3 Oktober 2022

Dimensi.id-Dampak kenaikan BBM telah mulai dirasakan masyarakat. Berbagai bahan kebutuhan pokok telah resmi naik harga, muncul orang miskin baru, karena banyak yang tak terbeli oleh penghasilan yang kian tertinggal dengan harga. Mahasiswa demo, menyuarakan ketidakadilan ini. Namun sayang, tak hanya sepi dari pemberitaan media, juga sepi dari tanggapan para anggota dewan yang notabene mewakili rakyat.

Entahlah rakyat mana yang mereka wakili, yang jelas ketika massa berunjuk rasa di depan Gedung Parlemen, para anggota dewan justru terekam merayakan hari ulang tahun Ketua DPR RI Puan Maharani di tengah Rapat Paripurna. Tentu saja hal ini menciptakan kontroversi, yang sudah tak asing lagi jika anggota dewan tak hanya suka adu mulut bahkan hingga adu otot.

Peneliti Formappi (Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia), Lucius Karus, secara terang-terangan mengecam DPR karena dianggap sibuk berpesta ketika massa menolak kenaikan harga BBM. Hal ini disampaikannya di acara Hotroom yang disiarkan di kanal YouTube metrotvnews. “Ironi ini betul-betul ditunjukkan di DPR. Ada massa buruh di depan gerbang yang sedang berdemonstrasi, tetapi di ruang paripurna DPR ada pesta ulang tahun Ketua DPR,” ujar Lucius.

Masinton, politikus dari PDI-P yang juga anggota Dewan , mengoreksi penyebutan “pesta” dengan hanya memperingati hari jadi DPR yang bertepatan dengan ulang tahun Puan Maharani. Ini bentuk spontanitas anggota dewan, tak ada pesta, dimana pestanya demikian ia menyanggah.

Lucius masih berkeras, apalagi karena rapat paripurna yang disela dengan perayaan ulang tahun itu membuat massa yang menolak kenaikan harga BBM gagal menemui Puan.“Saya kira sih potret paripurna DPR kemarin yang diisi dengan momen perayaan HUT Ketua DPR Puan Maharani sesungguhnya mengkonfirmasi ironis DPR sebagai wakil rakyat. Apalagi di saat bersamaan dengan Paripurna yang diisi dengan perayaan Ulang Tahun itu, di pintu masuk DPR sendiri sedang ada demonstrasi massa yang ingin menyampaikan aspirasi ke DPR,” kata Lucius.

“Ironis yang memalukan itu sesungguhnya. Rakyat sedang berpanas-panas memperjuangkan penolakan kenaikan harga BBM, sedangkan DPR di ruangan dingin justru berleha-leha merayakan hari ulang tahun ketua DPR-nya,” lanjutnya. Namun memang tak sekali dua pemerintah tak punya empati dengan kondisi rakyat yang babak belur akibat pandemi Covid-19.

Sangat bertolak belakang dengan tema kemerdekaan RI ke 77 tahun ini, “”Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. Dengan apa? Lisan para pejabatnya saja tak kurang menghujat rakyat sebagai beban APBN, subsidi harga BBM tak tepat sasaran seolah orang kaya tak boleh menikmati hak energi yang sebenarnya merupakan kepemilikan umum. Pembangunan proyek raksasa yang minim fungsi untuk rakyat padahal dibiayai dari pajak rakyat dan utang luar negeri.

Saat rakyat menjerit menolak kenaikan BBM, DPR tidak punya empati. Sebaliknya DPR tetap rayakan ultah ketua DPR . Sangat berbeda dengan kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, lahir tahun 63 Hijrah (684 M) dan wafat tahun 101 Hijriyah (720 M). Ayahnya bernama Abdul Aziz, putra Khalifah Marwan bin al-Hakam yang merupakan sepupu Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan RA. Ibunya adalah Laila, cucu Khalifah Umar bin Khattab RA .

Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz sedang sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja. Tiba-tiba putranya masuk ke ruangan bermaksud hendak membicarakan sesuatu.“Untuk urusan apa putraku datang ke sini, urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar. “Urusan keluarga, ayahanda,” jawab sang putra.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap. “Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran. “Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam. “Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah.” Sungguh tinggi dan mulia aklak seorang pemimpin dalam Islam. Bahkan saat ia punya kekuasaan dan bisa melakukan apapun tidak ia lakukan dan masih memikirkan rakyat dengan memilah kepentingan.

Karakter pemimpin hari ini sangatlah jauh sangatlah jauh dari penggambaran pemimpin dalam Islam. Apalagi, DPR dalam Islam dimisalkan majelis umat yang tak memiliki keputusan hukum tentulah tak elok jika arogan. Asas trinitas kekuasaan dalam sistem presidensiil inilah yang menjadikan kekuasaan bak kue yang harus dibagi-bagi untuk setiap partai atau kelompok.

Yudikatif, Eksekutif dan Legislatif yang jika secara teori jika bekerja dengan baik akan bisa mewujudkan pemerintahan yang solid. Masalahnya, ketiganya bekerja dalam sistem kufur yaitu demokrasi yang menuhankan suara manusia. Demikianlah, akhirnya produk hukum dari hasil keputusan Legislatif dalam hal ini adalah DPR yang kemudian dijalankan oleh eksekutif, presiden dan para pembantunya, diawasi oleh yudikatif, MK dan jajarannya rentan dimanipulasi oleh berbagai kepentingan. Kepentingan para manusia yang lebih berkuasa dari mereka bertiga yaitu para kapitalis. Pemodal dan pebisnis.

Yang dalam rangkaian pemilihan anggota dewan sangat besar kontribusinya yaitu penyedia dana kampanye. Terlihat bukan, jika sistem ini hanya berputar diantara mereka, maslahat mereka sedang rakyat? Hanya menjelang pemilu diikutsertakan, selanjutnya dijadikan sapi perah, dihujat dan dianggap beban. Adilkah ini?

Islam Lahirkan Pemimpin Bertakwa Cinta Rakyat

Rasulullah Saw bersabda, “Takutlah kalian terhadap doa orang-orang yang terzalimi karena tidak ada hijab antara doanya dan Allah” (doanya pasti dikabulkan)” (HR Muslim). Bayangkan, betapa besar kezaliman yang tercipta dari seorang pemimpin.   Setiap kebijakan yang ia putuskan akan sangat berimbas kepada keadaan masyarakat. Baik buruknya pemerintahan yang ia pimpin pun tak luput dari apa yang ia putuskan.

Maka, Allah SWT telah memberikan tuntunan kepada pemimpin. Yang dengan tuntunan itu akan tercipta keadilan, hilang kezaliman dan terwujud kesejahteraan. Hal itu sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW yang artinya, “Aku tinggalkan dua perkara yang kalau kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu kitabullah dan sunnah Rasul”.

Lepas dari keduanya justru mudarat yang tercipta. Sebab, manusia adalah makhluk, jika dibiarkan ia membuat aturan, sementara makhluk itu tidak azali, terbatas, serba kurang dan membutuhkan yang lain. Lantas mengapa hari ini kita mendapati berada dalam kekuasan sistem kufur ini? Karena Institusi Islam berupa negara diruntuhkan oleh laknatullah Kemal  Attaturk, atas arahan dan dukungan Inggris, imperium kala itu.

Sejak itulah, kaum Muslim bak kehilangan perisai pelindung. Islam digambarkan seolah biang kerok persoalan dunia dan pencipta konflik berdarah. Padahal, para kufar inilah, yang saling bersekutu membuat Islam hancur bahkan tak kembali lagi memimpin dunia. Mereka ciptakan pemimpin boneka nir empati agar bisa melanggengkan hegemoni mereka.

Tidak rindukah kita dengan sosok pemimpin yang cinta kepada rakyat dan hanya takut kepada Allah SWT? Rasulullah Saw bersabda,”Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian cinta kepada mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah kalian benci kepada mereka, dan mereka pun benci kepada kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR Muslim No. 3447). Maka, mari kembali kepada pengaturan Islam, sebab sebagai orang beriman, tak ada pilihan lain selain taat. Termasuk memilih pemimpin. Wallahu a’lam bish showab. [DM]

1 thought on “Rakyat Demo, DPR Tepuk Tangan, Paradoks Negeri Demokrasi

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: