5 Oktober 2022

 

Dimensi.id-Penyebab enam warga Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, yang sebelumnya dianggap misterius akhirnya terungkap. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr. Ati Pramudji Hastuti mengatakan, keenam orang itu ternyata meninggal karena penyakit tuberkulosis. “Kasus TB (tuberkulosis) yang meninggal dunia (di Baduy),” kata Ati.

Dalam rentang waktu itu, petugas kesehatan juga menemukan penyakit malaria, campak rubela, bahkan stunting di wilayah Baduy. “Ke depannya kita terus lakukan edukasi. Alhamdulillah dari pihak adat sudah tiga hari mengizinkan masuk. Kemarin di Baduy Dalam sekarang ekspansi ke Baduy Luar,” tambah Ati.

Di sisi lain, utang menjerat rakyat, Undang , warga Kampung Haur Seah, Cipiyung, Banyuresmi, Garut bernasib pilu usai rumahnya dirobohkan oleh rentenir karena tak bisa melunasi utang sang istri senilai Rp 1,3 juta.

Naasnya, saat sejumlah pekerja bangunan mendatangi rumahnya dan langsung membongkar rumah semi permanen tersebut. Undang beserta anak istrinya sedang ke Bandung guna mencari pekerjaan. “Saya kebetulan enggak ada pas dibongkarnya, lagi di Bandung. Pas ke sini rumah sudah ambruk,” kata Undang (detik.com,17/9/2022).

Di sisi lain lagi, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Prof Drajat Martianto menyebut bahwa 50 persen masyarakat Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi. Hal itu terjadi karena Indonesia sedang menghadapi tiga masalah gizi, yakni gizi kurang, obesitas dan kurang gizi mikro. Mengomentari hal itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan, kelaparan tersembunyi terjadi bukan karena minimnya pendapatan masyarakat, tetapi pergeseran pola tradisi memasak nasi di masyarakat (kompas.com, 20/9/2022).

Buah Busuk Sistem Sekuler: Rakyat Melarat, Penguasa Abai

Membaca fakta di atas sungguh ironi, sebab Indonesia bukan negara miskin. Sumber daya alam melimpah, hingga penyanyi legendaris Koes Plus menciptakan lagu berjudul Kolam Susu, dimana disebutkan dalam syairnya tongkat, kayu dan batu jadi tanaman. Artinya apa? Ketiga benda itu adalah benda mati, namun ketika dimasukkan tanah, menjadi tanaman. Tongkat sebagaimana tebu, kayu sebagaimana singkong dan batu sebagaimana umbi-umbian.

Lantas bagaimana dengan gunung emasnya? Sungguh karunia Allah SWT tak terhingga, setinggi gunung ketika di eksplore menghasilkan banyak mineral dan logam mulia alias emas, yang hasil olahannya semisal untuk biaya haji, bisa memberangkatkan seluruh penduduk negeri ini.

Faktanya, beragam fakta mengenaskan menimpa masyarakat Indonesia, mulai dari rumah dibongkar karena terjerat rentenir, mati misterius karena penyakit tak tertangani hingga data akademik yang menyatakan bahwa 50% penduduk alami kelaparan tersembunyi. Semua yang terjadi bukan kasus baru dan terus akan berlanjut. Berganti pemimpin berharap berganti keadaan, nyatanya juga tetap tak ada perubahan.

Setiap lima tahun sekali, rakyat Indonesia diberi harapan baru, pemimpin dari kalangan ulama, korporat, teknokrat, militer, putri Proklamator, pernah memimpin, namun selama itu pula nasib rakyat kian memburuk. Kemudian wacana isi parlemen dengan kaum Muslim yang banyak, agar suara di dengar, namun nyatanya harus sesuai syarat KPU yaitu berkolaisi supaya sesuai dengan quota yang diminta. Atau suara perempuan di parlemen ditambah, agar nasib perempuan diperhatikan.

