6 Desember 2022

Dimensi.id-Mungkin kebanyakan orang menganggap pengemban dakwah adalah orang aneh yang menyibukkan pada aktifitas yang tidak ada bayarannya, berjuang demi agama Allah. Mereka tetap bersemangat di jalan dakwah, meskipun harus berhadapan dengan kebencian penguasa dan nyinyiran para buzzer istana. Memang pengemban dakwah bukan orang biasa, tapi mereka umat yang terpilih yang menyeru pada kebenaran Islam dan berani mencegah kemungkaran baik dengan lisan maupun tangan mereka, meskipun resiko dakwah tidaklah mudah. Tapi kenapa mereka masih semangat meniti jalan dakwah yang terjal dan mendaki. Nikmat dakwah itulah yang mereka rasakan, sehingga ancaman, dan framing buruk tentang mereka dengan sebutan radikal, intoleran bahkan teroris sekalipun tidak mampu menghentikan mereka untuk terus berdakwah menyuarakan kebenaran Islam dan mencegah kemungkaran.

Nikmatnya berdakwah bisa dirasakan karena pemahamannya sudah tercerahkan sehingga mampu berfikir cerdas dan cemerlang dengan mengambil jalan para nabi dan rasul. Berfikir hidup hanya sebentar, kemudian perjalanan hidup yang sangat panjang setelah mati, maka dakwah adalah aktifitas yang tepat untuk mempersiapkan hidup setelah mati. Bagaimana kita mati-matian mengejar dunia yang semu dan menipu, sementara sebentar lagi semuanya juga akan kita tinggalkan dan tidak dibawa mati. Rumah megah, Harta melimpah, dan keluarga tercinta semuanya akan kita tinggalkan, sementara jejak-jejak kebaikan dan juga amal jariyah yang tercipta karena usaha dakwah kita akan menjadi tabungan pahala, dan terus akan mengalir ke pundi-pundi pahala kita meskipun kita sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Pengemban dakwah orang-orang cerdas yang mampu memahami hakikat hidup ini yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan.

Mereka meyakini janji Allah yang diperuntukkan bagi pengemban dakwah. Mereka sadar amalan ibadah mereka belum seberapa, mengerjakan kewajiban dengan sedikit amalan sunah. Tidak sepanjang hari sholat, ataupun puasa terus-terusan seperti umat terdahulu. Lalu, apa yang bisa kita andalkan saat nanti menghadap Sang Pemilik Hidup, sehingga kita bisa tersenyum menghadapNya. Dakwah bisa kita persembahkan sebagai amalan andalan kita, sehingga kita bisa merasa tenang dan tersenyum bahagia saat jatah waktu kita di dunia telah berakhir. Tidak seperti kebanyakan orang yang merasa ketakutan saat mendekati kematian.

Nikmat di dunia dan akhirat dirasakan oleh pengemban dakwah yang ikhlas untuk membela agama Allah. Dalam Surat al-Asr, Allah bersumpah demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan berbuat banyak kebaikan. Sungguh rugi, manusia yang banyak menyia-nyiakan waktu mereka untuk hal yang mubah saja. Namun, dengan berdakwah, waktu begitu berharga karena usaha dakwah kita yang tidak berfikir hanya kebaikan diri sendiri, tapi juga perduli dengan sesama untuk saling mengingatkan dengan kebenaran Islam dan dengan kesabaran. Semoga, kita termasuk sebagian kecil umat yang beruntung seperti yang disebutkan dalam surat Ali Imron ayat 104, para pengemban dakwah yang terus sabar menyeru pada kebenaran Islam dan mencegah kemungkaran, meskipun tidak mudah menempuh jalan dakwah.

Nikmat yang luar biasa saat kita mampu memberikan pencerahan pada seseorang, kemudian dia berubah dan mau berislam kaffah. Sungguh beruntung karena dia bisa menjadi mesin pahala kita saat dia juga merasakan hal yang sama, nikmatnya dakwah, kemudian terus ikut dalam barisan dakwah untuk memperjuangkan agama Allah, dan untuk menyelamatkan umat dari pemikiran sesat. Tidakkah itu adalah nikmat luar biasa, saat menyaksikan saudara kita mau hijrah meninggalkan semua pemikiran sesatnya, dan mau berislam secara kaffah.

Jikalau mereka menolak dan tidak mau menyambut peringatan kita, tidak usah sedih karena tugas kita hanya menyampaikan kebenaran hakiki yang bersumber dari ajaran Islam yang lurus dan mulia. Jangan berfikir hasil, karena itu adalah urusan Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Tugas dakwah tidak boleh berhenti meskipun banyak orang yang menolak bahkan mencoba menghalang-halangi usaha dakwah kita. Semakin, banyak tantangan dan hambatan, harusnya bertambah semangat karena itulah dakwah dari dulu, sejak zamannya para nabi dan rasul tidak pernah lepas dari tantangan dan ujian. Jika dakwah kita hanya untuk menyejukkan hati, tapi tidak berani melawan kemungkaran, agar tidak ada halangan dan hambatan, maka perlu dipertanyakan, dan bahkan dakwah tanpa hambatan dan rintangan akan kehilangan nikmatnya dalam berdakwah.

Dengan berdakwah, pikiran kita menjadi jernih dan ilmu bertambah. Banyak orang yang mempunyai banyak ilmu bahkan bergelar profesor doktor, tidak mampu menyampaikan kebenaran yang bersumber dari idealisme dan juga ilmu yang telah dipelajari, karena mereka enggan untuk berdakwah. Lidah mereka kelu dan tak mampu menyampaikan kebenaran, kerena takut kehilangan jabatan dan secuil nikmat dunia yang pasti segera akan ditinggalkan. Virus sekularisme menjangkiti pemikiran sehingga Ilmu agama yang dimiliki tidak bermanfaat dan pemikiran mereka tidak jernih karena tidak berani menyampaikan kebenaran hakiki yang bersumber dari keyakinannya. Hidup resah, gelisah dan penuh ketakutan karena sudah meninggalkan dakwah.

Sungguh, pengemban dakwah akan merasakan kebahagiaan hakiki karena mampu menyampaikan kebenaran sesuai dengan apa yang sudah dipahami dan diyakini. Menyampaikan sesuatu kebenaran meskipun hanya satu ayat, akan membuat pikiran kita menjadi jernih dan ilmu kita juga akan terus bertambah. Seperti halnya, air dari sumur jika sering diambil, air akan menjadi jernih dan terus mengalir dan bertambah banyak. Berbeda, saat air itu dibiarkan dan tidak dimanfaatkan, sumur tadi akan keruh, tidak jernih dan terkadang berbau tidak enak. Prinsip dasar air, tadi juga sama dengan harta yang menjadi rezeki kita. Jika kita enggan menginfakkan dengan hanya mengumpulkan saja, menyimpan dan menghitung-hitungnya, harta kita akan kotor, tidak berkah, terus merasa kurang dan tidak pandai bersyukur. Dan celakalah bagi mereka yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, tapi enggan untuk menginfakkan dari sebagian apa yang dimiliki. Begitu pula bagi mereka yang berilmu, tapi enggan untuk menyampaikannya pada orang lain. Berdakwah akan membuat ilmu kita akan bertambah dan menjadi jernih, sehingga hidup terasa nikmat dan kebahagiaan hakiki kita dapat di dunia maupun akhirat.(ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.