6 Desember 2022

Dimensi.id-Isu radikalisme mulai diangkat lagi meskipun tidak laku karena umat semakin cerdas dan mengerti bahwa itu hanya untuk mendeskreditkan Islam. Umat yang berpandangan lurus yang taat pada Allah dianggap radikal. Tuduhan tidak berdasar dan fakta mulai dicari untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Islamophobia terus dihembuskan agar perlahan umat takut dan menjauhi agamanya sendiri. Bagaimana bisa ada tuduhan masjid sebagai sarang radikalisme karena ditemukan bunker dibawah masjid yang berisi senjata. Tapi tuduhan yang tidak berlandaskan fakta, alias hoax akhirnya terbongkar dan tidak terbukti kebenarannya.

Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo melaporkan Bupati Ahmad Muhdlor ke Polda Jatim. Laporan ini terkait statemen bupati yang menyebut ada bunker senjata di salah satu masjid di Kecamatan Sedati. “Apa yang disampaikan Gus Mudlor kita tindak lanjuti sebagai penyesatan pembohongan publik. Ini sudah menyebarkan informasi hoax yang harus kita sikapi dengan mengambil langkah hukum,” kata Ketua Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo, Adit Hananta Utama, saat di SPKT Polda Jatim, Jumat (25/2/2022). (SURABAYA | duta.co,)

Begitu pula mereka yang belajar di pondok sempat menjadi korban fitnah, meskipun pada akhirnya mereka yang memfitnah meminta maaf karena tidak menemukan bukti atas tuduhannya. Bahkan good looking yang suka mengaji dan beraktifitas di masjid dicurigai mempunyai paham radikal. Tuduhan tidak didukung bukti yang jelas, jatuhnya fitnah karena hanya dilandasi asumsi. Ketika tuduhan yang tidak terbukti kebenarannya dilakukan penguasa, cukuplah minta maaf dan urusan dianggap selesai, namun ketika yang membuat hoax rakyat biasa apalagi tidak disukai penguasa diproses hukum secara cepat karena sudah dianggap menyebar kebohongan dan membuat kegaduhan. Sungguh, negeri yang banyak ditemukan para penjilat yang ingin mencari aman dan cipratan kekuasaan.

Masjid adalah baitullah, tempat berkumpulnya orang-orang taat. Mereka berkumpul bersama untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Lalu, bagaimana ada sebuah tuduhan radikal, dengan narasi yang meyakinkan, ditemukan bunker berisi senjata. Sungguh, tuduhan keji ternyata hanya asumsi dan tidak terbukti kebenarannya. Apalagi, mendekati bulan Ramadhan, masjid diramaikan dengan tadarusan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an diperdengarkan dengan memggunaka toa, sehingga mampu melembutkan hati yang keras dan menyadarkan mereka dari nafsu untuk mengejar dunia. Lalu, mana radikalnya, bukankah masjid akan membawa kesadaran untuk mengatur hidup ini dengan Islam. Duduk di Masjid untuk tafakkur, berfikir secara mendalam tentang hidup sehingga terciptalah kesadaran hubungan dengan Tuhannya yang sangat kuat.

Harusnya tempat-tempat yang menjadi sumber maksiat yang harus dibabat habis agar kehidupan Islami bisa tercipta dalam kehidupan yang nyata. Tempat pelacuran menjamur, dibiarkan padahal inilah sumber masalah. Mereka yang melakukan korupsi tidak dimusuhi begitu pula oligargi yang membuat negeri banyak merugi. Harusnya yang jelas menyebabkan masalah dijadikan musuh bersama. Tuduhan radikal dan timbuhnya bibit-bibit radikalisme pada masjid jelas tidak masuk akal, tidak berdasarkan fakta tapi lebih pada asumsi dan mengedepankan kebencian pada umat Islam.

Gerakan bersenjata yang ingin memisahkan diri dari NKRI malah dirangkul, padahal mereka jelas bisa melakukan kekerasan, bahkan sudah membunuh aparat. Kenapa mereka tidak ditumpas, tapi mereka yang baru terduga teroris malah bisa ditangkap tanpa proses hukum, bahkan bisa ditembak di tempat. Tertembaknya seorang dokter muslim sungguh membuat miris bagi kita semua karena begitu mudah darah tertumpah hanya baru berstatus tersangka, belum terbukti bersalah. Ketidak adilan sungguh dinampakkan nyata didepan mata, yang nyata menjadi sumber masalah dibiarkan namun mereka yang kritis dikikis habis. Inikah negeri demokrasi yang katanya memberi kebebasan menyampaikan pendapat. Kebebasan hanya punya penguasa dan oligargi, orang-orang dilingkaran kekuasaan. Mereka bebas menista agama, menyebar fitnah dan hoax tanpa tersentuh hukum. Rakyat harus turun ke jalan untuk mendesak proses hukum mereka yang bersumbunyi dibalik jabatan dan kekuasaan. Sementara saat rakyat biasa menyingung penguasa, mudahnya hukum menjerat mereka dengan tuduhan ujaran kebencian dan sudah membuat kegaduhan.

Masihkah kita pertahankan sistem yang tidak menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Segelintir orang, oligargi menguasai kekayaan negeri ini, sementara rakyat semakin susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi, dan kelangkaan barangpun terjadi di negeri yang memiliki kekayaan alam bagaikan penggalan tanah surga. Aset negara sudah terjual, sementara hutang luar negeri semakin tinggi diluar nalar. Apa yang sudah dilakukan mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Mereka hanya bisa menikmati uang rakyat, tanpa bisa memberikan solusi untuk rakyat agar hak-hak mereka terjamin dan terpenuhi. Negera dalam cengkraman kapitalis dan oligargi, tidak berdaya untuk membuat rakyat hidup sejahtera.(ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.