Semua hanya berkutat pada ganti pemimpin, bukan ganti sistem. Sebab, selama sistem yang diemban negara ini adalah sistem sekuler kapitalistik tentulah sejahtera hanya ilusi. Rakyat harus mulai sadar, kita sedang tidak baik-baik saja, sebab kita Muslim.

Dan buahnya adalah rakyat melarat. Tak ada yang bisa menjamin kapitalisme yang tegak di atas asas sekulerisme ini jika terus berlanjut dan memberikan kesejahteraan dari segala sisi. Sekulerisme artinya memisahkan agama dari kehidupan. Lihatlah betapa kapitalisme sangat rakus memperkaya diri tanpa paham halal haram dan tidak ada batasan kepemilikan pribadi, umum atau negara. Sepanjang memiliki modal besar di atas rata-rata maka apapun bisa dimiliki.

Islam : Pemimpin Harus Bertakwa

Tak ada kisah rakyat terlantar karena Negaranya abai sepanjang sejarah peradaban dunia di bawah kepemimpinan Islam. Bahkan, negara Islam menjadi mercusuar kegemilangan bangsa yang disegani dan ditakuti oleh bangsa-bangsa di dunia.

Tentu sudah masyhur bagaimana Sultan Abdulmejid I , khilafah Turki Ustmaniya ketika membantu rakyat Irlandia yang kelaparan selama tujuh tahun pada abad ke-19 yang menewaskan lebih dari satu juta orang, dikenal sebagai “Great Famine” atau “Potato Famine” karena kelangkaan kentang.

Saat itu juga, sultan menawarkan bantuan sebesar £10.000 atau sekitar USD 1,3 juta saat ini, Namun, Ratu Victoria yang telah mengucurkan bantuan ke Irlandia sebesar £2.000 menolak, sang ratu tidak mau menerima bantuan apa pun yang melebihi bantuan yang dia berikan.

Sultan Abdulmejid I kemudian dengan berat memangkas tawaran bantuan dan mengirim £1.000 ke Irlandia. Namun, sultan tetap ingin memberikan bantuan yang lebih besar untuk bencana kelaparan ini. “Dia sangat ingin memberikan bantuan lebih banyak. Itulah sebabnya dia mengirimkan tiga kapal membawa makanan, obat-obatan dan keperluan lainnya ke Irlandia,” kata Levent Murat Burhan, duta besar Turki di Dublin.

Operasi pengiriman bantuan yang bersejarah itu dilakukan secara diam-diam, karena angkatan laut Inggris tidak mengizinkan kapal asing berlabuh di pelabuhan mereka baik di Dublin atau Cork. Logikanya, sumbangan yang begitu besar, jika kebutuhan dalam negeri belum tercukupi, tidak mungkin Kholifah Abdul Majid memutuskan bantuan sebesar itu. Namun nyatanya, sikap peduli terhadap negara tetangga sangat besar.

Hal ini juga dimaksudkan untuk syiar dakwah. Banyak lagi contoh kasus-kasus ketika para pemimpin negara Islam ini berlomba- lomba mengurusi urusan rakyatnya tanpa melibatkan asing, dari sejak bagaiamana Umar bin Khattab yang memanggul gandum sendiri untuk dibagikan kepada janda pemasak batu, Ali bin Abi Thalib yang kalah sidang dalam kasus pencurian baju shiraul karena kurang bukti.

Sistem Islam, bersinergi dengan pemimpin yang bertakwa jelas akan menghasilkan pengurusan urusan rakyat secara totalitas. Sebab, dalam Islam sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan adalah kebutuhan pokok komunal yang penyediaannya harus negara. Bukan dialihkan kepada swasta atau asing.

Hukum pun bukan berdasar keputusan anggota anggota dewan yang terhormat. Juga bukan peninggalan Belanda, bernama KUHP. Melainkan dari Allah SWT. Wallahu a’lam bishowab. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: