6 Desember 2022

Lagi, ‘penertiban’ kontroversi  untuk umat Islam. Meski sebelumnya pemerintah sudah mengeluarkan aturan tentang pengeras suara adzan, seperti pada Instruksi Ditjen Bimas Islam dalam keputusan No KepVDV191V1978 juga Surat Edaran dari kementrian RI SE B. 3940/DJ.M /HK  007/08/2018, kini dikeluarkan lagi surat penertiban adzan. Terkesan selama ini pelaksanaan adzan tidak mengikuti aturan yang ada. Seolah ada kekhawatiran suara adzan mengganggu warga sekitar dan merusak toleransi. Sehingga Menag Yaqult perlu mengeluarkan lagi  surat edaran No SE 05 Tahun 2022.

 

Berbeda dari surat penertiban sebelumnya, kali ini  Menag Yaqult sepertinya ingin memberi filosofi yang mendasari  dikeluarkannya surat edaran adzan tersebut. Namun sayang, filosofi tidak disampaikan dengan tepat bahkan cenderung merendahkan adzan. Merendahkan adzan sebagai syiar Islam itu ada pada analogi yang dipakai, dengan  analogi gonggongan anjing.  Publik pun mengecam hingga meminta sang mentri untuk mundur dari jabatannya. Namun yang perlu difahami adalah kemarahan umat ini tidak sekedar pada analogi yang bermasalah, namun kita melihat ada masalah yang jauh lebih besar dari semua ini. Apa itu?

 

Yaitu paham sekulerisme yang telah diadopsi (diambi) dalam kehidupan oleh sebagian besar orang termasuk para penguasa.

 

Analogi Yang Bermasalah

Menurut KBBI analogi artinya persamaan atau persesuaian antara dua benda dan atau hal yang berlainan, kias. Tujuan penggunaana analogi itu untuk membatu pendengar memahami sudut pandang kita. Maka yang perlu diperhatikan tentang analogi adalah memastikan kesamaan bentuk (isomorfis) antara yang dijelaskan dengan analoginya.

 

Analogi juga perlu memperhatikan empati, melihat dan merasakan sudut pandang orang yang diajak bicara. Harapannya analogi bisa masuk dan diterima dengan baik. Berikutnya analogi perlu ekologis, tidak menyerang nilai atau keyakinan seseorang. Maka seseorang yang bisa menggunakan analogi dengan melibatkan 3 hal (isomorfis, empatik, ekologis), tersebut adalah pribadi yang cerdas dan bijak. Jika yang terjadi hari ini (suara adzan dianalogikan dengan suara anjing), sudahkah memenuhi kriteria isomorfis, empatik dan ekologis?

 

Suara adzan dan gonggongan anjing sama-sama suara  dan sama- sama mengganggu (buat yang tidak suka). Sisi isomorfisnya  sudah tidak sepadan. Akhirnya yang muncul adalah asumsi tidak suka suara adzan sama seperti tidak sukanya dengan gonggongan anjing. Karena isomorfis tidak sepadan, selanjutnya membuat orng tersinggung (tidak empatik).

 

Orang bisa memahami apa iya adzan panggilan muadzin untuk sholat disamakan dengan gonggongan binatang anjing yang tidak punya makna apapun. Sangat merendahkan, tidak ekologis. Wajar akhirnya pernyataan mengatur suara adzan dengan analogi demikian menuai kecaman publik. Hal ini tidak bisa dipungkiri meski pihak-pihak yang mendukung pengaturan adzan/Toa ini mencoba meluruskan seperti, tidak ada niatan menyamakan dengan suara anjing.

Sebenarnya apa yang menjadi penyebab semua ini terjadi?

 

Persoalan Utama Pada Sekulerisme

 

Sekulerisme adalah pemahaman yang memisahkan agama dengan kehidupan. Ini adalah pemahaman yang batil, dimana agama  dengan segala  bentuknya baik berupa simbol, kalimat toyyibah atau aktivitas apapun cukup dilaksanakan  diranah privat. Jika keluar ke ranah publik akan terus dipantau atau diatur. Dampak sekulerisme ini pada akhirnya membuat umat Islam jauh dan tidak peduli dari agamanya. Ini yang seharusnya menjadi perhatian pejabat negri.

 

Sebagai penduduk mayoritas di negri ini, umat Islam tidak mendapatkan apa yang menjadi haknya kecuali dalam masalah ibadah ritual. itupun masih dibatasi, mulai dari melaksanakan kewajiban syariat yang dituding dengan tuduhan radikal, berdakwah dibatasi dengan sertifikasi masjid, perlakuan diskriminasi dengan mengelompokkan  penceramah radikal hingga masalah jilbab, cadar, suara adzan pun di persoalkan.

 

Semua hal tersebut mengkonfirmasi bahwa telah berlangsung sekulerisasi di negri ini. Jelas yang sangat berdampak adalah umat Islam karena Islam justru menjadikan agama sebagai  aturan dalam setiap relung kehidupannya.

 

Kemuliaan Islam dan umatnya ada dalam Khilafah

Dalam Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah tentang adzan adalah bahwa adzan merupakan syiar Islam. Imam An-Nawawi menyebutkan sejumlah hikmah dari adzan adalah menampakkan syiar Islam, berisi kalimat tauhid, pemberitahuan masuknya waktu sholat, serta doa bagi jamaah (Syarah an Nawawi’ala Muslim, 4/77, Maktabah Syamilah). Suara adzan akan menjadi saksi nanti di akherat .

 

Nabi bersabda: ” Tidaklah suara adzan yang keras dari seorang muadzin didengar oleh jin, manusia dan segala sesuatu melainkan itu semua akan menjadi saksi bagi dirinya pada Hari Kiamat” ( HR Al Bukhori). Rosulullahpun bersabda “Jika waktu sholat telah tiba, salah seorang diantara kalian hendaknya mengumandangkan adzan untuk kalian dan yang paling tua diantara kalian mengimami kalian” (Muttafaq alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/111 no. 631)], Shahiih Muslim (I/465 no. 674).

 

Khilafah pun akan memastikan setiap warga negaranya baik muslim dan non muslim bisa melaksakan kewajiban agamanya dengan sempurna. Saatnya Islam dan umat Islam mendapatkan kemuliaannya dengan mencampakkan sekulerisme. Tentunya dengan menegakkan Khilafah yang akan menjadi junnah dan pemersatu umat . Wallahua’lam Bisshowab.

 

Penulis: Nuha

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.