7 Desember 2022

Dimensi id-Lakon hidup seseorang, tidak selalu sesuai dengan keinginan. Hidup susah tidak seorangpun mau, tapi itulah jalan hidup yang harus dijalani. Bersabar dan mensyukuri setiap nikmat dalam hidup adalah pilihan tepat agar hidup selalu bahagia meskipun dalam kekurangan. Lakon hidup mas Agus yang lebih dikenal dengan panggilan Cukong, berubah drastis setelah kecelakan hebat hampir merebut nyawanya menimpa hidupnya. Dia sekarang tidak bisa normal seperti dulu. Untunglah dia masih bisa berjalan dan juga bersepeda ontel, meskipun tidak sesigap dan cekatan sebelum kecelakaan itu terjadi.

Takdir berkata lain, keluarga kecil yang dikaruniai satu anak akhirnya harus berakhir. Sang istri tidak sabar menghadapi kenyataan sehingga memutuskan pergi meninggalkan cukong dan anaknya. Bersama orang tuanya yang sudah mulai renta dan tidak lagi mampu bekerja, mereka tinggal di rumah yang berdiri diatas tanah yang bukan miliknya. Artinya, sewaktu-waktu mereka harus pindah dan tidak tahu harus pergi kemana. Tapi, semua itu tidak menjadi beban pikirannya. Cukong terlihat bahagia dengan senyum khasnya, meskipun tidak banyak yang suka padanya. Dia terus mengayuh sepeda bututnya, setiap pagi hingga siang untuk mencari cacing. Sungguh, mulia mas cukong yang terus mencari cacing untuk bisa bertahan hidup meskipun tidak ada kepastian tempat tinggalnya yang sewaktu-waktu harus pergi meninggalkannya. Bangga dan salut, mendengar perkataannya yang merasa senang bisa hidup dengan uang halal, meskipun harus dilakukan di tempat kotor dan menjijikkan bagi kebanyakan orang.

Mas cukong meskipun susah tetap bahagia karena dengan keterbatasannya dia diberi kesempatan mencari penghasilan halal dengan mencari cacing. Dia dengan sigap mencari cacing di tumpukan kotoran sapi yang sudah hancur berubah menjadi tanah. Disana banyak ditemukan cacing-cacing yang sebagian orang merasa jijik dan geli, tapi bagi mas cukong itulah sumber rezeki. Terus dia menggaruk tumpukan kotoran binatang yang sudah hancur dan berubah menjadi tanah. Satu persatu cacing dia kumpulkan dengan penuh rasa bahagia, karena cacing tadi bisa dijual ke pak Mulyono, penjual alat pancing dan juga cacing sebagai umpan untuk menancing.

Hari itu mas cukong terlihat sedih dan gundah, entah apa yang membuat raut wajahnya tidak seperti biasa. Setelah mencari cacing dan menjualnya ke pak Mul Pancing, dia biasanya merasa bahagia bercengkrama di bengkel pak Imam. Biasanya, dia berbicara dengan riangnya, dan sesekali digoda orang disekitarnya, karena omongannya yang terkadang mengembara kemana-mana yang membuat orang lain tertawa, dan tidak jarang membuat orang marah. Namun, hari itu, dia terlihat murung, sepertinya ada beban masalah yang sulit untuk diselesaikan.

Rupanya dia dapat, surat pemberitahuan bahwa dia harus mengosongkan tanah yang diatasnya berdiri rumahnya dan dia hidup bertahun-tahun dengan keluarganya disana. Tapi, dia menyadari dia tidak memiliki hak dengan tanah yang diatasnya telah berdiri gubuk kecil untuknya tinggal bersama bapak dan anaknya. Terlihat dia sedang mengerutkan dahi yang disisinya terlihat mencekung akibat dari kecelakaan dulu. Dia tidak tahu harus bagaimana sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang dan dengannya dia mencurahkan seluruh permasalahan hidupnya.

Terlihat dia menenangkan mas Cukong dan berkata, “Kan, masih ada waktu satu bulan untuk pindah. Nanti akan saya rundingkan dengan semua pengurus dan warga” Terlihat mas Cukong, manggut-manggut tanda bahwa sepakat dengan solusi yang ditawarkan salah satu warga di desa buncitan RW 02. Satu bulan sebelum, jatah waktu diberikan untuk pindah rumah, sudah terkumpul dana dari warga yang baik dan perduli dengan nasib mas Cukong dan pak Saimin. Terbangunlah, sebuah rumah diatas tanah milik desa, atas izin dan kebaikan pak lurah. Sebuah rumah kecil boleh didirikan disana, disebelah tempat pembuangan akhir sampah. Meskipun, banyak lalat tapi mas cukong sekeluarga terlihat bahagia dengan gubuk kecil yang merupakan hasil patungan dana warga dan kebaikan pak lurah yang sudah mengizinkan untuk membangun rumah untuk mas Cukong di atas tanah desa.

Sebelum rumah siap untuk dihuni, ada satu warga yang baik bernama pak Lindung yang mengizinkan mas cukong tinggal di tempat kosnya, gratis tanpa dipungut biaya. Kebaikan warga untuk membantu telah meringankan beban mas Cukong, namun demikian tidak menghentikanya untuk terus semangat bekerja mencari cacing. Ada sebagian warga yang memberikan bahan makanan pokok, seperti beras, gula, minyak dan mie instant.

Dalam proses pembangunan rumahnya, banyak uluran tangan warga yang ikut membantu mulai dari bentuk tenaga,bahan bangunan sampai ada yang menyediakan kendaraan secara gratis. Sungguh, luar biasa warga yang perduli ikut berkontribusi dalam pembangunan rumah, dan kebutuhan mendasar seperti listrik dan juga sumur untuk mas Cukong dan ayahnya, pak Saimin.

Pada suatu hari mas Cukong menitipkan anak semata wayang dengan bantuan pengurus warga setempat ke panti asuhan. Bukan berarti mas Cukong tidak cinta pada anaknya, Angga, namun dia ingin anaknya dapat pengawasan dan pendidikan, serta tempat tinggal yang layak disana. Dia menyadari dengan keterbatasannya, tidak bisa membuat sang anak mendapatkan pendidikan yang terbaik untuk meraih cita-citanya setinggi yang dia inginkan dan agar mendapatkan masa depan yang cemerlang.

Sungguh salut dengan mas Cukong yang selalu bersyukur dengan keterbatasannya. Dia sangat senang bisa menjemput rezeki Allah setiap hari dengan cara yang halal. Sementara, diluar sana, banyak orang memilih cara haram untuk memenuhi keinginan dan tuntutan nafsu mereka. Mereka mempunyai kemampuan meraih rezeki dengan cara halal, tapi kenapa memilih cara yang tidak dibenarkan dalam agama Islam. Untuk apa mobil mewah, rumah megah, perhiasan dan uang tersimpan di bank, tapi semuanya tidak bisa membuat bahagia. Hidup resah dan tidak bahagia, karena sudah melanggar syariatNya. Padahal, semua yang dimiliki akan segera ditinggalkan saat jatah rezeki sudah habis dan kematian datang menjemput. Betul, kata pak Saimin, bahwa nanti manusia akan menjadi batang ( tubuh yang sudah mati dan mulai menebarkan bau basuk jika dibiarkan, oleh karena itu janganlah meninggalkan bau busuk selama hidup dengan berbuat keburukan dan kemaksiatan, tapi ciptakan bau Bunga yang harum dengan berbuat banyak kebaikan. Jejak kebaikan yang tercipta adalah bekal kita nanti setelah mati dan semoga kita layak mendapatkan sebaik-baik tempat kembali, di surgaNya. (ME)

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.