6 Desember 2022

Dimensi,id-Punya kekayaan, pamer dan bangga dengan semua yang dimiliki, apakah bisa menjamin kebahagiaan? Hidup resah, gelisah, dan merasa takut kehilangan harta benda padahal tidak semua bisa dinikmati. Dalam al-Qur’an surat al-Humazah, “Celaka bagi setiap pengumpat dan pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”

Orang yang mengumpulkan harta benda dan menghitung-hitungnya, cenderung akan kikir dengan harta yang dimiliki. Enggan berbagi dan membantu saudaranya yang kurang mampu tidak akan membuat hidupnya kekal di dunia ini. Padahal jika kita mau berbagi dan menafkahkan sebagian rezeki yang dimiliki di jalan Allah, kebahagian hakiki bisa dirasakan, bukan keresahan dan rasa takut kehilangan harta kekayaan.

Mau menafkahkan sebagian rezeki dari Tuhan Yang Maha Pemberi rezeki adalah bentuk keimanan. Sifat kikir bukanlah ciri orang beriman. Apalagi mereka yang suka pamer dan bangga dengan apa yang dimiliki, padahal semua itu hanyalah titipan rezeki yang suatu waktu bisa diambil dan pasti rezeki akan berakhir saat jatah umur sudah habis, dan saatnya kembali dengan membawa amalan kebaikan untuk bekal nanti kehidupan kekal di akhirat. Semua yang selama ini kita cintai dan banggakan, kita tinggalkan dan tidak menolong kita jika selama hidup tidak kita gunakan untuk membela agama Allah.

Pamer kekayaan tidak ada manfaatnya, tapi hanya akan memunculkan penyakit hati riya’ dan kesombongan yang bisa membawa pelakunya ke neraka jahanam. Sementara di dunia, hatinya kering tak mampu bersyukur sehingga tidak ada kebahagiaan yang bisa dirasakan padahal kekayaan melimpah dan jabatan tinggi adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan yang bisa membawa kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Tidak jarang muncul kesombongan didalam hati saat harta melimpah dan jabatan tinggi mampu diraih dalam hidupnya. Mencela dan mengumpat karena merasa lebih tinggi derajatnya dengan kekayaan yang dimiliki dan jabatan sehingga mampu berbuat dzalim dengan tangannya. Inilah orang-orang celaka yang tidak paham tujuan hidupnya. Mereka mengira harta kekayaan yang dimiliki akan bisa mengekalkannya. Jabatan tinggi bisa membuatnya berkuasa atas orang lain. Sekali kali tidak, malah dengan kekayaan yang dimiliki melupakan tujuan hidupnya, beribadah kepada Allah SWT, sehingga kelak dia akan dilemparkan ke neraka yang menyala-nyala dan sangat panas dan bahkan lebih panas dari apapun yang ada di dunia ini. Punya kekuasaan jika tidak amanah juga akan menjadi penghuni neraka. Lalu apa enaknya punya kekayaan tapi hanya untuk dipamerkan, memiliki jabatan hanya agar bisa berbuat dzalim pada sesama.

Padahal hidup ini hanya sebentar, dan segera harus mempertanggung jawabkan harta benda dan jabatan yang merupakan titipan yang harus digunakan dijalan yang benar, sesuai dengan tuntutan al-Khalik, pemilik hidup, manusia dan alam semesta. Lalu untuk apa iri dengan mereka yang pamer harta atau unjuk diri karena jabatan tinggi. Semua itu akan segera hilang dan bisa jadi penghalang untuk masuk surga, sebaik-baik tempat kembali. Harta kekayaan dan jabatan adalah ujian, bukan tujuan. Bersyukurlah jika dengan apa yang kita miliki, masih bisa beribadah kepada Allah. Insyaallah dengan kesungguhan hati kita akan lulus ujian apapun kondisi kita.

Miskin ataupun kaya bukanlah pilihan, tapi menjadi bahagia dan berbuat kebaikan sesuai dengan petunjukNya adalah pilihan tepat. Bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa adalah pilihan hidup yang tepat agar kita bisa hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Dengan kelebihan yang kita miliki, kita bisa berbuat banyak kebaikan untuk membantu sesama.

Dengan jabatan tinggi, seseorang bisa menegakkan keadilan dan membela sesama dari kedzaliman. Celakalah mereka yang kikir, padahal dia mampu untuk berbuat banyak kebaikan dengan membantu sesama. Begitu juga penguasa yang diam saat melihat kedzaliman padahal dia mampu berbuat sesuatu untuk menghentikannya. Semua akan dimintai pertanggung jawaban atas kelebihan yang diberikan Allah kepadanya.

Sahabat rasullulah, Abdurrahman bin Auf siap membagikan satu kafilah niaga karena dia tidak ingin masuk surga dengan merangkak, meskipun dia adalah salah satu dari sahabat yang dijamin masuk surga. Dia tampak tidak senang masuk surga dengan cara merangkak karena harta kekayaannya yang melimpah. Bahkan keinginannya masuk surga dengan berdiri membuat dia semakin dermawan. Dia membebaskan 30 orang budak dan ia juga banyak memberikan hartanya kepada para fakir miskin, kepada istri-istri Nabi SAW, dan juga untuk membantu kebutuhan militer umat Muslim saat itu.

Bahkan, dia juga mewasiatkan agar 400 dinar miliknya dibagikan kepada setiap orang yang ikut pada perang Badar. Utsman bin Affan, yang termasuk orang kaya saat itu, juga menerima bagiannya. Utsman bin Affan menyampaikan, harta Abdurrahman bin Auf halal digunakan dan terdapat berkah di dalamnya. Sebanyak 1.000 ekor kuda dan 50 ribu dinar milik Abdurrahman juga diwasiatkan untuk perjuangan di jalan Allah.

Ternyata kekayaan melimpah tidak perlu dibanggakan karena jika tidak hati-hati bisa menjadi penghalang bagi kita masuk surga. Harta melimpah dan jabatan tinggi harus digunakan untuk berbuat banyak kebaikan dan untuk membela agama Allah, jika tidak kita akan menjadi orang-orang yang celaka. Gaya hidup yang suka pamer kekayaan, tidak layak untuk ditiru. Jika punya harta melimpah, harusnya lebih dermawan, bukan kikir dan tidak peduli dengan sama agar hidup terasa indah. Saat kita mampu berbuat baik pada sesama dengan harta atau jabatan kita, itulah kebahagiaan hakiki tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.