7 Desember 2022

Masih menjadi pusat perhatian yang menyayat hati, kasus pembunuhan yang dilakukan KU (35) seorang ibu pembunuh anak kandung sendiri di Tonjong Brebes. Kejadian ini terjadi Minggu, 20 Maret 2022 selepas subuh. Satu anak ditemukan tewas dengan luka sayat di leher, sedangkan dua anaknya berhasil selamat dengan luka pada leher.

 

Kasus ibu bunuh anak ini diduga kuat karena depresi. Terungkap motif ibu muda yang juga berprofesi sebagai perias atau make up artist ini adalah akibat himpitan ekonomi. Dan kesedihannya yang ingin disayang oleh suami dan ibunya karena sejak kecil merasa terus hidup susah dan terkurung. Diketahui suami KU seringkali menganggur, walau saat ini bekerja merantau di Jakarta sebagai sekuriti.

 

Kapitalisme Pemicu Depresi Sosial

 

Stress merupakan reaksi tubuh pada diri seseorang akibat berbagai persoalan yang dihadapi. Gejala-gejalanya mencakup mental, sosial dan fisik; bisa berupa kelelahan, kemurungan, kelesuan, kehilangan atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur atau malah tidur berlebihan. Perasaan was-was dan  frustrasi juga bisa muncul bersamaan dengan stress. Dalam kehidupan rumah tangga, stress bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti kejenuhan dalam menghadapi anak-anak yang sulit diatur, tidak mau makan atau tidur, membuat rumah berantakan setelah ibu lelah membersihkan rumah dan sebagainya.

 

Ditambah dengan keadaan suami yang bertindak masa bodoh, menganggap bahwa ketika istri telah menerima gaji bulanan maka tugas suami pun selesai. Padahal suami sendiri harus memperhatikan pola komunikasi, mengerti peran istri dan memperlakukan istri dengan makruf. Seringkali sang istripun tidak mampu mengungkapkan keinginan dan pendapatnya kepada suami sehingga kekesalan dan kejenuhan nya semakin menjadi.

 

Pandangan hidup seseorang akhirnya sangat berpengaruh pada bagaimana orang tersebut menjalani kehidupannya. Pandangan hidup tanpa disertai standar yang jelas tentu akan mempengaruhi cara berpikir dan perilaku seseorang. Berbagai persoalan hidup yang datang seringkali seseorang tak mampu menyelesaikan dengan solusi tepat hingga cenderung mengambil solusi yang tidak solutif dan menimbulkan berbagai masalah baru.

 

Sistem kapitalisme saat ini membuat ibu tidak menyadari perannya sebagai Ibu yang berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi edukasi dan pengatur rumah tangga yang berkaitan dengan pemenuhan fungsi-fungsi keluarga yaitu fungsi reproduksi (berketurunan), proteksi (perlindungan), ekonomi, sosial, edukasi (pendidikan), afektif (kehangatan dan kasih sayang), rekreasi, dan fungsi reliji (keagamaan). Kapitalisme yang tengah mencengkram keluarga membuat suami pun tidak menyadari perannya sebagai pemimpin dalam rumah tangga yang harus mengarahkan keluarga yang dipimpinnya..

 

Islam: Kembalikan Fitrah Ibu

 

Sesungguhnya Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna telah memberikan posisi terbaik bagi perempuan yaitu sebagai pendidik dan pengelola rumah tangga. Dan negara yang menjaga ketakwaan individu akan menjamin terlaksananya peran ini dengan membekali para ibu agar mampu menjalankan tugas sebagaimana mestinya.

 

Seorang ibu adalah malaikat tak bersayap yang diciptakan untuk menjaga anaknya. Tentu kita tidak asing dengan kalimat tersebut. Dan benar saja, di dalam Islam kedudukan menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Bahkan disebutkan Rasulullah SAW syurga ada di telapak kaki ibu. Karena lelahnya merawat anak dan suami adalah pahala yang dapat menghantarkannya ke syurga. Tentu kita juga tidak asing dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda;

Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak kuperlakukan dengan baik?” beliau berkata, “ibumu”. Laki-laki itu kembali bertanya, “kemudian siapa?” tanya laki-lai itu, “ibumu”, “kemudian siapa?” tanya laki-laki itu, “ibumu”, “kemudian siapa? Tanyanya lagi. “kemudian ayahmu” jawab beliau”.

 

Seorang ibu adalah pendidik paling handal di dunia. Tanpa perannya tidak akan lahir  generasi gemilang penerus masa depan. Dengan sifatnya yang lembut penuh kasih sayang mengurusnya sewaktu kecil, seorang anak akan merasa nyaman dalam dekapannya, yang notabene tidak dimiliki oleh seorang laki-laki. Oleh karena itu akan berbeda kualitas seseorang yang hanya dirawat oleh ibu, dengan seseorang yang dirawat oleh seorang ayah.

 

Begitu penting dan krusialnya peran seorang ibu, untuk itu Allah janjikan syurga tatkala bisa mencetak generasi anak-anak yang sholeh dan sholehah yang mampu memperjuangkan agama Islam dan melanjutkan peradaban Islam.

 

Begitu juga dengan suami yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai pemimpin, pengurus, dan pendidik perempuan juga berkewajiban memenuhi kebutuhan para istri dengan makruf, mengarahkan mereka pada kebaikan dan melindungi anggota keluarga. Selain itu kehangatan dan kasih sayang akan memberi pengaruh pada keharmonisan rumah tangga, jika ada hal yang memicu terjadinya pertengkaran maka pertengkaran itu dilakukan dengan tidak melanggar hukum syara dalam artian tidak saling mendzalimi dan keduanya berusaha mencari jalan keluar mengacu kepada aqidah dan syariat.

 

Peran ini akan berjalan dengan baik jika negara memfasilitasi segala upaya pengembalian fungsi keluarga dengan membina kualitas para suami istri hingga keduanya paham dan sadar dengan hak dan kewajibannya. Satu-satunya negara uang dapat memenuhinya hanyalah negara uang menerapkan hukum Allah. Adalah Khilafah Islamiyah akan mengembalikan peran ibu dan suami sebagaimana yang telah ditetapkan Islam. Dengan sistem inilah setiap keluarga akan meraih kebahagiaan hakiki. Wallahu a’lam bi as-shawab.

 

Fifit Maria

 

 

 

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.