pada beberapa tahun lalu di Indonesia. Sementara netizen juga sempat mengunggah video dan foto mengenai kericuhan di stadion dalam kompetisi sepak bola Indonesia yang diselesaikan tanpa gas air mata.

2. Pintu Stadion Tertutup

Hal lain yang kemudian ditemukan dan cukup janggal adalah kasus pintu stadion yang tertutup. Di saat banyak orang mencari jalan keluar usai gas air mata ditembakkan, pintu keluar membuat jalan buntu.

Perihal pintu tertutup disebutkan Komisioner Komnas HAM Muhammad Choirul Anam. Dalam keterangannya Choirul Anam menjelaskan hanya ada dua pintu yang terbuka dari 14 pintu yang tersedia.

Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto mengatakan belum mengetahui secara pasti siapa yang menutup pintu. Sementara berdasarkan keterangan yang didapat oleh pihaknya, Kapolres Malang tidak memerintahkan penutupan pintu.

Sedangkan Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo juga menyebut pintu keluar Stadion Kanjuruhan hanya berkapasitas dua orang sehingga banyak penonton berdesakan dan terhimpit.

Suporter Arema pun mempertanyakan penutupan pintu, padahal biasanya ketika menjelang pertandingan usai pintu stadion sudah dibuka.

3. Jam Kick Off

Laga Arema FC vs Persebaya dimainkan pada Sabtu (1/10) pukul 20.00 WIB. Sebelumnya penyelenggaraan pertandingan sempat diusulkan pada sore hari.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD menyatakan pihak kepolisian telah mengusulkan laga berlangsung sore, namun kemudian ditolak panitia.

Mengenai penolakan tersebut, PSSI buka suara. Induk organisasi sepak bola di Indonesia itu menyatakan PT Liga Indonesia Baru selaku operator Liga 1 tetap menggelar laga malam hari karena tidak ada suporter Persebaya yang bertandang ke Malang.

4. Penemuan Botol Minuman Keras

Ketua Komite Disiplin PSSI Erwin Tobing membeberkan telah menemukan 42 botol minuman keras bersegel di Stadion Kanjuruhan seusai kericuhan, Sabtu (1/10) malam.

Hal tersebut terungkap dalam investigasi PSSI setelah bertemu dengan perwakilan manajemen Arema FC, Ketua Pelaksana Pertandingan Arema FC Abdul Haris, dan Security Officer Arema FC Suko Sutrisno

5. Pencetakan Tiket Lebih dari Kapasitas Stadion

Antusias fans Arema menyaksikan klub kesayangannya bermain melawan Persebaya Surabaya disambut pencetakan tiket sebanyak 42 ribu lembar.

Jumlah tersebut disebut Mahfud MD berlebihan karena melebihi kapasitas stadion yang hanya sanggup menampung 38 ribu orang.

Sementara pihak Arema menilai penjualan 42 ribu tiket masih berada di bawah kapasitas maksimal Stadion Kanjuruhan yang diklaim berdaya tampung 45 ribu penonton. [Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.