6 Desember 2022

Dimensi.id-Gaya pemimpin blusukan sebenarnya sudah dicontohkan jauh sebelumnya oleh Khalifah Abu Bakar. Keluar pada waktu malam tanpa diketahui orang atau awak media, dan tidak juga dengan pengawalan ketat agar diketahui banyak orang. Beliau blusukan untuk mendatangai rakyatnya yang membutuhkan dengan menyamar agar bisa membantu mereka tanpa diketahui identitasnya. Belau juga ingin tahu aspirasi rakyatnya dan apa yang dibutuhkan oleh mereka. Seorang pemimpin agung yang sangat mencintai rakyatnya blusukan agar memperoleh masukan, kritik dan saran dari rakyatnya. Rakyatnya tidak merasa terancam atau tertekan menyampaikan keluh kesahnya pada penguasa. Mereka bisa menyampaikan langsung pada penguasa tanpa ada rasa takut dan sungkan karena mereka tidak tahu yang dihadapinya adalah seorang penguasa nomor satu di negeri yang mereka tinggal disana.

Berbeda saat ini, blusukan dilakukan dengan tujuan untuk pencitraan. Pemimpin mendatangi pasar dan kerumunan dengan pengawalan dan juga awak media yang siap untuk mempublikasikan di sosial media semua aksi blusukan yang sudah dilakukan. Berharap kebaikannya tersebar dan bisa mendongkrak suara menjelang pemilu. Terkesan peduli dan pro wong cilik, tapi, faktanya, setelah berkuasa, banyak kebijakan yang dihasilkan tidak berpihak pada rakyat kecil tapi lebih menguntungkan para Oligargi yang dianggap sudah menyokong kekuasaannya agar terus dalam genggaman. Bahkan, mereka yang kritis dikikis habis dan harus berhadapan dengan hukum buatan penguasa yang tajam pada mereka yang dianggap mengancam kekuasaan. Tuduhan menyebar kebohongan, pencemaran nama baik serta ujaran kebencian yang siap menjerat mereka untuk dipidana.

Gaya kepimimpinan blusukan dalam sistem demokrasi yang hanya untuk pencitraan sangat berbeda dengan kepemimpinan dalam sistem Islam yang melakukan blusukan untuk membantu rakyatnya dan ingin tahu kondisi rakyatnya yang sebenarnya. Sebuah kisah yang mengharukan seorang Khalifah, Abu Bakar yang begitu perhatian pada rakyatnya, keluar setiap malam mendatangi sebuah gubuk. Ternyata, disana tinggal seorang nenek tua, buta yang sudah renta tidak bisa berbuat apa-apa. Seorang pemimpin besar rela datang untuk mendatangi gubuk rakyatnya hanya untuk memastikan dia mendapatkan haknya untuk hidup layak dan sejahtera. Jaminan kebutuhan dasar rakyat yang hidup di suatu negeri yang dibawah kepemimpinannya adalah tanggung jawab pemimpin dalam sistem Islam. Dan ternyata kebiasaan blusukan, Abu bakar diamati oleh sahabatnya Umar bin Khatab yang juga melakukan hal yang sama saat dia menjadi seorang Khalifah.

Dalam sebuah kisah, di penghujung malam yang telah larut, Umar bergegas menuju Baitul Mal. Ia segera mengangkat sekarung gandum besar di pundaknya. Keringat bercucuran dari tubuh sang khalifah, namun beliau tidak ingin dibantu karena takut kepada Allah SWT. Beliau takut harus menanggung dosa saat rakyatnya hidup dalam kemiskinan, tidak ada yang bisa dimakan. Menyaksikan seorang ibu yang masak batu, karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak untuk diberikan pada anaknya. Seorang pemimpin besar blusukan untuk memastikan bahwa rakyatnya hidup aman dan sejahtera.

Dalam sistem Islam pemimpin terinspirasi para pendahulunya yang blusukan sebagai bentuk keperdulian pada rakyatnya. Pemimpin amanah, peduli dan cinta pada rakyatnya banyak ditemukan dalam sistem Islam. Pemimpin yang memiliki tujuannya politiknya untuk mengurusi urusan rakyatnya. Sangat bertolak belakang dalam sistem demokrasi yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan politiknya, sehingga segala cara dilakukan untuk meraih kekuasaan dan mempertahankannya agar terus dalam genggaman. Janji-janji manis ditebar hanya untuk menarik simpati rakyat agar mau menjatuhkan pilihan kepadanya, padahal semuanya hanya pencitraan. Saat kekuasaan pada genggaman janji tinggallah janji hanya untuk diingkari, tidak untuk ditepati.

Sungguh rakyat akan hidup Aman dan sejahtera hidup dalam satu kepemimpinan dalam sistem Islam. Sebaliknya, rakyat hidup terancam dan sengsara dalam sistem demokrasi. Hanya orang-orang yang berfikir cerdas dan cemerlang menginginkan hidup dalam naungan khilafah, sistem Islam yang mampu menerapkan Islam secara kaffah. Sementara, mereka yang menikmati kekuasaan dan cipratan kekuasaan akan terus mempertahankan demokrasi yang bisa mengamankan kepentingan mereka, para oligarki. Saatnya kita campakkan demokrasi dan ganti dengan sistem Islam agar keadilan bisa terwujud, kesejahteraan dan hukum untuk semua orang, seluruh rakyat yang tinggal di suatu negeri. Dan terlebih, pintu berkah dari langit dan bumi akan terbuka lebar mengingat penduduk dan juga pemimpinnya bertaqwa dengan diterapkan Islam secara kaffah yang bisa menekan angka kemaksiatan dan kriminalitas pada titik terendah, sebaliknya kebaikan yang dikaitkan dengan Islam akan mudah untuk dilakukan. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.