6 Desember 2022

Dimensi.id-Pemimpin dalam sistem demokrasi memang enggan mundur dan ingin terus berkuasa, meskipun tidak mampu. Ambisi politik untuk terus berkuasa sudah terbukti tidak membawa kebaikan, sehingga gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa telah menghasilkan aturan yang membatasi dua periode saja. Jika tidak dibatasi, ambisi untuk terus berkuasa tumbuh dalam diri pemimpin dalam sistem demokrasi. Faktanya, dengan berbagai cara, penguasa bisa memainkan kekuasaannya agar bisa dipilih kembali meskipun rakyat sudah tidak suka dan muak dengan segala janji yang tidak ditepati dan pencitraan agar dipilih kembali. Rakyat tertipu dengan wajah yang tidak berdosa dan slogan yang pro-rakyat. Meskipun catatan buruk sudah menjadi alasan baginya untuk mundur, namun ambisi untuk terus berkuasa sudah membuatnya buta, tuli dan tidak perduli. Tidak ada lagi prestasi yang dibanggakan, masa bodoh rakyat hidup menderita dengan harga kebutuhan yang melambung tinggi dan hutang luar negeri yang terus bertambah menjadi beban generasi.

Kalau sudah tidak mampu kenapa tidak mundur saja. Rakyat susah dan menderita tapi tetap tidak mau turun dari kursi kekuasaannya meskipun tidak punya kemampuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Berbagai cara dilakukan mulai dari tunda pemilu sampai masa jabatan 3 periode. Melanggar konstitusi yang sudah ditetapkan tidak merasa berdosa yang penting kekuasaan bisa dipertahankan. Menggerakkan massa dengan kekuasaannya agar soalah-olah rakyat menginginkannya. Rakyat lapar mudah digerakkan dengan iming-iming uang agar tetap mau memilih dan mendukungnya.

Ambisi pemimpin dalam sistem demokrasi untuk terus berkuasa terus menyala dalam sistem demokrasi. Malu-malu tapi mau, menolak tapi menginginkannya, sehingga mengerahkan relawan bayaran untuk mendukungnya. Segala cara mulai dari yang terang-terangan sampai pencitraan, yang halal sampai dengan yang haram dilakukan untuk tujuan kekuasaan. Semua berujung pada kursi kekuasaan. Setelah kekuasaan tercapai, enggan untuk melepaskan agar nikmat kekuasaan tetap bisa dirasakan, begitupula orang-orang di lingkaran kekuasaan yang diuntungkan, oligarki dan para penjilat yang memperoleh remah-remah roti kekuasaan dengan menggadaikan keyakinannya yang bisa membuatnya mulia. Menjadi hina dihadapan manusia terlebih lagi dihadapan Allah, karena mengikuti ambisi dan nafsu untuk terus berkuasa.

Sementara, politik dalam sistem Islam untuk mengurusi urusan rakyat dengan menerapkan hukum Allah secara kaffah. Mereka yang kuat yang layak jadi pemimpin, bukan yang lemah dan berambisi menginginkan kekuasaan. Pemimpin yang mampu melindungi dan melayani rakyatnya, bukan pejabat yang maunya dilayani dan dimengerti keinginannya.

Rasulullah Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis melarang umatnya untuk meminta jabatan. Rasulullah juga enggan memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan dan rakus. Dalam hadis lainnya Rasulullah juga mengatakan bahwa pada hari kiamat jabatan adalah kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang yang mengambil jabatan dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar. Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan karena permintaan maka tanggung jawabnya akan dibebankan kepadamu. Namun jika kamu diangkat tanpa permintaan, maka kamu akan diberi pertolongan.” (HR Muslim).

Coba kita renungkan, apakah ada dalam sistem demokrasi pemimpin yang tidak mau jabatan. Kalaupun ada yang menolak, pasti hanyalah pencitraan. Lisannya berkata tidak mau, tapi kaki tangannya bergerak untuk mencari dukungan agar diberi kekuasaan bahkan masih kurang puas hanya dua periode. Jika merasa tidak mampu, kenapa tidak mundur saja. Banyak rakyat mengeluh kenaikan harga barang, BBM naik, begitu pula pajak. Hidup rakyat semakin terjepit dalam kondisi sulit karena Pandemi, sehingga angka kriminalitas meningkat bersama hutang luar negeri dalam jumlah yang fantastis terus bertambah. Mau dibawa kemana negeri ini jika kondisi ini tidak berubah. Apakah pergantian kepemimpinan adalah solusi untuk semua masalah? Banyak orang pesimis, karena bergantinya pemimpin tidak merubah keadaan menjadi lebih baik.

Saatnya kembali pada sistem Islam, khilafah yang mampu menerapkan Islam secara kaffah. Pemimpinnya amanah dan mencintai rakyatnya begitu pula rakyat mencintai pemimpinnya. Kehidupan Islami benar-benar terwujud untuk menjaga akhidah umat dari serangan buzzer dan musuh-musuh Islam yang tidak menginginkan Islam tegak di bumi yang mayoritas penduduknya Muslim dengan kekayaan dan indahnya sumber daya alam bagaikan penggalan tanah surga. Sungguh beruntung, hidup di negeri yang memiliki sumber daya alam yang melimpah yang harusnya mampu menjamin kesejahteraan rakyat. Faktanya, hanya segelintir orang yang menikmati semua ini, para oligarki. Sudah saatnya kita memikirkan satu sistem yang mampu merubah kondisi negeri yang terpuruk ini menjadi lebih baik dengan Islam. Bukan makar, bukan pula tidak cinta pada negeri ini, tapi kita harus berfikir cerdas dan cemerlang untuk melakukan perubahan hakiki, bukan perubahan semu dan menipu. Kita rindu pemimpin amanah yang memimpin dengan aturan Allah dan mengajak ke SurgaNya. Hanya dalam Sistem Islam keinginan memiliki pemimpin ideal bisa lebih mudah terwujud, sebaliknya dalam sistem demokrasi hanya menciptakan pemimpin serakah yang berambisi dengan kekuasaan sehingga kepemimpinannya jauh dari pertolongan Allah, sebaliknya dekat dengan adzab-Nya (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.