6 Desember 2022

Dimensi.id-Sejak meninggalnya Ratu Elizabeth II dari Britania Raya atau Ratu Elizabeth II atau dengan nama aslinya Elizabeth Alexandra Mary pada 8 September 2022 lalu, kita disuguhi berbagai seremonial kerajaan.

Wanita yang lahir tanggal 21 April dan dinobatkan sebagai ratu pada tahun 1952, telah menjadi ratu monarki konstitusional dari 16 negara berdaulat dan teritori beserta dependensinya, serta ketua dari 54 anggota Negara-Negara Persemakmuran dan sekaligus Gubernur Agung Gereja Inggris. Sekaligus disebut sebagai wanita pemegang kekuasaan terlama yaitu selama 70 tahun.

Selama ia bertahta

Elizabeth II telah mengalami pergantian perdana menteri sebanyak 15 kali dan susah bermitra 14 kali dengan Presiden Amerika Serikat. Sungguh bukan perjalanan yang singkat untuk sebuah negara, Inggris yang tadinya adalah imperium dunia yang kemudian berhasil melenyapkan Khilafah Islamiyah terakhir di Turki Ustmani.

Seremoni pemakaman kenegaraan selama satu jam yang digelar di Westminster Abbey pada Senin 19 September 2022 lalu ditetapkan sebagai hari libur nasional di Inggris. Ratusan tamu kehormatan asing dan pemimpin berbagai negara hadir langsung dalam seremoni itu.

Dari Westminster Abbey, jenazah mendiang Ratu Inggris dibawa ke Kastil Windsor untuk menjalani misa pemakaman di Kapel St George dan dimakamkan dalam acara penguburan privat pada Senin malam waktu setempat. Prosesi pemakaman ini disiarkan berbagai saluran televisi dan penyedia layanan streaming.

Banyak Pihak Menduga

Seremoni pemakaman kenegaraan ini menjadi acara kenegaraan paling mahal di Inggris yang digelar pada era modern. Dengan biaya pemakaman kenegaraan diperkirakan melebihi 8 juta Poundsterling (Rp 136,4 miliar), meskipun pihak Istana Buckingham tidak pernah mempublikasikan biayanya secara resmi.

Haruskah kaum Muslim mengucapkan Rest in Peace (RIP) atas meninggalnya Ratu Elizabeth? Tentu secara akidah tidak perlu, terlebih dengan pembuktian sejarah, negara Inggris adalah salah satu negara yang menghancurkan institusi negara Islam, Khilafah, melalui tangan anteknya Kemal Attaturk.

Dalam buku, Konsepsi Politik Hizbut Tahrir, karya Syekh Taqiyuddin an-Nabahani , pada bab Permasalahan Besar Dunia sub bab Masalah Timur Tengah dijelaskan bahwa masalah Timur Tengah yang hingga kini terus berkonflik erat kaitannya dengan Islam dan bahayanya bagi Barat, letak strategis, negara Yahudi, penjajahan dan minyak.

Masalah yang Harus Diketahui

Masalah ini penting untuk kita ketahui, sebab tidak hanya menyangkut penduduk kawasan Timur Tengah dan kaum Muslim saja, tapi juga dunia. Yang pertama Islam, ia akan senantiasa menjadi bahaya bagi AS dan Barat. Sebab, di kawasan inilah titik tolak yang alamiah untuk dakwah Islam ke seluruh dunia. Maka, setelah sosialisme runtuh, AS menjadikan Islam sebagai musuh satu-satunya. Bisa kita tebak, darimana asal sebutan terorisme, ekstrimisme, radikal dan sebagainya yang hingga kini terus disematkan pada Islam.

Padahal, Islam hari ini hanya sebagai agama yang dipeluk seseorang, tidak ada negara atau tentaranya. Rupanya kejayaan Islam selalu membayangi dan mereka tak mau dihinakan lagi. Sedangkan masalah letak strategis Timur Tengah dan dominasinya terhadap transportasi itu dapat kita lihat dari titik temu tiga benua yaitu Afrika, Eropa dan Asia, penguasaannya terhadap selat dan laut menjadikannya sebagai titik temu jalur bahan mentah dan komoditas di antara tiga benua tersebut.

