6 Desember 2022

Dimensi.id-Jagad raya sosmed dikagetkan oleh pernyataan seorang pendeta yang menistakan al-Qur’an. Sebagai seorang Muslim, tidak terima dan marah itu wajar sebagai bukti dari keimanan, karena Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya. Bukan Al-Qur’an yang harus direvisi tapi pemikiran manusia yang lemah dan banyak salah harus dirubah agar sesuai dengan kebenaran hakiki yang bersumber dari al-Qur’an. Ego dan kesombongan manusia telah membutakan mata dan telinga, sehingga mereka tidak mampu melihat kebenaran hakiki. Bukan nikmat yang didapat, tapi murka Allah dan sejauh kesesatan, karena sudah menolak kebenaran. Seburuk-buruk tempat kembali, yakni neraka jahanam bagi mereka yang ingkar dengan ayat-ayat suci yang diturunkan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Tapi sebagian umat Islam yang selama ini keras dengan saudara seaqidah, tapi kenapa begitu toleran pada penista agama, yang harusnya dijadikan musuh bersama. Seorang pendeta yang tidak waras mengajukan revisi 300 ayat dalam al-Qur’an kepada kemenag. Yang lebih aneh lagi kemenag seolah membiarkannya sebagai bentuk kebebasan berbicara, bahkan mengutukpun tidak. Orang seperti ini harusnya dilaporkan, dan dihukum seberat-beratnya agar memberikan efek jera bagi yang lain, sehingga di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim tidak ada lagi yang menistakan agama Islam. Seolah ada pembiaran dilakukan oleh penguasa, sehingga penista agama tumbuh subur, dan menjamur di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim.

Menteri agama memang untuk seluruh rakyat, namun ingat negeri ini mayoritas muslim, tidak seharusnya dia membuat masalah dengan umat Islam. Mengusik suara adzan dan menganalogikan dengan gonggongan anjing sungguh melukai umat Islam. Muslim sejati pasti akan membela agamanya, bukannya tidak toleran atau tidak moderat, tapi itulah perintah Allah. Membela kebenaran hakiki yang diyakini benar bukanlah satu kesalahan, dan bahkan itulah kebenaran yang harus dijunjung tinggi. Membiarkan agamanya dihina dan dinista bukanlah sikap muslim sejati, dan bagaimana bisa sikap lebih toleran ditampakkan pada para penista agama, tapi keras dan intoleran pada umat yang mayoritas di negeri ini dengan sebuatan garis keras, radikal dan bahkan membiarkan ide gila bersliweran di sosial media yang menyakiti umat Islam

Islam tidak untuk dibandingkan dan diperdebatkan, tapi Islam harus diyakini benar, tidak sedikitpun keraguan. Ajaran moderasi hanya akan mendangkalkan keyakinan dengan menganggap semua agama benar. Islam harus diambil dan dilaksanakan untuk mengatur hidup secar kaffah, bukan setengah-setengah tidak pula mencampur adukkan keyakinan.Menjaga perasaan agar tidak menyakitkan, tapi jangan menyamarkan satu kebenaran. Terkadang, kebenaran itu pahit dan menyakitkan, tapi harus disampaikan apa adanya, bukan dimodifikasi atau dirubah agar menyenangkan banyak orang.

Toleran dalam Islam jelas dan tegas seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Kafirun. Kita tidak boleh mengikuti tata cara peribadatan agama lain, tidak pula kita memaksakan mereka untuk mengikuti keyakinan kita. Jangan alasan toleransi, kita ikut mereka dan menganggap semua agama benar. Hanya Islam agama yang diridhoi Allah. Tidak kita ikutan menyembah apa yang mereka sembah. Umat Islam meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah. Artinya, apapun yang dibawa rasullulah adalah kebenaran yang tidak ada sedikitpun keraguan. Semua sumber hukum Islam termasuk Al-Qur’an harus dijadikan landasan berfikir dan bertingkah laku. Tidak boleh mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lain. Dalam berislam harus kaffah, tidak boleh setengah-setengah.

Jika ada perbedaan umat Islam yang ibarat satu tubuh harus mengembalikan pada Allah dan rasulNya. Saling menghormati selama ada dalil yang bersumber pada hukum Islam. Jangan menhujat dan suka menyalahkan tanpa landasan ilmu. Islam harus dijadikan rujukan, jika memang benar harus diterima dan jika salah harus mengakui kesalahan dan beristighfar. Saling menasehati untuk menemukan kebenaran hakiki agar tidak merugi. Jaga ukhuwah Islamiyah, saling menghormati dan memahami, bukan memusuhi.

Bagaimana bisa kepada musuh yang jelas menghina Islam dibiarkan saja. Pada sesama muslim begitu keras dengan menggagalkan berbagai pengajian yang dianggap radikal tanpa ada tabayun terlebih dahulu. Tapi dengan orang kafir yang jelas ingin menistakan agama Islam tidak segera ditindak keras, ditangkap dan dihukum berat. Inikah ajaran moderasi dan toleransi dalam sistem demokrasi yang hanya keras pada Islam.

Umat Islam harus semakin dewasa dan waspada dengan politik adu domba yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Umat jangan terbawa emosi dan saling menyalahkan, tapi saling memahami perbedaan terutama pada saudara sendiri se-aqidah. Rekatkan hubungan ukhuwah Islamiyah, dengan meninggalkan kebencian pada satu golongan yang memiliki pandangan berbeda. Kembalikan pada dalil hukum Islam setiap ada perbedaan dan saling menghargai dan menghormati, bukan menyalahkan karena merasa paling benar. Harusnya kita lebih toleran pada sesama Muslim, dan keras pada orang kafir yang berani menghina dan mencoba mencampuri urusan kaum Muslimin. Tangkap dan hukum seberat-beratnya mereka yang berani merubah al-Qur’an dan memfitnah Allah dan RasulNya, Muhammad SAW. Toleransi yang semu selama mereka, para penista agama dibiarkan berkeliaran dan melakukan aksinya dengan dalih kebebasan berbicara. Tapi inilah demokrasi yang tidak mampu menindak tegas mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan, meskipun tindakannya sudah menyakiti umat mayoritas di negeri ini. Saatnya kembali pada sistem khilafah yang akan menjaga aqidah umat, serta menjamin keadilan hukum dan kesejahteraan untuk seluruh rakyatnya. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.