7 Desember 2022

Dimensi.id-Kekerasan terhadap anak memang menjadi masalah krusial di negeri ini. Meskipun berbagai cara telah ditempuh pemerintah untuk menyelesaikan hal ini, termasuk mengembangkan Kota Layak Anak (KLA), nyatanya belum juga mampu mengatasi hal tersebut sampai tuntas. Kekerasan terhadap anak terus mewabah bagaikan virus berbahaya.

Dilansir oleh kompas.com (20/01/22), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, melaporkan kekerasan terhadap anak naik dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Yakni dari 11.057 menjadi 14.517 kasus yang meliputi kekerasan seksual, fisik, dan psikis.

Sementara itu, sebanyak 32 kasus kekerasan terhadap anak dan 28 kasus kekerasan terhadap perempuan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, dikabarkan tengah mendapat bimbingan dari Lembaga Save Children. Diketahui kasus kekerasan terhadap anak ini didominasi oleh kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Untuk melakukan perlindungan terhadap anak, Save Children pun membentuk kelompok peduli anak tingkat desa. (Tempo.co, 13/09/2022)

Darurat Kekerasan terhadap Anak

Fakta di atas menunjukkan kepada kita bahwa kekerasan kepada anak di negeri ini sudah berada di level gawat darurat. Pemerintah sudah semestinya mengambil langkah serius dalam mengatasi hal ini. Agar bisa diatasi sampai tuntas. Sebab, jika dibiarkan tentu sangat berbahaya dan menghancurkan masa depan generasi penerus bangsa ini.

Untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap anak tentu dibutuhkan kerjasama antara keluarga, masyarakat dan negara. Setiap keluarga dan masyarakat harus dibina agar taat pada agama (Islam). Ketika keluarga dan masyarakat taat pada agama (Islam), maka dapat dipastikan akan tercipta lingkungan yang sehat bagi anak-anak. Karena agama merupakan rambu-rambu bagi manusia dalam melakukan aktivitas.

Sementara pemerintah harus segera mengambil langkah serius agar masalah ini segera dapat diatasi sampai tuntas. Seperti menerapkan hukum yang tegas dan menjerakan bagi pelaku kekerasan terhadap anak.

Namun sayang, pemerintah tampak lalai dalam hal ini. Mewabahnya kekerasan terhadap anak mengindikasikan bahwa pemerintah telah gagal melindungi dan menjamin keamanan serta keselamatan anak-anak.

Baca Juga : Y20 Alihkan Perhatian Pemuda Demi Syahwat Dunia

Memang benar pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap anak. Termasuk membangun Kota Layak Anak (KLA) di berbagai daerah. Namun nyatanya hal ini tidak berefek signifikan. Kekerasan terhadap anak tak kunjung turun. Hal ini membuktikan bahwa program KLA mandul dalam memberi jaminan lingkungan yang dibutuhkan anak.

Sekadar informasi, KLA (Kota Layak Anak) adalah program yang dibuat oleh pemerintah sebagai langkah untuk memenuhi hak-hak anak dan mengatasi kekerasan terhadap anak. Namun, hingga kini program tersebut tak sanggup membendung kekerasan terhadap anak. Sebab, keempat hak anak seperti; hak untuk hidup, hak untuk tumbuh kembang, hak untuk mendapatkan perlindungan dan partisipasi masih belum terpenuhi dengan baik.

Akibat Sistem Kapitalisme-Sekuler 

Sejatinya, kekerasan terhadap anak tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem Kapitalisme-sekuler di negeri ini. Nilai-nilai hidup yang terkandung dalam sistem ini menganut paham pemisahan agama dari kehidupan (sekuler). Ketika agama sudah tidak dijadikan lagi sebagai parameter kehidupan, maka manusia akan dengan mudah teracuni akal dan pemikirannya. Sehingga rentan tergelincir pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.

Di sisi lain, nilai kebebasan yang terdapat dalam sistem ini pun telah menghilangkan ketakwaan individu dan negara. Alhasil, orang terdekat anak-anak yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi sumber ancaman bagi mereka.

Ditambah kurangnya peran negara serta lemahnya sistem hukum terhadap pelaku maksiat. Hal ini diperparah dengan maraknya tayangan-tayangan yang berbau maksiat. Alhasil, terjadilah beragam tindak kejahatan. Termasuk kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak.

Islam Solusi Kekerasan terhadap Anak 

Sebagai agama sempurna, Islam hadir ke muka bumi ini bukan hanya sekadar agama ritual belaka, tetapi Islam mempunyai solusi untuk semua masalah kehidupan. Termasuk masalah kekerasan terhadap anak.

Dalam Islam, anak-anak demikian dimuliakan. Karena anak-anak adalah aset berharga bagi bangsa dan negara. Di tangan anak-anaklah masa depan bangsa dan negara dipertaruhkan. Tersebab itulah Islam tidak akan membiarkan anak-anak menjadi korban kekerasan, apapun bentuknya.

Dulu pada masa kekhilafahan Islam, segala macam hal yang menjurus pada kejahatan termasuk kekerasan terhadap anak dicegah sekuat tenaga. Sejak dini, negara Khilafah membina ketakwaan dan keimanan rakyatnya dengan menerapkan sistem pendidikan agama yang kuat. Sehingga rakyat menjadi pribadi yang taat pada syariat dan jauh dari hal yang berbau maksiat.

Negara Khilafah pun membudayakan amar ma’ruf nahi mungkar dan saling menasihati. Sehingga ketika kejahatan terjadi, akan segera bisa dicegah dan diatasi. Sebab, masyarakat tak segan saling menasihati. Negara Khilafah juga akan mengawasi berbagai tontonan di media-media yang ada. Sehingga tidak ada lagi tayangan-tayangan berbau kekerasan dan maksiat.

Jika terjadi kekerasan terhadap anak, maka negara Khilafah akan segera mengatasi hal tersebut sampai tuntas. Negara Khilafah menerapkan aturan tegas kepada pelaku kekerasan terhadap anak. Jika kejahatan yang dilakukan adalah kekerasan seksual, maka negara Khilafah akan menerapkan hukuman rajam (dilempari batu sampai mati) bagi pelaku yang sudah menikah dan jilid (dicambuk 100 kali) bagi pelaku yang belum menikah. Namun apabila kejahatan yang dilakukan tidak sampai berzina, maka negara Khilafah akan menerapkan sanksi (ta’zir) yang jenis kadarnya ditentukan oleh Khalifah dan dipastikan bersifat menjerakan.

Tentunya, sanksi dan hukuman ini bisa bersifat sebagai pencegahan sekaligus memberikan efek jera bagi pelaku maupun orang lain. Sehingga tidak ada lagi celah lahirnya kejahatan serupa.

Demikianlah betapa sempurnanya Islam dalam mengatasi seluruh masalah kehidupan. Islam mengentaskan masalah dari akarnya. Hanya sistem Islam yang mampu menjaga dan menjamin keamanan anak-anak. Karena itu, sudah sepantasnya kita kembali kepada Islam dan menerapkannya secara menyeluruh dalam seluruh sendi kehidupan. Kemudian membuang sistem Kapitalisme-sekuler biang segala kerusakan.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.[Dms]

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.