7 Desember 2022

Dimensi.id-Wajah memelas, sederhana terkesan dekat dengan wong cilik dan bila perlu menangis dilakukan agar terlihat dramatis. Tapi semua ternyata sandiwara, seperti drama Korea hanya untuk pencitraan. Rakyat mulai menyadari bahwa semua itu dilakukan hanya untuk kepentingan golongannya untuk bisa melaju meraih kursi kekuasaan agar terus dalam genggaman. Pencitraan, janji-janji manis disebar hanya untuk menipu agar rakyat mau memilih kembali. Rakyat tidak butuh politik pencitraan, tapi solusi tuntas dan bukti nyata. Kita sudah muak dengan Janji manis tapi palsu untuk membohongi rakyat agar mau diperalat dan dijadikan tumbal kekuasaan.

Saat harga kebutuhan pokok ugal-ugalan naik, sehingga rakyat rela antri meskipun resiko kematian menghantui, politik pencitraan hanya bisa menyalahkan mereka yang antri hingga mati, bukan memikirkan solusi untuk mengontrol harga agar terkendali. Negera tidak berdaya dengan permainan para mafia yang memainkan harga demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, meskipun di atas penderitaan rakyat. Negeri penghasil sawit terbesar sebagai bahan dasar minyak goreng, tapi harga Migor naik tak terjangkau oleh kemampuan rakyat jelata. Bukannya simpati malah menyalahkan rakyat antri hanya untuk sekedar mendapatkan harga Migor yang normal. Untuk apa sebuah negara dengan kepala jika tidak mampu menyelesaikan lonjakan harga barang yang tidak biasa karena permainan para mafia.

Saat menjadi oposisi, sedih dan menangis ketika menyaksikan kenaikan harga BBM, tapi saat kelompoknya berkuasa dan mengambil kebijakan menaikan harga BBM, air mata pencitraan tidak lagi mampu mengalir karena rezim yang berkuasa menjadi bagian kelompoknya. Bahkan tidak hanya BBM tapi juga lonjakan kebutuhan pokok lainnya tidak mampu menyentuh hati nuraninya untuk menolak atau mengutuk kebijakan yang menyengsarakan rakyat, padahal kekuasan ada dalam genggaman dan bisa memainkannya untuk menolong rakyat.

Belum lagi para penista agama tumbuh subur dan menjamur di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Mereka terus mengusik simbol-simbol dan ajaran Islam yang lurus dan mulia. Mereka dibiarkan menyakiti umat Islam dengan dalil kebenasan berbicara. Namun, saat umat ingin diatur dengan Islam secara kaffah, dianggap radikal, intoleran dan bahkan tuduhan makar. Pelajar yang bangga dengan keislamannya dan ingin memperdalam Islam diwaspadai dan ditakut-takuti karena terpapar paham radikal. Sampai kapan, para pemimpin negeri ini berhenti mengusik umat Islam yang ingin beribadah dan berislam secara kaffah. Pemimpin pencitraan yang tidak punya iman tidak bisa diharapkan bisa membela umat dari para penista agama. Para pemimpin culas, serakah dan berambisi untuk berkuasa menghalalkan segala cara, bahkan meskipun harus menggadaikan keimanannya, yang merupakan nikmat tertinggi dalam hidup bagian manusia yang bertaqwa dan mulia.

Betul kata bapak reformasi, Amin Rais sangat bahaya jika pemimpin tidak mampu introspeksi diri dengan kekurangan dalam kepemimpinannya, kerena mengidap sindrom narsistik megalomania. Pemimpin butuh kritik dan saran agar bisa benar dalam memimpin, bukan selalu merasa benar dan hebat sehingga menutup dari dari kritikan padahal diperlukan untuk perbaikan. Yang terpenting lagi, tujuan politik harus benar mengurusi urusan rakyat, bukan hanya untuk kekuasaan dan mengurusi oligarki yang dianggap menguntungkan untuk mempertahankan kekuasaan. Politik pencitraan harus dihilangkan dengan tegaknya sistem Islam, yang mana pemimpin bertujuan untuk mengurusi urusan rakyat. Rakyat bisa hidup makmur, dan sejahtera dalam sistem Islam karena pemimpinnya amanah dan peduli pada rakyatnya. Keadilan untuk seluruh rakyat sungguh akan dirasakan dalam sistem Islam bukan hanya para oligarki yang menyusahkan rakyat.

Pemimpin pencitraan tumbuh subur di dalam sistem demokrasi. Melakukan berbagai cara agar terlihat baik dan terkesan membela rakyat, tapi faktanya hanya membohongi rakyat dengan janji-janji manis yang tidak pernah ditepati. Semua dilakukan demi kekuasaan dan terus mempertahankan kekuasaan dalam genggaman tangan. Tidak perduli rakyat menderita, tidak penting pula menggadaikan keyakinannya. Masa bodoh dengan kebenaran, jika tidak menguntungkan ditinggalkan. Sedih melihat negeri yang kita cintai yang amburadul, karena ulah segelintir orang yang tidak mau sadar, dan terus berambisi memimpin negeri ini, tapi terbukti tidak . Ingin terus memimpin dan berkuasa, padahal tidak memiliki kemampuan.

Haruskah kondisi ini terulang kembali, meskipun berganti pemimpin sampai seribu kali terjadi. Politik pencitraan hanya terlihat baik dipermukaan, tapi tidak mampu menyentuh akar permasalahan. Hutang luar negeri membengkak, harga barang-barang terus ugal-ugalan melonjak naik tanpa diimbangi penghasilan yang bertambah membuat rakyat sehingga banyak dari mereka jatuh pada kemiskinan. Keadilan hukum bukan milik semua rakyat, hanya para oligarki yang ada dalam lingkaran kekuasaan. Kesejahteraan dan keadilan hanyalah ilusi, sebuah mimpi yang tidak terpenuhi oleh pemimpin satu negeri yang sibuk dengan politik pencitraan. Saatnya kita bersama menegakkan sistem Islam yang akan menghapus politik pencitraan, dengan menunjukkan perhatian dan wajah asli yang perduli dengan rakyat dengan tujuan politik untuk mengurusi rakyat. Pemimpin cinta dan berpihak pada rakyat, begitu pula rakyat mencintai pemimpinnya. Negara aman, tentram, makmur dan sejahtera di tangan kepemimpinan Islam yang peduli untuk mengurusi rakyatnya. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.