7 Desember 2022

Dimensi.id-Banyak uang, rumah megah dan mobil mewah mungkin sebagian orang menganggapnya sumber kebahagiaan. Benarkah kita akan bahagia dengan harta melimpah? Atau menjadi terpandang, mempunyai kedudukan tinggi dan dihormati banyak orang yang membuat kita senang adalah kebahagiaan hakiki. Faktanya, banyak orang kaya hidupnya hampa dan tidak merasa bahagia. Orang terkenal dan viral ternyata membuat hidup tidak tenang. Tidak sedikit mereka hidup depresi sampai bunuh diri meskipun hidup bergelimang harta dan punya kedudukan tinggi dan dihormati ditengah masyarakat.

Siapa yang tidak kenal Elvis Preley. Di zamannya, dia penyanyi terkenal dan memiliki banyak penggemar. Namun, pada 16 Agustus 1977, Penyanyi legendaris ini terkena serangan jantung saat berada di kamar mandi di tempat tinggalnya di Graceland, dan kemudian meninggal. Kematiannya diyakini selama beberapa tahun sebagai akibat dari penyalahgunaan obat-obatan yang membuat kesehatannya memburuk. Ternyata, popularitas dan kekayaan tidak bisa membuat hidupnya bahagia. Di akhir hidupnya, dia merasa depresi sehingga menggunakan obat-obat terlarang. Contoh lain, miliarder dengan kekayaan luar biasa ternyata juga tidak bisa menjamin hidup bahagia. Tidak sedikit dari mereka mengakhiri hidup dengan Bunuh Diri. Punya banyak harta bukan jaminan seseorang bisa hidup bahagia. Nyatanya, ada juga beberapa miliarder yang harus mengakhiri hidup dengan cara tragis meski sudah memiliki pundi-pundi kekayaan dalam jumlah fantastis.

Lalu apa arti kebahagiaan bagi seorang Muslim sejati? Bisa hidup sesuai dengan aturan Allah adalah kebahagian hakiki seorang Muslim sejati. Beribadah adalah tujuan hidupnya, sehingga dia akan merasa bahagia saat langkah hidupnya dapat ridho dari Allah Yang Pengasih dan Penyayang. Mampu mengatur hidupnya dengan Islam secara kaffah itulah kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Harta kekayaan dan jabatan dia gunakan untuk membela agama Allah dan jalan baginya untuk melakukan banyak kebaikan sesuai dengan tuntunanNya. Sudah terbukti bahwa kebahagiaan ada didalam hati saat Allah ridho dengan setiap langkah hidup kita, dan saat kita-pun ridho dengan setiap keputusan dan ketetapan-Nya. Berfikir positif atas setiap takdir, dan mensyukuri setiap nikmat yang melingkupi hidup kita adalah kunci kebahagiaan.

Masihkah kita mengejar mati-matian dan mengumpulkan serta menghitung-hitung harta kekayaan kita, padahal semua itu bukan sumber kebahagiaan, bahkan sering membuat hidup resah dan gelisah. Celaka, karena apa yang dimiliki, rezeki dari Allah tidak mampu mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Bahkan sebaliknya, hidup terasa hampa dan jauh dari petunjukNya karena disibukkan oleh urusan dunia dan usaha untuk mendapatkan dan menjaganya. Sering seseorang tidak sempat menikmati yang harusnya menjadi rezekinya, karena sibuk untuk mengejar rezeki yang memang sudah menjadi miliknya.

Harta kekayaan serta jabatan akan menjadi berkah dan nikmat saat bisa digunakan di jalan benar untuk ibadah pada Sang Pemilik Hidup. Berbahagia bisa menggunakan semua potensi yang Allah berikan pada kita untuk membela Agama Allah, bukan sebaliknya hanya untuk mengejar nikmat dunia yang semu dan menipu. Jangan sampai membiarkan waktu berlalu tanpa ada jejak kebaikan yang kita buat untuk bekal kehidupan akhirat nanti.

Seorang muslim sejati setiap langkah hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Setiap amal perbuatannya terikat dengan hukum Syara. Dia hanya berbuat jika hukumnya halal dan diperintahkan dalam ajaran Islam. Kesadaran hubungan dengan Tuhan sangat kuat sehingga pantang baginya untuk mengambil jalan yang haram, meskipun menguntungkan dan tidak satupun manusia yang melihatnya, karena dia yakin Allah, Maha Melihat, sedang menyaksikan apa yang sedang dia kerjakan. Setiap melakukan kebaikan yang sesuai dengan ajaran Islam adalah satu kebahagiaan yang dirasakan, bukan banyaknya harta dan tingginya jabatan, karena yang dimiliki nanti akan dimintai pertanggung jawaban. Saat potensi yang dimiliki mampu membuat seseorang beribadah dan berjalan pada jalan yang lurus, itulah nikmat yang luar biasa yang telah diberikan pada orang-orang sebelumnya. Seorang muslim sejati, selalu bermohon dalam sholatnya agar tertunjuki ke jalan yang lurus, bukan jalan orang-orang yang dapat murka karena berpaling dari petunjukNya, bukan pula mereka yang tersesat.

Namun, kapitalisme hanya menciptakan orang-orang yang kering dengan nilai-nilai agama sehingga berfikir kebahagiaan ketika tercapainya nafsu dunia Harta benda dan jabatan menjadi tujuan utama dalam hidup yang dianggap mampu menciptakan kebahagiaan. Faktanya, banyak orang tertipu ternyata mereka tidak bisa merasa bahagia karena sudah meninggalkan pegangan agama. Menjadi budak dunia tidak terasa membuat mereka menderita. Segala cara dilakukan untuk mencapai tujuan nikmat dunia, bahkan meskipun harus menggadaikan keyakinannya. Sungguh, hidup di sistem kapitalis membuat banyak orang menderita, meskipun mereka sudah menggapai apa yang diinginkan. Saatnya kembali pada sistem Islam yang menciptakan kehidupan Islami yang tidak menjadikan dunia tujuan, tapi sarana untuk mencapai tujuan agar bisa beribadah dengan maksimal sesuai tuntunanNya untuk mempersiapkan kehidupan akhirat yang abadi dan untuk selama-lamanya. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.