3 Oktober 2022

Dimensi.id-Harus dipisahkan antara sejarah khilafah yang menyelesaikan konflik dan yang menjadi solusi atas problematika umat manusia, dari sejarah umat manusia sebagai pelaku konflik dan penebar problem. Harus dipisahkan antara sejarah khilafah yang menjadi solusi atas berbagai kemaksiatan dan kemunkaran dan antara sejarah manusia  sebagai pelaku kemaksiatan dan kemunkaran.

Sejak awal penciptaan manusia itu sudah ada yang namanya kemaksiatan dan kemunkaran, sudah ada manusia yang bermaksiat dan bermunkar, tapi agama yang diturunkan Allah dengan sistem khilafah nya mengatasi dan menyelesaikan kemaksiatan dan kemunkaran itu dengan hukum-hukum agama yang Allah turunkan.

Bahkan ketika khalifah sendiri yang bermaksiat dan bermunkar, maka struktur khilafah yang lainnya atau rakyat yang meluruskannya sehingga dengan pedang sekalipun sesuai prosedur Islam. Agama melegalkan membunuh siapa saja yang merebut khilafah dari khalifah yang sah secara syar’i. Agama melegalkan memerangi kaum muslimin yang menolak membayar zakat. Agama melegalkan memerangi kelompok bughot. Agama melegalkan mencincang dan menyalib para begal yang mengambil harta dan membunuh. Agama melegalkan perang terhadap kafir harbi. Dan seterusnya.

Bahkan Islam adalah solusi bagaimana menyelesaikan dua kelompok dari orang-orang  beriman yang berseteru dan berselisih karena diadudomba oleh kaum munafiq.

Jadi pisahkan antara sejarah manusia yang bermaksiat, bermunkar dan berkonflik, dari sejarah khilafah yang menyelesaikan problem maksiat, munkar dan konflik di tengah-tengah manusia, terlepas dari manusia muslim atau kafir dan musyriknya, karena Islam itu menyelesaikan semuanya, tentu dengan sistem pemerintahan khilafah.

Dan bandingkan problem maksiat, munkar, konflik serta penyelesaiannya di dalam sistem demokrasi, komunis dan kerajaan. Lebih baik mana?

Dan kalau sejarah perang diperhitungkan untuk menilai baik buruknya sistem pemerintahan, maka khilafah yang berjalan lebih dari 13 abad juga yang terbaik, dibanding sistem demokrasi dan komunis yang belum seabad berkuasa sudah berapa banyak perang dan pembunuhan atas nama demokrasi atau komunis.

Mencampuradukkan antara sejarah khilafah yang sangat handal dalam menyelesaikan semua konflik dan problem kemanusiaan, dengan sejarah manusia sebagai sumber konflik dan problem, lalu semua konflik dan problem itu dituduhkan sebagai kesalahan khilafah dan karenanya khilafah tertolak untuk diterapkan, adalah ketidakadilan dan kezaliman yang nyata.

Sungguh, kebaikan dan keburukan adalah dengan qodho-qodar Allah dan akan selalu ada selama manusia ada. Tetapi dengan khilafah volume kebaikan bisa diperbesar dan volume keburukan bisa diperkecil.

Juga terkait adanya sejumlah ulama dan para Imam Mujtahid yang dipenjara dan dizalimi oleh penguasa khilafah. Itu juga tidak lepas dari sejarah manusia. Karena di dalam sistem monarki, demokrasi dan komunis, tidak terhitung sudah berapa ulama yang terzalimi, ditahan dan dibunuh oleh penguasa.

Jadi terjadinya kezaliman dan pembunuhan di sepanjang sejarah khilafah itu bukan alasan untuk menolak penegakkan khilafah.

Penulis : Abulwafa Romli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: