7 Desember 2022

Dimensi.id-Radikal dan intoleran adalah dua kata yang sering digunakan untuk membunuh karakter orang-orang kritis terhadap penguasa dzalim. Mereka yang menginginkan kebaikan tapi tidak sejalan keinginan penguasa dianggap radikal dan intoleran. Sering pula dua kata itu ditujukan pada umat Islam yang taat dan militan pada agamanya karena penyakit islamophobia sudah menjangkiti para penguasa di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Aneh, mereka yang belajar di pesantren dituduh memiliki paham radikal yang satu langkah saja pada tindakan terorisme. Tapi semua hanya tuduhan yang tidak terbukti kebenarannya karena dorongan kebencian, sehingga tidak mampu bersikap adil dan berfikir cemerlang dalam melihat fakta dan kenyataan.

Sering pengalihan isu atas kegagalan penguasa, kemudian jualan isu radikal dilakukan pada satu negeri yang harusnya penduduknya bisa hidup sejahtera. Korupsi yang menggurita sudah merampok uang rakyat, seolah dibiarkan tidak tersentuh hukum. Proyek IKN yang sama sekali tidak ada urgensinya untuk kepentingan rakyat terasa dipaksakan karena hanya ingin mengikuti arahan para oligarki yang diuntungkan. Penguasa tidak berpihak pada rakyat, sehingga setiap kebijakan hanya menguntungkan para oligarki, tapi merugikan rakyat. Pajak dinaikkan, para mafia memainkan harga tindak ditindak tegas, dan korupsi meraja lela dianggap biasa. Rakyat dikorbankan dan harus menanggung semua kerugian Negera karena segelintir orang dan para pejabat yang mencuri uang rakyat.

Sementara, jualan radikal dan intoleran terus dilakukan pada rakyat yang tidak mungkin bisa memaksakan kehendaknya pada penguasa. Rakyat memberi masukan demi kebaikan jangan diancam atau dibunuh karakternya dengan sebutan radikal, intoleran dan bahkan dikatakan teroris dan anti NKRI. Pemimpin yang adil dan amanah butuh nasehat dari rakyat agar bisa terus melayani rakyat dengan baik. Jangan kikis dan dihabisi rakyat yang kritis, mereka yang tidak ingin melihat pemimpinnya tergelincir pada perbuatan dzalim.

Gerakan bersenjata yang ingin memisahkan diri kenapa yang harus dirangkul, padahal mereka terang-terangan menunjukkan sikap makar, bahkan sudah melukai rakyat sipil dan aparat. Kenapa tidak ditindak tegas mereka yang menista agama, dan membuat gaduh meskipun suka menyanjung dan mendukung penguasa. Mereka adalah para penjilat dan pengkhianat yang harusnya diwaspadai, bukannya dipelihara dengan uang rakyat tapi kata-katanya sering melukai dan memusuhi rakyat. Jika memang negeri ini ingin selamat rangkul mereka yang memiliki pemahaman bersebrangan dengan penguasa, ajak mereka bicara dari hati ke hati, bukan dihabisi dan diberi label radikal, intolerant dan makar. Terutama, umat Muslim yang taat jangan dimusuhi, karena mereka aset negara yang bisa jadi membawa solusi tuntas agar bisa keluar dari masalah yang membelit negeri.

Pejabat yang suka pencitraan terlihat, tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah. Rakyat sendiri dimusuhi dengan sebutan radikal, intoleran, bahkan tuduhan teroris hanya untuk mengesankan yang paling benar. Tuduhan radikal, intoleran dan makar salah alamat jika ditujukan pada umat Islam yang bertaqwa. Mereka adalah aset negara yang bisa memberikan kontribusi positif jika mereka dirangkul, didengar dan diberi kesempatan berbicara untuk memberikan solusi terbaik untuk semua masalah yang membelit negeri.

Jika tidak mampu dan gagal merawat aset negeri ini, harusnya mundur dan tidak usah diteruskan yang hanya akan memperparah masalah. Suka menyalahkan padahal hanya untuk menutupi kelemahan dan kesalahan. Bukan memberikan bukti, tapi hanya menebar janji yang tidak dapat ditepati. Rakyat sudah muak dengan gaya kepemimpinan pencitraan yang tidak mampu mensejahterakan rakyat. Keadilan juga hanya ilusi, janji-janji yang tidak pernah ditepati. Hidup dalam negeri yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa tapi tak mampu mensejahterakan rakyat. Untuk apa diteruskan lebih baik mudur terhormat, daripada bertahan tapi berakhir dengan kehinaan.

Mereka yang sudah membawa kerugian dan membawa masalah dan malapetaka pada negeri inilah yang lebih layak disebut radikal, intoleran, makar bahkan lebih parah dari itu. Mereka yamg korupsi, kelompok bersenjata yang memisahkan dari negeri ini, para penjilat kekuasaan serta buzzer yang suka memecah belah umat dan membuat kegaduhan sepantasnya dijadikan musuh bersama. Para pemimpin negeri ini harusnya lebih peka dan memahami siapa lawan dan siapa yang layak dijadikan musuh. Semua elemen bangsa layak untuk duduk bersama untuk menemukan solusi tepat untuk menyelesaikan masalah negeri yang semakin rumit. Bukan saling menyalahkan dengan tuduhan radikal, intoleran dan makar tapi salah sasaran. Bahkan, penguasa yang memaksakan kehendaknya pada rakyatnya-lah yang layak disebut radikal, bukan rakyat jelata yang tak mampu memaksakan, kehendaknya, tapi dari merekalah mungkin solusi dan saran bisa didapat untuk menyelesaikan masalah yang tidak ada ujung pangkalnya rakyat ditinggalkan bahkan dijadikan musuh, bukan partner yang saling menguatkan agar bisa bersama-sama bangkit, bukan terpecah belah, lemah dan dijajah oleh kepentingan asing yang mulai mencengkramkan kuku-kuku hegemoni dan pengaruhnya di negeri yang kita cintai (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.