7 Desember 2022

Dimensi.id-Tak terasa, Ramadan 1443 Hijriah sudah berakhir. Hari kemenangan pun telah selesai dirayakan dengan sukacita oleh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Namun tidak demikian dengan umat muslim di Palestina. Mereka lagi-lagi tidak bisa merasakan hari kemenangan. Hal ini karena Israel laknatullahalaih kerap menampakkan kebiadabannya di bulan Ramadan.

Dilansir oleh laman Merdeka.com (19/4/2022), ketegangan Palestina dan Israel semakin memanas pada Ramadan tahun ini. Bahkan, tentara Israel kembali melakukan penyerangan ke masjid Al-Aqsa Yerusalem dan mengusir puluhan warga Palestina yang hendak beribadah shalat subuh. Hingga menyebabkan 152 orang terluka.

Akibat Runtuhnya Daulah

Sejatinya, persoalan yang mendera umat muslim di Palestina adalah akibat runtuhnya negeri Islam yakni Daulah Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924 dan dihapusnya sistem Khilafah oleh Mustafa Kemal Attaturk. Semenjak saat itu, umat muslim di Palestina dan di seluruh penjuru dunia terus mengalami berbagai rentetan peristiwa mengerikan, malapetaka, kenistaan, kesengsaraan, dan penderitaan tiada henti. Mirisnya, hingga saat ini tak ada satupun yang mampu menyelesaikan hal tersebut.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai organisasi internasional sah dewasa ini, terlihat mandul jika sudah menghadapi persoalan yang terkait dunia Islam. Para pemimpin di negeri-negeri muslim sendiri hanya bisa mengutuk atau bahkan diam membisu.

Parahnya, sebagian dari mereka justru mendeklarasikan pengkhianatan dengan melakukan normalisasi bersama Israel. Di sisi lain, media-media nasional maupun internasional pun seolah diarahkan untuk memberi kesan dan pesan kepada publik bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik biasa, bukan kejahatan perang.

Demikian pula dengan Amerika Serikat (AS). Sebagai negara yang menjunjung tinggi HAM, semestinya AS mampu memperjuangkan keadilan untuk muslim Palestina, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. AS justru menjadi negara yang menjalankan kepentingan pribadinya di Palestina. Repository.unej.ac.id (17/1/2014) melansir bahwa kepentingan ekonomi dan politiklah yang menyebabkan AS harus terlibat dalam politik negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Minyak Dunia

Sudah bukan rahasia bahwa kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang strategis (jalur pertemuan tiga benua yaitu Asia, Eropa dan Afrika). Selain itu, kawasan Timur Tengah pun memiliki lebih dari 70% cadangan minyak dunia.

Sementara AS sendiri hanya memiliki kurang dari 3% cadangan minyak dunia. Padahal AS merupakan konsumen minyak terbesar di dunia. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan minyak ini, maka AS harus terlibat dalam konflik di Timur Tengah agar suplai minyak dari kawasan Timur Tengah tetap lancar dan hak-hak eksplorasi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di kawasan itu juga terjaga.

Selain dari minyak, kepentingan ekonomi AS lainnya adalah untuk penjualan senjata atau Military Industrial Complex (MIC). Sebagai kawasan rawan konflik, Timur Tengah telah menerima suplai senjata yang cukup banyak dari AS. Karena AS merupakan produsen dan pengekspor senjata terbesar di dunia antara tahun 1970-1981.

Di lain sisi, sebagai negeri adidaya, kepentingan politik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah tiada lain adalah mempertahankan ideologi yang mereka anut, yakni Kapitalisme-demokrasi. Untuk menjaga ideologi ini, maka AS harus berjuang membendung ideologi-ideologi lain (Islam) bangkit.

Kepentingan-kepentingan besar inilah yang membuat AS meletakkan Palestina selalu dalam suasana konflik. Terlebih sudah kita ketahui bersama, bahwa Palestina adalah jantung Islam di Timur Tengah. Karena itu AS tidak akan membiarkan Palestina hidup damai sebagaimana negara lainnya di sana.

Kaum muslim Palestina harus selalu dibuat tidak tenang. Agar potensi bangkitnya Islam sebagai Ideologi dapat dijegal dan tidak mengganggu kepentingan AS di Timur Tengah.

Amerika Serikat

Sungguh, sampai kapanpun permasalahan Palestina tidak akan dapat diselesaikan, selama dunia masih disetir oleh AS dan sistem Kapitalismenya. Hal ini karena sistem Kapitalisme telah terbukti cacat sedari lahir. Sistem ini gagal memberikan keadilan dan perlindungan. Sistem ini pula biang pemicu berbagai kerusuhan dan penderitaan tak berujung di Palestina dan beberapa negeri muslim seperti India, Myanmar, Rohingya, dan lainnya.

Paham sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) dalam sistem Kapitalisme pun telah melahirkan para penguasa yang tak punya hati. Tersebab itulah, meskipun selama puluhan tahun beragam penderitaan mendera umat muslim di Palestina, namun dunia seolah bungkam.

Karena itu umat harus menyadari bahwa sistem Kapitalisme harus segera ditiadakan. Kemudian diganti dengan sistem Islam. Karena hanya sistem Islamlah yang mampu menjadi solusi sekaligus pembebas Palestina dari cengkeraman AS dan berbagai kepentingannya.

Yerusalem Bagi Umat Islam

Bagi Islam, kedudukan Palestina amatlah penting. Karena Palestina adalah tanah air kaum muslimin dan telah berabad-abad menjadi bagian dari wilayah Islam. Kaum muslim pun terikat dengan Yerusalem karena dua alasan.

Pertama, wilayah Yerusalem telah menjadi bagian dari negeri-negeri Islam dengan status sebagai tanah kharaj sejak era keKhalifahan Umar bin Khattab ra pada tahun 637 Masehi. Karena statusnya sebagai tanah kharaj, Palestina tidak boleh dimiliki oleh siapapun. Hanya boleh dimanfaatkan. Jika kaum muslim saja tidak berhak memiliki tanah tersebut, apalagi kaum zionis Yahudi.

Kedua, kaum muslim terikat dengan kaum Nasrani Yerusalem, untuk melindungi negeri tersebut lewat perjanjian Umariyyah. Dalam perjanjian tersebut Khalifah Umar bin Khattab memberikan jaminan keamanan kepada kaum nasrani dan kaum muslim dalam segala hal. Baik terkait harta, jiwa, dan ibadah mereka.

Selain itu, Khalifah Umar juga menjamin tidak akan mengizinkan kaum Yahudi tinggal bersama kaum nasrani dan umat muslim di Yerusalem. Perjanjian Khalifah Umar dengan kaum Nasrani Yerusalem tersebut tentunya mengikat kaum muslim hari ini hingga akhir zaman.

Berkaca dari sini, maka umat muslim di seluruh dunia berkewajiban merebut kembali Palestina dari cengkeraman zionis Israel dan menepati perjanjian Umariyyah yang telah dibuat oleh Khalifah Umar bin Khattab. Yakni menjaga dan melindungi kaum nasrani dan umat muslim. Serta tidak mengizinkan seorang Yahudi pun masuk bahkan sekadar untuk lewat dan bermalam di sana. Hal demikian karena kaum Yahudi adalah kaum yang sudah dikabarkan Allah paling kuat kebencian terhadap Islam.

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya engkau dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyekutukan Allah…” (TQS. Al-Maidah : 82)

Tersebab itulah umat muslim di seluruh dunia harus bersatu membebaskan Palestina. Namun tentu, untuk membebaskan Palestina kita memerlukan kekuatan militer yang hebat yang mampu mengalahkan Israel dan sekutunya. Dalam hal ini, negara yang menerapkan sistem Islam kafahlah yang akan mampu mewujudkan itu semua.

Hal ini karena ikatan akidah Islam yang terpancar dari penerapan Islam kafah (menyeluruh), akan mempertemukan cita-cita kaum muslimin di seluruh dunia dalam satu perjuangan mulia yakni berjihad membebaskan Palestina dari penjajahan Barat. Dengan demikian maka konflik Palestina-Israel akan berakhir, kemuliaan, keamanan, dan kesejahteraan rakyat Palestina pun niscaya akan terjaga.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Oleh Reni Rosmawati
Ibu Rumah Tangga

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.