7 Desember 2022

Dimensi.id-Pemikiran yang terjangkiti virus moderasi enggan menggunakan agama sebagai alasan untuk melakukan sesuatu. Landasan berfikirnya bukan Islam, tapi sekuler, menghilangkan aturan agama dalam kehidupan. Berfikir pragmatis sehingga setiap perbuatannya bukan didasarkan halal dan haram, tapi lebih pada membangun citra yang dianggap baik oleh manusia.

Seperti apa yang disampaikan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka ingin mengubah budaya mengonsumsi daging anjing di wilayahnya. Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi daging anjing bukan persoalan haram atau halal, namun tak sesuai dengan citra kota Solo. Gibran menyampaikan itu usai menemui lima anggota Fraksi PKS DPRD Kota Solo di rumah dinasnya, Loji Gandrung, Rabu (14/9).

Menghilangkan kebiasaan buruk memang bagus apalagi itu dilarang dalam ajaran Islam. Tapi sayang jika alasannya bukan halal haram tapi lebih pada citra. Tujuan branding agar nampak baik dihadapan manusia, bukan untuk mencari ridho Allah dengan menjauhi apa yang dilarang dalam SyariatNya. Moderasi telah merubah pemahaman menjadi sekuler, dengan meninggalkan agama dalam berperilaku dan bersikap dalam kehidupan.

Berislam kaffah dijauhi dan beragama tidak boleh sepenuh hati, karena takut dikatakan radikal, intoleran dan anti kebhinekaan. Dengan alasan toleransi, Identitas sebagai muslim taat dihilangkan. Kebenaran semu dan menipu dijadikan landasan berfikir untuk menentukan kebenaran. Korupsi dilakukan selama tidak ketahuan dan membawa citra buruk. Apakah Makan daging anjing dan babi juga akan dihalalkan jika tidak merusak citra budaya satu masyarakat. Nilai kebenaran nisbi yang bersumber dari pemikiran manusia dijadikan alasan untuk melalukan sesuatu, dengan meninggaljan hukum Syara’ sebagai standar perbuatan, halal dan haram.

Islam ditinggalkan adalah sumber kesengsaraan. Islam ditinggalkan awal dari kerusakan. Sudah terbukti banyak aturan dibuat bukan untuk mensejahterakan rakyat. Citra dibangun hanya menghabiskan uang rakyat. Budaya korupsi dibiarkan selama tidak ketahuan dan dianggap tidak merusak satu citra atau branding, kalaupun ada yang tertangkap namun dengan mudah dibebaskan. Uang telah membayar keadilan, sementara mereka tidak punya uang dan jabatan tidak mendapatkan keadilan.

Pencitraan hanya membentuk pribadi munafik yang menampilkan banyak kebaikan meskipun hanya janji manis yang tidak untuk ditepati. Menipu dan berbohong dijadikan cara untuk membangun citra. Terlihat bagus dipermukaan, tapi menyimpan banyak keburukan. Namun, perlahan bau busuk yang tersimpan akan tercium juga.

Contoh nyata kasus yang sedang viral adalah wanita emas yang selalu ingin memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, namun semua hanya di mulut saja yang hanya untuk menarik simpati rakyat. Namun, dia tega untuk menggunakan uang rakyat hanya untuk memperkaya diri sendiri. Korupsi dilakukan karena dipikir itu tidak akan dilihat dan ketahuan, sehingga tidak akan merusak citra.

Baca Juga : Sistem Islam Berantas Judi Hingga Akarnya

Namun, saat kebusukan terkuak rasa malu sungguh tidak tertahankan yang diungkapkan dengan menjerit histeris saat digelandang dan dimasukkan mobil tahanan. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua, saat Islam ditinggalkan dan lebih mengedepankan pencitraan akan berakhir dengan kehinaan. Itu baru hukuman di dunia, di akhirat adzab pedih pasti akan menunggu karena pilihannya untuk meninggalkan aturan Allah.

Moderasi adalah buah sekularisme yang diajarkan di sekolah untuk mendangkalkan akhidah. Generasi beriman dan bertaqwa dicoba dihilangkan dan diganti dengan Generasi yang gamang dalam melangkah. Akhidah yang tidak mengakar kuat akan mudah goyah. Sistem yang buruk akan mempengaruhi mereka, melakukan perbuatan hanya untuk mendapatkan pengakuan dari manusia. Pujian dan sanjungan yang diinginkan dengan membangun citra. Semua kebaikan hanya lips service tapi tidak mengakar ke dalam hati.

Fenomena hacker Bjorka, juga membuat kita tersadar bahwa begitu banyak kebusukan yang disimpan oleh mereka yang suka melakukan pencitraan. Bukan kesadaran dari pemahaman untuk berbuat kebaikan yang dilandasi iman dan taqwa tapi lebih untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Standar perbuatan bukan halal dan haram tapi lebih pada citra.

Masihkah berfikir buruk terhadap Islam padahal kerusakan yang terjadi saat ini karena tidak diterapkannya Islam secara kaffah. Kedzoliman begitu vulgarnya ditunjukkan, karena mereka sudah meninggalkan Islam. Korupsi semakin merajalela juga karena Islam ditinggalkan saat menjalani kehidupan. Bukan halal dan haram yang menjadi landasan satu perbuatan, tapi citra yang sering semu dan menipu. Hanya Islam solusi tuntas untuk menyelesaikan semua masalah bukan moderasi buah dari sekularisme yang menjadi sumber semua masalah.

Baca Juga : Seruan untuk Mahasiswa dan Pemuda Islam

Saatnya kita menjadikan Islam sebagai standar bertingkah laku, bukan pencitraan. Jika ingin perbaikan di negeri ini, terapkan Islam secara kaffah di semua aspek kehidupan, bukan hanya di tempat ibadah. Kehidupan Islami akan membentuk penduduk beriman dan bertaqwa, sehingga mereka takut berbuat keburukan karena Allah, bukan pengakuan manusia.

Pintu berkah dari langit dan bumi akan terbuka lebar untuk penduduk satu negeri yang beriman dan bertaqwa, bukan mereka yang pandai melakukan pencitraan dan menyimpan keburukan, karena Allah Maha Tahu atas apa yang ditampakkan maupun yang disembunyikan.[Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.