7 Desember 2022

Dimensi.id-Kalau mau jujur siapa yang sudah banyak merugikan negeri ini. Siapa juga yang membawa kerusakan dan memaksakan satu hukum yang dzalim diberlakukan di negeri yang kita cintai ini? Korupsi yang merajalela dan menggarong uang rakyat, telah membawa kerugian besar, lalu siapa pelakunya? Para oligarki yang sudah menikmati kekayaan alam negeri yang kita cintai ini? Tapi rakyat yang harus menanggung semua kerugian. Pajak dan kebutuhan pokok meningkat begitu pula hutang luar negeri yang membumbung tinggi sampai mencapai angka fantastis 7.014,58 triliun.

Bukankah para pejabat yang rakus atas kekuasaan yang sudah menghancurkan negeri ini. Banyak hal yang haram diterjang sehingga mengudang adzab Allah. Banyak yang menghina dan menistakan Agama Allah dibiarkan dan tidak tersentuh hukum, sementara umat Islam yang ingin berislam kaffah, dianggap radikal. Negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, tapi penguasa yang radikal memaksakan rakyatnya menerima satu hukum kufur yang bertentangan dengan keyakinan rakyatnya.

Bersikaplah adil, apakah ormas yang kau tuduh radikal pernah melakukan kesalahan fatal yang merugikan negeri ini. Tapi kenapa mas menteri ngakunya Muslim tapi begitu bencinya pada ormas Islam yang ingin menegakkan hukum Islam di negeri yang mayoritas Muslim. Begitu bencinya pada umat Islam, tapi toleran pada pembenci Islam. Mereka yang terang-terangan menistakan agama Islam tidak dianggap radikal, dan mereka yang ingin memisahkan diri dari negara kesatuan tidak dianggap makar. Mereka yang sudah membunuh rakyat sipil bahkan aparat tidak dianggap teroris. Tapi kenapa umat Islam yang taat dan ingin diatur dengan Islam secara kaffah dianggap radikal. Mereka menyebarkan kebaikan dengan Islam dianggap intoleran. Bahkan seorang dokter muslim yang suka menolong dan memberi pelayanan kesehatan gratis ditembak ditempat dengan tuduhan sebagai teroris. Bagaimana bisa negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, tapi Islam dimusuhi dan diperlakukan tidak adil dengan tuduhan-tuduhan yamg tidak masuk akal, tidak berlandaskan bukti dan fakta tapi asumsi dan kebencian serta berlandaskan islamophobia.

Mas Menteri juga tidak merasa bersalah dengan menganalogikan suara adzan dengan gonggongan suara Anjing. Saat pendeta Saifudin mengajukan penghapusan 300 ayat al-Qur’an, mas menteri juga tenang-tenang saja, tidak terusik keimanannya, apakah memang betul mas menteri masih punya iman, karena sudah menjadi alat penguasa untuk memusuhi saudaranya sendiri.
Harusnya kekuasaan dan jabatan menteri digunakan untuk mendukung syiar agama Islam, karena mas menteri seorang Muslim. Tapi sayang dan sangat disayang apa yang keluar dari lisan yang merupakan ungkapan hasil pemikiran tidak menunjukkan identitas sebagai seorang muslim. Bahkan, pemikiran sekular yang ditunjukkan, intoleran dan keras terhadap umat Islam, tapi menunjukkan sikap toleran dan lembut pada orang kafir bahkan pada mereka yang terang-terangan memusuhi Islam.

Kekuasaan dan jabatan sebagai menteri akan dimintai pertanggung jawabannya nanti dihadapan Allah. Hidup hanya sebentar dan setiap manusia pasti berakhir di dunia ini pada satu titik kematian. Jabatan dan harta yang kita miliki segera tidak punya arti, kecuali jika sepanjang hidup digunakan untuk membela agama Allah, bukan malah mendukung orang-orang yang memusuhi Islam. Segera menyadari dan mengucapkan banyak istighfar adalah tindakan tepat agar dapat ampunan di Bulan Ramadhan yang merupakan bulan pengampunan dan penuh berkah.

Berpuasa agar menjadi jiwa yang bertaqwa dengan meninggalkan semua yang dilarang dan menjalankan semua perintah Tuhan Semesta Alam. Inikah yang dimaksud radikal dalam ajaran moderasi yang terus digaungkan yang menganggap semua agama benar, sehingga hukum kesepakatan yang lebih dipilih daripada berislam secara kaffah. Siapa yang lebih radikal dan bisa memaksakan keinginannya, penguasa atau rakyat biasa? Namun, tuduhan radikal sering salah alamat ditujukan pada rakyat biasa yang tidak bisa memaksakan keinginannya dengan tangannya karena tidak memiliki kekuasaan.

Toleransi bukan berarti tidak punya prinsip dan keyakinan dalam hidup karena menganggap semua agama sama. Kebhinekaan bukan berarti tidak punya agama, karena menganggap semua agama benar. Gamang dalam beragama akhirnya lebih memilih hukum kesepakatan buatan manusia yang jauh dari nilai keadilan. Berpuasa boleh tapi bertaqwa jangan. Padahal puasa yang sungguh-sungguh akan menempa diri ini menjadi pribadi bertaqwa. Saat seorang muslim bertaqwa, pasti dia akan meninggalkan semua yang dilarang meskipun menyenangkan, dan menjalankan semua yang diperintahkan oleh al-Khalik. Jadi orang bertaqwa hanya memilih hukum Allah, bukan hukum kesepakatan buatan manusia. Orang bertaqwa akan memilih diatur dengan Islam daripada hukum kufur meskipun dianggap memiliki kearifan lokal, jika bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia. Jangan salahkan umat Islam yang ingin diatur dengan Islam secara kaffah dengan sebutan radikal, karena mereka ingin selamat tidak hanya di dunia dan akhirat. Keinginan logis seorang muslim sejati tidak akan membawa masalah tapi bisa menjadi solusi semua masalah jika Islam bisa diterapkan secara kaffah.

Tolong hentikan framing buruk terhadap Islam. Jangan teruskan jualan radikal, intoleran dan moderasi yang ujung-ujungnya menjauhkan umat Islam dari agamanya. Umat Islam bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa seperti pesan yang selalu disampaikan setiap Jum’at, sungguh bertentangan dengan sekularisme dan ideologi kapitalisme demokrasi yang terus didengungkan pada Umat Islam. Ramadhan harus dijadikan momentum untuk kembali kepada Islam secara kaffah dan bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa, dengan meninggalkan ajaran sesat sekularisme dan kapitalisme untuk mewujudkan kembali kehidupan Islami yang akan menenggelamkan kemaksiatan dan menjunjung tinggi kebenaran Islam sampai menjulang tinggi ke angkasa yang membuat hidup kita mulia. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.