7 Desember 2022

Meskipun perhelatan akbar MotoGP di Mandalika telah selesai dilaksanakan, namun juru terang alias pawang hujannya hingga kini masih menjadi buah bibir dan perbincangan hangat di tanah air. Bagaimana tidak, belum usai menjadi gunjingan warganet, kini pernyataan Kemendikbud bahwa pawang hujan menggunakan gelombang teta untuk mengendalikan hujan kembali mengundang sorotan tajam di masyarakat. Salah satunya dari seorang dai kondang Ustadz Felix Siauw.

Dilansir oleh GALAMEDIANEW.com (26/3/2022), Felix menganggap pernyataan Kemendikbud memalukan. Menurut Felix, belajar meteorologi, fisika, biologi, kimia adalah hal yang percuma jika sebatas gelombang teta yang dijadikan alat komunikasi dengan hujan. Lebih lanjut Felix menjelaskan, bahwa pawang hujan adalah sebuah klenik bukan pendidikan. Menurutnya, apa yang bisa diharapkan dari pendidikan Indonesia jika selevel kementerian memposting hal yang seperti ini.

Untuk diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengunggah postingan terkait pawang hujan pada Rabu (23/3) di akun resmi Instagram miliknya (@Kemendikbud.ri). Dalam unggahan tersebut, Kemendikbud mengatakan bahwa pawang hujan adalah pengenalan budaya dan tradisi lama Indonesia. Pawang hujan pun bekerja menggunakan gelombang otak teta untuk berkomunikasi dan memanggil hujan. (JABARBICARA.com, 26/3/2022)

Benarkah Gelombang Theta Mampu Mengendalikan Hujan?

Sejatinya, pernyataan Kemendikbud soal pawang hujan menggunakan gelombang teta dalam mengendalikan hujan perlu kita kaji ulang kembali. Hal ini karena gelombang teta adalah gelombang yang mendominasi ketika seseorang tidur dan bermimpi serta tempat di mana terjadi rasa takut. Selain itu, gelombang teta juga memiliki fungsi untuk memaksimalkan belajar, dan intuisi. (Kompas.com, 9/10/2021)

Sementara, terjadinya hujan secara ilmiah tidak bisa dipisahkan dari proses siklus air. Secara umum, terjadinya hujan pun akan melalui 3 tahapan. Pertama, evaporasi yaitu proses penguapan air di sungai, laut, danau menjadi butiran atau uap air karena panasnya suhu matahari. Uap ini kemudian akan naik ke atmosfer dan menggumpal menjadi awan. Semakin panas suhu udara, maka air yang menguap akan lebih banyak dan kemungkinan untuk hujan pun semakin besar. Kedua, kondensasi yaitu pengembunan uap air yang naik ke atmosfer hasil dari proses evaporasi. Dalam proses ini uap air akan menjadi es dan membentuk partikel sangat kecil. Perubahan ini dipengaruhi oleh ketinggian awan dan udara. Ketiga, presipitasi yaitu proses mencairnya butiran es di awan, kemudian turun menjadi titik-titik hujan ke bumi. (Kompas.com, 20/5/2021)

Sistem Kapitalisme-Sekuler Suburkan Kemusyrikan

Sebagai negeri dengan mayoritas umat muslim terbesar di dunia, seharusnya masyarakat Indonesia sudah memahami bahwa percaya pada hal-hal yang berbau kemusyrikan adalah dosa besar. Itulah sebabnya, merupakan hal yang aneh jika segala yang berbau klenik dan kemusyrikan tersebut masih dipercayai dan dipelihara, bahkan dibanggakan karena dianggap budaya lokal.

Sungguh miris, beginilah fakta hari ini. Berbagai hal yang berbau kemusyrikan senantiasa ada bahkan tumbuh subur dan menjamur di mana-mana. Semua kondisi ini akibat diterapkannya sistem Kapitalisme-Sekuler. Paradigma Kapitalisme-Sekuler telah menjauhkan agama dari kehidupan manusia. Sehingga halal haram tak dipedulikan apalagi menjadi patokan dalam melakukan perbuatan. Maka tidak heran, atas nama budaya hal yang menyimpang dari aturan agama pun tetap dipelihara. Meskipun mengancam akidah umat manusia.

Tidak demikian jika sistem Islam yang diterapkan. Dalam Islam hujan dipandang sebagai rahmat. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qu’ran surat Asy-Syuura ayat 28 yang artinya:

“Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.”

Juga dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 10 yang artinya: “Dialah yang menurunkan air hujan dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhannya) kamu dapat menggembalakan ternakmu.”

Hukum Pawang Hujan Dalam Pandangan Islam

Sebagai agama sempurna, Islam hadir ke dunia ini untuk mengatur segala problematika kehidupan. Dalam Islam, setiap tindak-tanduk manusia haruslah sesuai dengan hukum syara (Al-Qur’an dan hadis). Karena keduanya adalah pedoman hidup bagi manusia dalam melakukan setiap perbuatan. Dalam Islam, hukum menggunakan pawang hujan adalah haram.

Dalam buku yang disusun oleh H. A. Zahri (2019: 48) yang berjudul Pokok-Pokok Akidah yang Benar dijelaskan bahwa percaya pada sesuatu selain Allah dan menganggap sesuatu itu dapat memberikan, manfaat, keselamatan, kecelakaan, keberuntungan, dan kerugian adalah syirik. Dalam hal ini, tradisi penggunaan pawang hujan termasuk syirik. Karena mempercayai bahwa pawang hujan dapat mengalihkan dan mencegah terjadinya hujan. Pada buku tersebut juga dipaparkan bahwa apabila terjadi hujan yang membawa bencana, maka umat muslim disunnahkan untuk berdoa kepada Allah Swt. agar terhindar dari bahaya. Bukan dengan mendatangkan pawang hujan berikut ritual-ritual khususnya untuk menolak hujan.

Dalam Islam, mencegah turunnya hujan adalah mutlak kuasa Allah Swt., bukan kuasa manusia atau makhluk lainnya. Semua ini sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 1039 yang artinya:”Kunci ilmu gaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt. Pertama, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi padanya esok hari. Kedua, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi di dalam rahim. Ketiga, tidak ada satupun jiwa yang bisa mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Keempat, tidak ada satupun jiwa yang mengetahui di mana dan kapan ia akan mati. Kelima, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan turun.”

Dari penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa sama sekali tidak ada hubungannya antara hujan dengan gelombang teta. Mengatakan pawang hujan berkomunikasi dengan alam semesta menggunakan gelombang otak teta jelas pernyataan tidak mendasar.

Sejatinya, pernyataan Kemendikbud soal pawang hujan berkomunikasi menggunakan gelombang teta adalah hal yang berbahaya dan dapat menyesatkan akidah masyarakat. Karena mendorong kesyirikan dan mematikan nalar/logika.

Tersebab itulah kita harus mewaspadai hal ini. Kita tidak boleh termakan opini yang seolah benar, padahal nyatanya salah bahkan menyesatkan. Kita pun harus menyadari bahwa selama sistem Kapitalisme-Sekuler masih bercokol segala hal yang berbau kemusyrikan yang dapat mendangkalkan akidah umat Islam akan senantiasa ada. Oleh karena itu, kita harus berjuang bersama-sama mengenyahkan sistem bathil dan merusak ini. Kemudian kita ganti dengan sistem yang Allah turunkan, yakni sistem Islam (Daulah Khilafah Islamiyyah).

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Oleh Reni Rosmawati
Ibu Rumah Tangga

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.