3 Oktober 2022

Dimensi.id-Perbedaan jangan dijadikan alasan untuk berpecah belah, bersatulah agar Umat Islam menjadi kekuatan luar biasa yang menjadi penentu arah perubahan hakiki dengan Islam. Sulitnya umat bersatu, karena masing-masing mengedepankan ego kelompok. Merasa paling benar dengan madzab dan kelompoknya sendiri. Tidak saling menghargai dengan mengambil pendapat Islami yang bersumber dari dalil hukum Islam.

Tidak jarang mereka mengambil hujah yang tidak berasal dari ajaran Islam. Hukum kesepakatan diambil meskipun bertentangan dengan ajaran Islam. Memperbesar perbedaan yang menimbulkan perpecahan diantara umat Islam, itulah hal yang yang terjadi dalam sistem demokrasi. Ukhuwah Islamiyyah hanyalah mimpi yang sulit untuk diwujudkan dalam sistem demokrasi.

Persatuan umat hanya bisa diwujudkan dalam sistem khilafah. Perbedaan akan bisa disatukan oleh seorang Khalifah yang akan menerapkan Islam secara kaffah. Perbedaan bukan untuk dijadikan polemik yang bisa memecah belah umat untuk saling bermusuhan. Perbedaan adalah Rahmat, jika kita saling bisa memahami dan menghargai selama bukan hal yang mendasar yang sudah jelas halal dan haramnya. Seorang Khalifah akan menyatukan perbedaan dengan kembali pada al-Qur’an dan as-Shunah, pemahaman umat harus terus dijaga agar tidak menyimpang dari ajaran yang lurus dan mulia.

Dalam sistem khilafah, penista agama tidak diberi ruang untuk menyebarkan fitnah dan kebencian. Namun rakyat bebas menyampaikan kebenaran, mengoreksi dan mengingatkan penguasa tanpa harus takut dengan ancaman hukuman pidana. Saat terjadi polemik antar umat beragama Khalifah menyatukan mereka. Polemik bukan dibiarkan hingga menimbulkan kegaduhan, namun semua harus disatukan dengan mengambil solusi terbaik.

Baca Juga : Demokrasi akan segera Berakhir, dan Khilafah akan segera Tegak

Keadilan harus ditegakkan dan kesejahteraan harus diwujudkan agar kehidupan beradab, manusiawi, berkeadilan mampu menyatukan perbedaan-perbedaan dengan penerapan hukum dari Pencipta Manusia. Penerapan hukum terbaik dari yang Maha Sempurna dan Maha Penyayang akan menciptakan kehidupan Islami yang mampu menyatukan elemen bangsa hingga menjadi satu kekuatan untuk membangun negeri ini kedepan ke arah yang lebih baik.

Khalifah akan menyatukan perbedaan sebagai satu kekuatan yang saling menguatkan dan mengingatkan, bukan melemahkan dan menyalahkan. Budaya caci maki tumbuh subur dalam sistem demokrasi karena mereka landasan berfikirnya tidak lagi Islam. Sebaliknya, dalam sistem khilafah, Islam sebagai landasan berfikir sehingga umat akan saling mengingatkan dengan Islam, bahkan juga berkewajiban memgingatkan pemimpin agar tidak tergelincir dan jatuh dalam kesalahan yang fatal.

Saling mengingatkan adalah perintah Allah dengan dasar keimanan dan ketaqwaan, sehingga terwujudlah kehidupan yang lebih baik dengan Islam. Kemaksiatan dan penyimpangan perilaku tidak perlu lagi menjadi bahan perdebatan, tapi harus dilarang dan ditenggelamkan jauh kedalam bumi. Sebaliknya kebaikan yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan harus dijunjung menjulang tinggi ke angkasa dan menjadi kebiasaan, gaya hidup penduduk satu negeri yang beriman dan bertaqwa.

Khalifah juga tidak memberi ruang bagi mereka yang ingin menyebar hoaks dan fitnah yang bisa memecah belah umat. Segelintir orang yang mulutnya penuh racun kebencian harus dibungkam dan tidak diberi kesempatan menyebarkan kegaduhan yang membuat umat saling bermusuhan. Persatuan umat benar-benar akan terwujud dan terjaga dalam sebuah kepemimpinan yang sangat peduli dalam mengurusi rakyatnya. Keadilan dan kesejahteraan bukan hanya milik segelintir orang seperti yang ditampakkan dalam sistem demokrasi, tapi nyata dirasakan seluruh rakyatnya.

Masihkah kita berharap persatuan dalam sistem demokrasi yang rusak karena ingin memisahkan agama dari kehidupan. Mengagungkan kebebasan dalam berfikir hanya memicu terjadinya perpecahan dan perdebatan yang tidak perlu dilakukan. Berdebat bukan untuk menjadi pemenang tapi harusnya untuk mencari kebenaran. Polemik dan kegaduhan yang berujung pada permusuhan karena semangat menjadi pemenang dengan meninggalkan Islam sebagai landasan berfikir.

Bahkan sesuatu yang jelas hukumnya pun masih diperdebatkan hanya untuk menistakan dan mempermainkan ajaran yang lurus dan mulia. Polemik dan kegaduhan yang menghabiskan energi didukung dalam sistem demokrasi, bahkan meskipun harus menciptakan percikan api permusuhan. Penguasa tidak perduli selama tidak menjadi ancaman bagi kursi kekuasaan.

Islam datang untuk memperbaiki kondisi umat yang tercerai berai yang membanggakan semangat nasionalisme dan golongan. Islam akan bersatu dalam satu panji pemersatu yang akan menghapus sekat-sekat batas nation-state yang menjadi pemicu dan alasan untuk saling bermusuhan dan tidak saling perduli meskipun mereka adalah saudara dalam satu ikatan akidah. Khalifah akan menyatukan perbedaan dengan kembali pada ajaran Islam yang lurus dan mulia, mengambil dalil yang paling kuat. Perbedaan akan bisa disatukan setidaknya tidak menjadi penyebab perpecahan dan permusuhan tapi bisa menjadi Rahmat karena mereka semua menggunakan Islam sebagi landasan berfikir. Berbeda boleh selama masih berpegang pada tali agama Allah, bukan bercerai berai karena mengagungkan kebebasan tanpa aturan. [Dms]

 

Penulis : Mochamad Efendi

Editor : @tokiazka

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: