7 Desember 2022

Dimensi.id-Keburukan akan mudah menginspirasi jika dibiarkan dan diviralkan. Ketegasan pemimpin dalam menjaga aqidah rakyatnya agar tidak tersesat adalah kunci utama. Tapi, berharap dari sistem demokrasi adalah ilusi. Pemimpin hanya peduli dengan kursi kekuasaan, tidak perduli dengan rakyatnya hidup dalam kemiskinan ataupun kesesatan karena aqidahnya terancam. Moderasi beragama telah membiarkan nikah beda agama, padahal jelas dalam aturan, tidak boleh dan haram baik dalam pandangan hukum Islam, maupun hukum positif di satu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Inikah inti dari ajaran moderasi yang selama ini giat diajarkan untuk mencampur adukkan keyakinan dan mendangkalkan aqidah umat.

Mencintai lawan jenis adalah naluri, namun naluri harus dikendalikan dengan Islam agar potensi ini bisa membawa kebaikan sesuai dengan petunjukNya, tidak sebaliknya membawa pada kerusakan. Bukankah tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah SWT. yang sudah menciptakan manusia dengan potensi yang dimilikinya dan nikmat yang luar biasa. Manusia akan menjadi sebaik-baik makhluk jika mereka beriman, bertaqwa, dan berbuat banyak kebaikan. Sebaliknya, mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah, dengan mengedepankan naluri dan nafsu, akan mudah tergelincir dan jatuh pada kekufuran serta menjadi seburuk-buruk makhluk.

Menikah beda agama dipertontonkan dan viral di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Larangan Menikah beda agama sudah jelas disepakati para ulama’, tidak ada perbedaan diantara imam empat madzab, namun tiba-tiba muncul di media sosial dan nenjadi perbincangan, dan seolah ada pandangan yang membolehkan. Bahkan larangan menikah beda agama ada dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah Ayat 221. Allah berfirman, “Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. Tidak hanya itu, para ulama’ sepakat tentang keharaman menikah beda agama.

Jelaslah bagi kita, menikah beda agama tidak sah, artinya pernikahan yang dilakukan tidak bisa menghalalkan mereka sehingga hubungan yang mereka lakukan adalah dosa besar, zina. Memilih pasangan beda keyakinan, sungguh tidak akan membawa kebaikan di dunia maupun di akhirat. Marak dan viralnya menikah beda agama sungguh menyesatkan dan tidak layak untuk diikuti. Sungguh, aneh di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, pernikahan beda agama terkesan dibolehkan karena negara membiarkannya, sebagai bentuk ajaran moderasi beragama. Sungguh menyesatkan dan sangat berbahanya bisa mempengaruhi mereka terutama para remaja yang suka meniru yang lagi viral. Mereka masih dalam proses mencari jati diri apalagi bagi mereka yang pemahaman agamanya kurang mendalam. Sesuatu yang viral belum tentu benar bahkan malah sering menyesatkan. Sesuatu yang nyleneh dan menyimpang sering menjadi viral, karena sesuatu yang aneh biasanya manarik perhatian banyak orang. Sebagai muslim sejati, viral bukan tujuan dengan memghalalkan segala cara, namun viral hanyalah cara agar banyak orang bisa terinsiprasi dengan kebenaran Islam, bukan sesuatu yang menyesatkan.

Tapi inilah demokrasi, yang haram bisa jadi halal, sementara yang wajib masih bisa dipermasalahkan dan diperdebatkan dengan dasar akal manusia yang lemah dan banyak salah. Agama dianggap sesuatu yang nisbi, hasil pemikiran dan perenungan manusia. Tapi sungguh itu tidak berlaku untuk Islam, yang berasal dari Wahyu, Al-Khalik yang menciptakan manusia. Al-Qur’an adalah kalamullah yang sempurna dan tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Pemikiran manusia harus tunduk pada al-Qur’an, bukan sebaliknya sungguh bodoh dan jahil serta orang-orang yang melampaui batas, hendak merevisi kitab suci yang sempurna, dan tidak ada sedikitpun keraguan didalamnya. Adzab pedih pasti akan didapat atas kesombongan dan kebodohan mereka yang berani menghina dan menistakan Islam.

Hidup ini pilihan, mau kafir atau taat pada aturan Allah tidak ada paksaan di dunia ini. Namun saat kita sudah putuskan untuk beriman dan Islam menjadi agama kita, tidak boleh sedikitpun meragukan al-Qur’an meskipun hanya satu ayat saja. Kalau mau murtad dan kafir, jangan coba-coba untuk merubah atau menghapus ayat-ayat al-Qur’an, karena Allah yang telah menurunkan melalui hamba-Nya, Muhammad SAW, dan Allah juga yang menjaganya sampai akhir zaman.

Memang saatnya kita kembali pada sistem Islam yang akan menjaga akidah umat, serta menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Bukan makar, tapi inilah keinginan logis dan cita-cita besar bagi seorang Muslim sejati yang ingin diatur dengan Islam secara kaffah. Tidak ada lagi penista agama berseliweran di sosial media karena hukum tegas dan keras pada mereka yang berani menistakan ajaran Islam, bahkan meskipun hanya satu ayat saja. Hak dasar rakyat terjamin dalam sebuah negara yang mampu menerapkan Islam secara kaffah. Apakah salah seorang muslim sejati mengharapkan terwujudnya kehidupan Islami yang tidak hanya memberikan kebahagiaan di dunia tapi juga kehidupan akhirat, sebaik-baik tempat kembali, surgaNya. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.