7 Desember 2022

Dimensi.id-Seorang siswi SMAN 1 Banguntapan merasa tertekan dan depresi karena diperintahkan berhijab. Anehnya, orang tuanya bukannya berusaha meluruskan pemahaman yang salah tersebut, malah menyalahkan guru dan pihak sekolah. Dan lebih aneh lagi, sebagian masyarakat ikut mengecam seolah-oleh, memaksa dalam proses mendidik untuk merubah menjadi baik adalah melanggar hukum. Bagaimana bisa kita merubah anak menjadi lebih baik, jika harus selalu menuruti semua kemauan anak. Peraturan sekolah juga dibuat untuk mengikat dan memaksa peserta didik agar mau berubah menjadi lebih baik seperti yang kita harapkan

Bolehkah memaksa dalam proses mendidik agar menjadi baik? Jika anak dibiarkan memilih apa saja yang disukai meskipun itu buruk, lalu apa gunanya sekolah. Sekolah dibangun untuk membentuk karakter anak yang baik seperti yang kita harapkan. Akhir-akhir ini banyak pandangan yang menuding guru melakukan pemaksaan untuk memakai hijab. Padahal kita tahu bahwa hijab adalah kewajiban bagi muslimah, sehingga wajar jika seorang guru memerintahkan siswi yang beragama Islam untuk berhijab.

Begitupula, sekokah tidak salah jika membuat peraturan agar semua siswi yang beragama Islam memakai hijab. Peraturan sekokah memang dibuat untuk mengikat dan memaksa pesarta didik untuk melakukan kebaikan yang diharapkan. Kebaikan memang harus dipaksakan agar peserta didik terbiasa, bukan mengikuti keinginan siswa dengan berbuat apa saja yang disuka. Jika demikian, apa gunanya sekolah jika tidak boleh memaksa peserta didik untuk berbuat kebaikan apalagi jika kebaikan itu sesuai dengan keyakinan mereka.

Bahkan orang tua harus memerintahkan anak sholat sejak mereka berusia 7 tahun. Orang tua boleh memukul anak sebagai hukuman saat dia berusia 10 tahun jika tidak mau sholat. Diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun dan jika telah berumur sepuluh tahun, namun tidak mau mengerjakan shalat maka pukullah.”

Apakah menyuruh anak sholat adalah bentuk pemaksaan. Apakah memberi hukuman pada anak agar tertib aturan dan mau melakukan kebaikan yang diharapkan adalah pelanggaran hukum? Jika demikian, seorang anak akan ngelunjak dan tidak mau diatur. Dia akan melakukan apa saja yang disuka, sebaliknya akan meninggalkan apa saja yang dia benci.

Belajar adalah cenderung tidak disukai anak, apa lantas kita biarkan mereka bermalas-malasan, rebahan di kamar dengan bermain game online sepanjang hari. Padahal semua pilihan anak dan apa yang disukai cenderung membawa keburukan kepada mereka. Pendidikan diberikan untuk mengajak, membimbing dan bahkan terkadang harus memaksa dengan memberikan hukuman agar dia mau melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Pada awalnya kebaikan harus dipaksakan agar anak terbiasa. Saat dewasa, dia akan menyadari bahwa sesuatu yang dulunya dipaksakan ternyata untuk kebaikannya. Bisa jadi kalau tidak dipaksa, dia akan terjerumus pada lembah dosa. Syaitan tidak akan diam, terus membisikkan pada anak Adam agar mau mengikuti langkah-langkahnya yang akan membawa manusia pada seburuk-buruk tempat kembali, neraka jahanam. Bukti cinta kita memaksakan kebaikan pada anak agar dia tidak tersesat, tapi tertunjuki pada jalan lurus, jalan orang-orang yang telah diberi nikmat. Pada waktunya nanti anak akan menyadari dan berterima kasih pada orang tua dan guru yang dengan sabar sudah mau membimbing dan mendidik dengan ikhlas meskipun pada saat itu harus menghadapi penolakan dan sikap kurang ajar seorang anak.

Harusnya orang tua mendukung kebaikan yang dipaksakan oleh gurunya di sekolah, dan juga peraturan yang bisa membuat anaknya terpaksa berubah menjadi lebih baik. Orang tua lemah sering mengikuti kemauan anak, tidak peduli semua itu bisa membawa keburukan. Anak dibela saat menolak untuk diatur meskipun itu adalah kewajiban seperti hijab. Padahal, hijab akan melindungi kehormatannya sebagai muslimah saat keluar rumah. Anak harus dipahamkan untuk mengikuti aturan demi kebaikannya.

Anak manja, suka-suka dan tidak mau diikat dengan aturan tidak boleh terus dituruti. Saat tumbuh besar, dia akan lebih sulit diatur dan mulai berani membantah bahkan dengan sikap yang kurang ajar yang membuat orang tua kesulitan untuk memgendalikan. Jika tidak dituruti, dia akan berbuat hal yang aneh-aneh, membuat orang tua terpaksa menuruti. Padahal, perlahan tapi pasti, itu semua akan membawa keburukan pada anak dalam tumbuh kembangnya. Jadi perlu dievaluasi jika anak tertekan dan depresi saat diminta untuk berhijab. Sepertinya ada yang salah dalam pendidikan di keluarga sehingga anak tidak mampu mengontrol diri saat diminta untuk kebaikan yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Jika ada anak tertekan saat diminta untuk kebaikan, jangan keburu menyalahkan guru, apalagi dengan menuntut secara hukum. Guru hanya ingin merubah peserta didiknya berubah menjadi baik sesuai dengan nilai- nilai agama yang diyakininya. Orang tua harusnya ikut membantu dalam proses merubah anak menjadi lebih baik, bukan malah mendukung keinginan anak dan menyalahkan guru dan pihak sekolah.

Masyarakat harusnya ikut meluruskan, bukan hanya bisa mengecam tanpa memahami permasalahan secara komprehensif. Sekularusme hanya ingin menghilangkan agama dari kehidupan, sehingga kebaikan yang berasal dari nilai-nilai agama dijauhkan dari kehidupan dan selalu dipermasalahkan, diganti dengan nilai-nilai kebaikan yang absurd, tidak jelas tolok ukurnya dari pemikiran manusia. Saatnya kembali kepada penerapan Islam secara kaffah dan meninggalkan sekularisme agar kehidupan Islami bisa terwujud.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.