3 Oktober 2022

Dimensi.id-Politik dalam sistem demokrasi penuh dengan pencitraan, nampak baik dipermukaan tapi menyimpan keburukan. Membangun citra dilakukan untuk tujuan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Sering apa yang nampak tidak sesuai dengan fakta. Banyak Kebohongan dihasilkan hanya untuk menipu rakyat. Janji-janji manis ditebar untuk memikat hati rakyat, tapi ternyata hanya sekedar janji yang tidak untuk ditepati. Setelah suara rakyat bisa didapat dan kekuasaan dalam genggaman tangan, baru nampak wajah aslinya. Kebijakan yang dihasilkan tidak pro-rakyat, tapi oligarki. Politik demokrasi penuh dengan intrik, tipu daya dan muslihat menampakkan kebaikan yang semu dan menipu, faktanya rakyat sengsara karena kebijakan yang dibuat tidak pro-rakyat.

Mendekat pada rakyat ternyata bukan tulus ikhlas membantu rakyat, tapi lebih pada pencitraan. Sedikit kebaikan dikespose agar banjir pujian dan dukungan. Pengakuan manusia lebih dikejar daripada ridho Allah. Memimpin bukan untuk mengurusi rakyat, tapi untuk oligaki, kelompoknya dan kepentingannya sendiri. Pujian dan dukungan dibutuhkan untuk malanggengkan kekuasaan, sehingga para penjilat seperti buzzer yang diuntungkan dengan terus menghasilkan narasi-narasi kebaikan tentang penguasa yang tidak sesuai dengan fakta.

Untuk apa terlihat lugu sederhana dan merakyat, jika kebijakan yang dibuat menyengsarakan rakyat. Begitu teganya dengan rakyat, dengan memberi ancaman pidana bagi siapa saja yang berani mengkritik penguasa karena dianggap memgusik dan menggoyang kekuasaannya. Padahal kritikan adalah bentuk cinta rakyat yang tidak ingin melihat pemimpinnya salah jalan. Penguasa minta terus dipahami, meskipun kebijakan yang dihasilkan mendzolimi rakyatnya sendiri. Demokrasi hanya menghasil pemimpin yang pandai pencitraan, tapi minim prestasi dalam mengurusi rakyatnya.

Telah terbukti, banyak pejabat korup untuk memperkaya diri sendiri, dalam sistem demokrasi. Mereka korupsi untuk biaya membangun citra agar terlihat baik dihadapan manusia. Lupa jika jabatan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah SWT yang Maha Tahu baik apa yang dinampakkan maupun yang disembunyikan.

Rugi, hidup yang sebentar ini hanya untuk tipu menipu agar bisa bisa membangun citra politik yang terlihat baik. Membohongi diri sendiri dan orang lain membuat hati tidak bahagia. Resah, gelisah karena berbuat salah. Semua dilakukan demi membangun kekuasaan yang pada akhirnya berakhir dengan kehinaan. Sudah terbukti para pemimpin yang menyalah gunakan kekuasaan, telah tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang buruk, meskipun saat berkuasa dia nampu membangun satu citra yang baik tapi semu dan menipu. Begitu mudah Allah mencabut kekuasaan dari orang yang Dia kehendaki dan menghinakannya. Apakah kita tidak mau berfikir untuk apa kekuasaan jika semua itu hanya mengantarkan kita pada seburuk-buruk tempat kembali, neraka jahanam. Padahal, kehidupan ini akan terus berjalan mendekat menuju kematian.

Sebaliknya pemimpin dalam sistem Islam perduli dengan rakyat karena itulah tujuan politiknya yakin mengurusi urusan rakyat. Pemimpin yang peduli dan mencintai rakyatnya, begitu pula rakyat rakyat yang mencintai pemimpinnya. Pemimpin yang adil dan amanah karena takut kepada Allah SWT. Kesadaran hubungan dengan Tuhannya sangat tinggi, sehingga setiap perbuatannya merasa diawasi, sehingga takut jika menyalahgunakan kekuasaan dan berbuat dzalim pada rakyatnya. Semua yang dilakukan karena untuk menggapai ridho Allah, bukan untuk pencitraan seperti dalam sistem demokrasi yang ingin dapat dukungan dan pengakuan dari manusia untuk melanggengkan kekuasaan.

Pemimpin dalam sistem Islam sangat takut jika ada rakyat yang terdzolimi dan tidak bisa hidup layak dalam kepemimpinanya. Kisah yang sangat masyhur bahwa seorang pemimpin besar, Khalifah Umar bin Khatab mengangkat sekarung gandum sendiri dari baitul mal karena menyaksikan rakyatnya tidak bisa makan dan tidur nyenyak dengan memasak batu. Apakah pemimpin yang perduli pada rakyat ada dalam sistem demokrasi saat ini. Blusukan ternyata bukan benar-benar peduli pada rakyat, tapi hanya untuk pencitraan. Menipu rakyat dengan wajah lugu dengan janji-janji manis yang tidak untuk ditepati.

Saatnya kita tinggalkan sistem demokrasi yang hanya menghasilkan pemimpin yang pandai membangun pencitraan, tapi tidak mampu memberikan rasa aman, keadilan dan menjamin kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin korup yang suka menyengsarakan rakyat dengan berbagai kebijakannya, namun pandai membuat dalil pembenar untuk menutupi kekurangannya. Namun, perlahan rakyat akan tahu bahwa mereka dijadikan tumbal kekuasaan.

Sungguh kita merindukan pemimpin ideal dalam sistem Islam yang amanah, bukan serakah dan tamak akan kekayaan dan jabatan seperti dalam sistem demokrasi. Pemimpin yang berpihak pada rakyat, bukan seperti pada sistem demokrasi yang berpihak pada oligarki. Pemimpin yang adil, memberi rasa aman dan mensejahterakan rakyat, bukan yang menyengsarakan. Pemimpin yang baik bukan yang pandai pencitraan.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: