7 Desember 2022

Dimensi.id-Benarkah kita tinggal di negeri yang mayoritas penduduknya muslim? Kesyirikan harus didukung sebagai bentuk toleransi dan kearifan lokal. Sebaliknya, mereka yang ingin berislam kaffah dibully, dihalang-halangi dan dicurigai berpaham radikal, intoleran dan makar. Berfikir dan memiliki keinginan untuk mengatur hidup ini dengan Islam dituduh berpaham radikal. Sungguh, aneh hidup di negeri yang mayoritas muslim, Islam dihina dan dinistakan tapi hukum tidak segera menangkap dan memenjarakan mereka. Harusnya mereka dihukum berat, sehingga memberi efek jera karena sudah berani menghina umat Islam yang mayoritas jumlahnya di negeri ini. Umat Islam disuruh toleran dan tidak boleh sakit hati meskipun agamanya dihina dan ajarannya diobok-obok. Banyak kesyirikan dianggap budaya dan kearifan lokal serta sebagai bentuk kebhinekaan, sementara yang ingin berislam secara benar dicurigai dan diawasi.

Sebuah negeri yang sungguh aneh, tapi benar-benar terjadi. Toleransi bagi umat Islam tidak perlu lagi diajari, buktinya di negeri yang mayoritas muslim, tidak ada umat non-muslim yang terancam hidupnya. Mereka sangat dihormati dan tidak dipaksa untuk meninggalkan keyakinannya. Merekapun bebas melakukan ibadah dengan cara mereka, tapi jangan dipertontonkan kesyirikan di depan umum, dihadapan banyak umat Islam yang ingin bertaqwa dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Jika mereka melakukan cara peribadatan sesuai dengan keyakinan, lakukan ditempat ibadah mereka sendiri, bukan memaksa mayoritas penduduk mengikuti dan mengakui kebenaran dari sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia.

Umat Islam juga tidak pernah mempermasalahkan kandungan kitab suci mereka, tapi kenapa mereka selalu mengurusi cara peribadatan Umat Islam. Dan yang lebih menyakitkan ada seorang pendeta yang ingin merevisi kitab suci umat Islam yang berisi kebenaran yang tidak ada keraguan didalamnya. Pemikiran kotor dan sesat manusia harusnya diluruskan dengan al-Qur’an. Tapi kenapa, semua yang menghina dan menista ajaran Islam dibiarkan dan terkesan didukung oleh penguasa. Tidakkah kita hidup di satu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, tapi sangat terasa pemimpinnya tidak berpihak pada umat Islam dan memanjakan mereka yang sudah menyakiti umat Islam.

Mari kita membuka mata dan telinga atas segala penyimpangan yang didukung penguasa, namun saat umat Islam ingin berislam kaffah padahal itu adalah perintah Allah, terdapat dalam kita sucinya, dituduh radikal, intoleran dan lebih menyakitkan adalah tuduhan makar. Kelompok bersenjata yang jelas-jelas ingin memisahkan diri dirangkul, padahal mereka sudah berani membunuh prajurit dan rakyat sipil.

Marilah berfikir cerdas dan cemerlang, banyak korupsi menggerogoti negeri ini. Solusi pencitraan hanya semakin memperparah keadaan. Berbagai permasalahan yang membelit negeri apakah disebabkan diterapkannya Islam secara kaffah? Tentu tidak, diterapkannya hukum kufur buatan manusialah penyembah permasalahan yang tidak ada ujung pangkalnya di negeri ini. Tapi yang selalu disalahkan umat Islam, padahal solusi tuntas untuk semua masalah ada pada Islam saat diterapkannya secara kaffah dalam kehidupan nyata.

Berapa banyak dana tersedot hanya untuk mendukung kesyirikan dan kemungkaran. Semua solusi tidak menyentuh akar permasalahan, hanya menghabiskan energi dan dana yang sia-sia. Hutang luar negeri yang terus meroket tinggi akan menjadi beban generasi, sehingga beban ini semakin menyulitkan kita untuk bangkit. Hidup rakyat susah, padahal kekayaan negeri ini melimpah. Siapa yang sudah menikmati semua hasil kekayaan Negari yang bagaikan penggalan tanah surga. Tidak hanya yang terkandung diperut bumi, tapi juga yang terhampar di permukaannya menjadi sumber kekayaan yang luar biasa. Sayang disayang, rakyat tidak ikut menikmatinya. Belum lagi biru lautnya, dan sumber kekayaan yang terkandung didalamnya akan mampu menjamin kebutuhan dasar rakyatnya. Faktanya, rakyat yang menanggung semuanya, mulai dari kenaikan pajak, melonjaknya harga kebutuhan pokok. Sementara, harus juga menanggung kebutuhan dasarnya sendiri. Lalu dimana peran penguasa yang harusnya menjadi penyelesaian masalah dengan memainkan kekuasaan untuk membantu rakyatnya, bukan malah menjadi sumber penghasil masalah. Para pemimpin dan pejabat yang digaji dengan uang rakyat, tapi tidak berpihak dan melindungi kepentingan rakyat. Pejabat penjilat yang bisanya mencari-cari kesalahan, bukan menyelesaikan masalah agar rakyat bisa hidup aman, tentram, makmur dan sejahtera.

Pagelaran yang hanya hanya menjauhkan umat dari keyakinannya dipertontonkan. Tapi simbol simbol Islam dan ajaran yang lurus dan mulia dipersekusi dan dikriminalkan. Bagaimana bisa sistem negara yang dicontohkan Rasullulah diharamkan. Sementara, demokrasi yang faktanya banyak menghasilkan masalah diwajibkan. Kesyirikan dianggap kearifan lokal yang harus dipertahankan. Kemaksiatan dan sesuatu yang haram dianggap bentuk kebhinekaan yang harus dilindungi dan dihormati. Negara tidak lagi menggunakan standar kebenaran hakiki dari Pencipta Manusia, alam semesta dan hidup, tapi lebih pada kebenaran Semu yang bersumber dari pemikiran manusia yang lemah dan sering salah. Tapi, pemimpin dan pejabat yan selalu merasa benar akan memaksakan keinginannya, meskipun sudah merugikan banyak orang dan hanya menguntungkan segelintir orang, dan nafsu dan ambisinya untuk terus berkuasa. Pejabat yang selalu merasa benar dan tidak mau introspeksi diri dengan menerima kritikan dan nasehat akan berakhir dengan kehinaan. Segera sadar dan bertaubatlah mumpung masih dipertemukan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan. Segera beristighfar sebelum pintu taubat tertutup karena berakhirnya hidup. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.