Inilah yang menjadi alasan mengapa Barat membangun banyak pangkalan militer yang diantaranya ada pangkalan nuklir. Adalah karena posisi kawasan Timur Tengah ini sangat strategis untuk membendung Uni Soviet dari Timur Tengah dan Afrika. Setelah ada kesepakatan antara dua negara adidaya , AS dan Soviet, memang sempat ada penghapusan pangkalan militer. Namun setelah selesainya perang dingin dan hancurnya negara Uni Soviet, AS yang rakus kembali membangun pangkalan dalam rangka menghadapi Rusia dan Eropa.

Lantas dimana Inggris? Ia mengamini keinginan AS untuk menanam Institusi Yahudi di Palestina yang menjadi jantung dunia Islam. Suasana politik menjadi tidak stabil, terlebih dengan adanya penjajahan. Di Timur Tengah terdapat minyak yang jumlahnya lebih dari setengah minyak dunia. Terdapat pula bahan-bahan mentah di Yordania, Irak, Suriah, Turki, Iran dan negara lainnya yang jumlahnya setara dengan 10 kali lipat kekayaan alam gabungan AS dan Eropa.

Invasi AS untuk menguasai teluk adalah buktinya, betapa negara Barat berlomba-lomba dan bertarung untuk menjajah Timur Tengah. Hingga hari ini menjadi persoalan dunia yang paling rumit. Padahal awalnya kawasan Timur Tengah ada dibawah Daulah Islam hingga pertengahan abad ke-18. Sejak Konferensi Berlin, mulailah negara-negara Eropa seperti Perancis, Inggris dan Italia menginvasi kawasan Timur Tengah. Perancis dan Italia melemah, muncullah Inggris sebagai penjajah sekaligus penguasa.

Saat itu keberuntungan sepertinya berpihak pada Inggris, karena melemahnya Perancis dan tetapnya AS dengan politik isolasinya pasca perang dunia I hingga Inggris melenggang , menjajah tanpa lawan dari abad 19 hingga pertengahan abad 20.

Tahun 1950

keadaan berubah, AS mengadakan revolusi, perang, manuver dan konspirasi besar-besaran terkait politik, hingga AS berdiri sebagai pemegang kekuasaan di Timur Tengah, dengan Inggris selalu berada di sampingnya untuk mengawasi.

Lebih kekinian, rekam jejak skandal-skandal keluarga kerajaan samasekali tak menunjukkan sebuah keluarga yang modern dan bermartabat. Kedukaan rakyat Inggris akan kematian Ratu Elizabeth II seolah membius dunia untuk mengikutinya. Bahkan ada seorang pria berkebangsaan Yaman yang ditangkap polisi Arab Saudi karena melakukan umroh untuk arwah Ratu Elizabeth II. Lantas, bagaimana dengan fakta bahwa jasad sang ratu tidak dikubur dalam tanah, melainkan di bawah lantai kapel di dalam peti berlapis timah, bukankah secara akidah sudah tertolak?

Baca Juga : Rakyat Demo, DPR Tepuk Tangan, Paradox Negeri Demokrasi

Sungguh, sejarah tidak bisa dihilangkan begitu saja, perseteruan Amerika-Inggris di kawasan timur tengah menunjukkan betapa rakusnya mereka dalam menguasai kekayaan alam negeri-negeri Muslim. Hingga terus menerus memunculkan konflik yang membuat ketidakseimbangan politik, dengannya maka hegemoni kapitalis terus berlanjut, Islam tak akan pernah kembali bangkit menjadi pemimpin dunia. Maka, dalam pandangan Islam terhadap kolonialisme adalah haram, bahkan kaum Muslim harus melek kesadaran politiknya dan fakta-fakta konstelasi politik yang ternyata hanya untuk memerangi Islam dan menjarah kekayaannya.

Kelak institusi negara sebagai kepemimpinan umum kaum Muslim di seluruh dunia dengan penerapan syariat Kaffah, yang disebut Khilafah adalah negara ula ( adidaya) yang akan mengganti setiap kezaliman hari ini dengan kesejahteraan dan kemuliaan. Sebab, sebagai negara ula kedudukannya adalah untuk menjaga kestabilan hubungan antar negara agar kemaslahatan seluruh penduduk bisa terakomodir dengan baik. Bukan dengan penjajahan, namun dengan dakwah dan jihad. Wallahu a’lam bish showab.[Dms]

1 thought on “RIP Ratu Elizabeth II dan Jejak Sejarah Inggris

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.