30 September 2022

Dimensi.id-Nama pesulap merah alias Marcel Radhival dewasa ini tengah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan warganet. Gayanya yang nyentrik, serta keberaniannya membongkar trik perdukunan berkedok agama dan trik sulap melalui konten-konten YouTubenya membuat dirinya menjadi sorotan jutaan pasang mata. Namanya pun semakin viral saat ia dikabarkan berseteru dengan seorang dukun asal Blitar, Jawa Timur, Gus Samsudin. Diketahui, aksi pesulap merah yang lantang membuka trik pengobatan Gus Samsudin, membuat padepokan yang dipimpin dukun berkedok agama tersebut tutup. (cnn.indonesia, 9/8/2022)

Menanggapi hal ini, persatuan dukun se-Indonesia bersatu melaporkan pesulap merah ke polisi. Para dukun tersebut mengaku merasa terhina oleh aksi pesulap merah. Lantaran aksi pesulap merah juga mereka mengalami sepi job. (Suara.com 11/8/2022)

Bukan hanya sekali pesulap merah mendapatkan intimidasi dari para dukun. Sebelumnya seorang dukun yang mengaku bersertifikat pun sempat dikabarkan meminta bantuan kekuatan gaib untuk melawannya. (suara.com, 7/8/2022)

Kemusyrikan Marak di Negeri Muslim Terbesar di Dunia 

Sungguh aneh tapi nyata, di negeri yang katanya berpenduduk mayoritas muslim, segala hal yang berbau kemusyrikan masih senantiasa ada bahkan berkembang. Padahal semestinya sebagai negeri dengan mayoritas umat muslim terbesar di dunia, tentunya sudah menjadi pemahaman bersama bahwa percaya pada dukun dan segala hal yang beraroma kemusyrikan adalah dosa besar. Hal ini memantik pertanyaan besar kenapa yang demikian bisa terjadi? 

Akibat Sistem Kapitalisme-Sekuler 

Sejatinya, maraknya praktik perdukunan dan berbagai hal berbau klenik di tanah air tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem Kapitalisme-Sekuler. Paradigma Kapitalisme-Sekuler telah menjauhkan agama dari kehidupan manusia. Sehingga halal haram tak dipedulikan, apalagi menjadi patokan dalam melakukan perbuatan. Maka tidak heran, hal yang menyimpang dari aturan agama pun tetap dipelihara. Praktik perdukunan serta segala kemusyrikan dianggap biasa, diakui sebagai budaya serta kearifan lokal. Meskipun hal demikian berbahaya dan mengancam akidah umat manusia. 

Mirisnya, negara yang berasaskan sistem ini telah terbukti gagal menanamkan akidah yang kuat pada umat. Paham kebebasan yang menjadi landasan sistem Kapitalisme-Sekuler, telah  mendorong manusia untuk bebas dalam berperilaku dan berakidah. Tersebab itulah umat demikian mudah tergelincir pada perbuatan dosa (kesyirikan dan kekufuran). 

Perdukunan Dalam Pandangan Islam 

Sebagai agama sempurna, Islam hadir ke dunia ini untuk mengatur segala problematika kehidupan. Dalam pandangan Islam, dunia perdukunan memiliki beberapa istilah seperti; kahin (dukun), rammal (tukang tenung), sahir (ahli sihir), munajjim (ahli nujum), dan arraf (peramal).  Meskipun demikian, semuanya adalah sama yakni menyekutukan Allah. Sebab mempercayai bahwa ada Zat selain Allah yang mampu memberikan manfaat, keselamatan, keberuntungan dan perlindungan.

Karena itu, Islam mengharamkan praktik perdukunan dan segala macam yang berbau kemusyrikan. Islam memandang percaya pada dukun sebagai bentuk syirik dan dosa besar. 

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dia mengampuni segala macam dosa kecuali syirik kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa besar.” (TQS. An-Nisa: 48)

Juga dalam hadis:

“Siapa saja yang mendatangi dukun lalu percaya pada ucapannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.” (HR. Abu Daud)

Hanya Sistem Islam yang Mampu Menjaga Akidah Umat 

Tersebab itu, negara Islam (Khilafah) akan menjaga umatnya agar terhindar dari segala perbuatan tersebut. Sejak dini, negara Khilafah akan menanamkan akidah yang kuat pada umat melalui kurikulum pendidikan berbasis syariat. Khilafah pun akan terus melakukan pembinaan kepada individu dan masyarakat dengan melakukan kajian-kajian atau ceramah umum. Sehingga dengan semua itu, akan mampu mencetak generasi yang memiliki pondasi akidah kuat dan tidak mudah tergelincir pada maksiat. 

Negara Khilafah juga akan menutup rapat celah praktik kemusyrikan dan menindak tegas pelakunya. Serta membiasakan budaya amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. Sehingga tidak akan ditemukan lagi praktik perdukunan. Baik di siaran televisi, media sosial dan lain sebagainya. Kalaupun ada, tidak akan bertahan lama, akan langsung bisa dicegah karena masyarakat tak segan saling menasehati. 

Di sisi lain, negara Khilafah pun akan memperkuat penjagaan individu melalui institusi keluarga. Sebab, keluarga adalah pilar pengokoh kepribadian Islam. Karena itu, negara Khilafah akan mendorong setiap keluarga untuk menanamkan akidah yang kuat kepada anggota keluarganya.  Dengan begitu, umat akan memiliki pondasi iman dan pemahaman syariat yang kuat. Sehingga tidak mudah goyah dan terperosok pada maksiat. Karena mendapat tempaan di keluarga masing-masing.

Demikianlah betapa sempurnanya sistem Islam dalam mengatur urusan kehidupan dan menjaga akidah umatnya. Sungguh selama sistem Kapitalisme-Sekuler masih bercokol, segala hal yang berbau kemusyrikan dan mendangkalkan akidah akan senantiasa ada. Oleh karena itu, kita harus berjuang bersama-sama mengenyahkan sistem yang merusak ini. 

Sudah sepantasnya kita kembali kepada Islam dan menerapkannya secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Niscaya segala macam praktik perdukunan dan hal-hal lain yang berbau klenik dan khurafat akan bisa diberantas sampai tuntas. 

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: